Bully (6): Pembalasan

Kisah berikut ini terlintas, ketika saya mengerjakan tugas menulis dari Puthut EA, di Buku Catatan untuk Calon Penulis. Bukan dia yang menyuruh sih. Kan bukunya gratis, hadiah lomba menulis 😎. Mesti dibaca dan kerjakan supaya dapat manfaatnya 😉

Pada poin ketiga, diminta menuliskan kisah sakit hati. Saya menuliskan mengenai kejadian 18-19 tahun lalu, saat masih kuliah. Tiba-tiba malam itu terasa menegangkan, membayangkan scene diputar saat saya masih culun dan jadi bahan tertawaan teman-teman seproyek kerja (sampingan).

Saya dirisak habis-habisan di suatu malam. Huruf apapun yang keluar dari mulut saya, seperti bola yang ditendang-tendang oleh para pemain kesana kemari. Saya masih sempat melawan, meski kemudian akhirnya menyerah, kedudukan sangat tidak imbang. Sendirian melawan sekitar lima orang, sepertinya lebih, yang terus menerus ‘menelanjangi’ kebodohan saya 😕

Continue reading Bully (6): Pembalasan

Apakah Tuli Sebuah Disabilitas?

Disclaimer: Artikel ini adalah terjemahan hampir penuh, tanpa ada penambahan materi terkait seperti biasanya (ke dalam artikel). Artikel terkait, saya sisipkan sebagai tulisan tersendiri dan sebagai tambahan.

Di tahun 1930an dan 1940an, pasangan dan tim suami istri, Fritz dan Grace Heider, melakukan penelitian pendidikan di Clarke School for the Deaf, Massachusetts. Meski sekolah untuk para tuli sudah ada di Amerika selama sekitar dua abad, mereka memberikan instruksi dalam bahasa isyarat lokal, sehingga lulusannya menghabiskan hidupnya dalam lingkungan tuli yang terisolasi 😐

Marion A. Schmidt*, ahli sejarah psikologi, menyampaikan informasi lain, bahwa Clarke School sudah membaru dan progresif, misinya adalah mengintegrasikan anak tuli ke dalam komunitas mainstream. Untuk itu, penggunaan bahasa isyarat dilarang dan para murid diajarkan untuk berbicara dan atau membaca bibir.

Pasangan Heiders menemukan bahwa anak-anak tuli ini matang secara sosial dan mampu menyesuai dengan baik pada teman dengarnya. Dengan kata lain, menjadi tuli tidak menghalangi perkembangan sosial dan kognitif mereka. Anak-anak tuli ini menggunakan bahasa isyarat antar mereka ketika tidak ada guru 😁

Baca: Deaf Resonance

Pasangan Heiders mempublikasikan hasil penelitian mereka dalam bentuk makalah berseri. Sayangnya, pihak administrasi sekolah tidak berkenan dengan laporan tersebut. Heiders kemudian memutuskan hubungan dengan pihak sekolah.

Continue reading Apakah Tuli Sebuah Disabilitas?

Camus (2): Couple Goals

Salah satu bagian krusial dari membesarkan anak difabel adalah posisi pasangan (baca: bapak). Kalau posisi ibu, sudah tidak diragukan lagi, ada di mana 😊 Meski ada kasus ibu emoh dengan anaknya yang berkebutuhan khusus, jumlahnya tak semengkuatirkan jumlah bapak yang lari atau tak mau bertanggungjawab 😑

Seringkali, lelaki terstigma sebagai kaum yang mau enaknya sendiri dan males mikir. Nyatanya, banyak juga kok bapak yang ikut berjibaku bersama sang ibu, menemani naik turun dan suka dukanya. Sebenarnya para bapak itu bukan males mikir, tapi mereka berpikir ala planet Mars 😁

Perempuan, konon perlu bicara hingga 20 ribu kata dan lelaki hanya 7 ribu kata. Kita, kaum baper, yang memiliki kebutuhan khusus dengan berbicara, demi menumpahkan segala resah dan gundah. Lelaki, saat diminta untuk bicara panjang lebar, mereka yang males rame akan berdalih, “Kuota bicaraku sudah habis. Besok aja,” 😅

Continue reading Camus (2): Couple Goals

Ini, Bapa (3)

Cantik
“Tadi, aku lihat ada anak pakai baju biru, jalan ke arah Kuwak (nama kolam renang),” cerita Bapa di rumah.

“Aku?” tanyaku tak yakin.

“Kulihat dari kejauhan kok ayu, tibane anakku,” beliau tambahkan dengan antusias.

Aku tersipu 🤭

Angin dan senyap
“Kamu nunggu di sini atau ikut Bapa turun?” tanya Bapa, suatu malam selepas isya. Aku ikut di mobil biar bisa jalan-jalan. Jenuh dengan persekolahan seharian.

“Emoh ah, pembicaraan orang dewasa. Aku tidur aja,” tolakku.

“Yowes, tunggu ya,”

“Ojo suwi-suwi,” pesanku.

“Ora.”

Tinggallah aku sendiri di dalam mobil, di jok belakang. Awalnya aku menyetel musik, tapi jalanan senyap dan aku takut kaget, jadi musik kumatikan. Mencoba menutup mata, meski prajurit kantuk belum melancarkan serangan.

Continue reading Ini, Bapa (3)

Camus*: The Melting Pot

Saya tak pernah menduga bahwa grup yang dibentuk karena keresahan yang timbul atas susahnya komunikasi dengan anak tuli, akhirnya merealisasikan sebuah pertemuan nasional (munas). Meski belum bisa dibilang akbar, tapi banyak perwakilan dari berbagai daerah. Teman baru, keluarga baru, pengalaman baru, semangat baru 😊

Mengapa memilih Yogyakarta, lagi? Selain alasan kesepakatan bersama demi mendekat pada sang ketua saat itu, juga bahwa kota gudeg ini menawarkan pesona yang sangat positif bagi disabilitas tuli. Beberapa universitas menyediakan juru bahasa bagi mahasiswa tuli, pertemuan dan seminar tuli banyak, dan banyak acara lain bagi tuli.

Continue reading Camus*: The Melting Pot

HBII 2019 (2)

Acara Hari Bahasa Isyarat Internasional di Surabaya, diperingati di acara CFD Siola, tanggal 6 Oktober. Ada Emil Dardak yang memberikan sambutan dan belajar bahasa isyarat. Kelihatannya seperti males dan tak paham. Begitu ngasi sambutan, dia bilang kalau mengenal dunia tuli dan bahasa isyarat adalah hal yang baru untuknya. Ups, saya berprasangka 🤭

Sempat ngobrol dengan pak Hadi, yang sudah punya dua anak. Pertama kerja di Taiwan, yang kedua kuliah di STTS. Kedua anaknya tak belajar bahasa isyarat. Kedua orang tuanya yang tuli, mampu mendidik dan membesarkan mereka hingga sukses 👍

Sebenarnya dia pernah diundang ke sekolah, sayangnya tak disediakan juru bahasa isyarat. Dia jadi bahan ketawaan karena bicaranya tak jelas dan sempat mengulang informasi 🙄

Baca: Antara SLB, Terapi, dan Pemerintah (2)

Continue reading HBII 2019 (2)