2018: Tak Ada Cerita

Salah satu Ramadan yang cukup kelabu. Puasa cuma dapat beberapa hari, selebihnya dilalui dengan sakit dan merawat yang sakit 😕

Baca: Pergi

Tilawah pun tak bisa jalan seperti biasanya, sungguh berat menyusun kekuatan penuh kembali dari nol 😕

Semoga masih bisa dipertemukan dengan Ramadan tahun depan dan hari-hari cemerlang lainnya. Antara lain untuk bayar utang dan bayar fidyah. Supaya nanti LPJ bisa lengkap dan sesuai argumen faktual.

Hiks, setan tak benar-benar pergi jika kau tak meniatkannya demikian 😕

Baca: Siapakah Setan Itu

Salam…

Gambar dari embunhati

Advertisements

Pergi (2)

Merasakan dua keguguran dalam waktu dua tahun berturut-turut. Antara sedih dan lega. Sedih karena sudah melihat bentuknya yang hampir sempurna seperti bayi, sayangnya pertumbuhan agak lambat dan tanpa detak jantung 😭 Lega karena di dua bulan pertama usianya ini, kami sekeluarga sakit bergantian, mulai dari flu berat hingga cacar air. Tak bisa dihindari kan, hanya bisa pasrah dengan nasib si calon bayi dalam perut, semua terjadi sudah atas kehendak Allah 😢

Baca: Pergi

Hidup memang penuh misteri. Saya sudah hampir menyalahkan diri kenapa tak begini dan begitu. Namun dokter menyatakan bahwa kemungkinan mengapa dia pergi, adalah karena batas takdir usianya hanya sampai sekian saja.

Continue reading Pergi (2)

Rindu Masakan Mamak

“Mak, aku pengen dimasakin Mamak,” kata saya di telepon dengan tangis tertahan.

“Masakan apa?” Tanya beliau, ada selintas nada bahagia yang melemah.

“Kare ayam, lapis daging, bihun kecambah, …”

Seraya terbayangkan sedapnya. Hmmm, sluuurp… 😊 Mamak hanya menggunakan penyedap alami berupa gula garam serta racikan bumbu rempah lainnya, dan selalu enak. Kalau Mamak memasak, bisa dipastikan hanya satu-dua kali makan selalu habis tak tersisa. Kadang bahkan anak cucunya rebutan bagian, hehehe… Sayangnya, Mamak memasaknya berdurasi lamaaa sekali 😂

Rumah klasik Mamak

“Doakan ya,” balasnya singkat, sebelum saya sempat menyebutkan deretan panjang masakan Mamak yang lain.

Baca: (Not) Into Cooking

Continue reading Rindu Masakan Mamak

Jeniper, Si Andalan

Jeruk nipis peras.

Elitnya sih, lemon 😂 Sayangnya, lemon lebih mahal dan susah didapat, jadi yah jeruk nipis paling pas. Untuk 6-7 biji jeruk nipis ukuran sedang, harga termahal tak sampai sepuluh ribu. Saat harga murah, malah cuma 3-4 ribuan.

Ini manfaatnya, berdasar pengalaman dan percobaan saya ya:

🍋 Mengurangi amisnya ikan.
Saya males goreng ikan pakai bumbu kunyit karena minyaknya makin kotor, ribet (mesti nguleg), dan lengket.
Untuk ikan segar, sehabis dibersihkan, dikucuri jeruk nipis, garam, merica. Diamkan sebentar. Kalau mau rasa lebih, tambahkan bawang putih cincang dan ketumbar bubuk. Sebelum digoreng, lumuri ikan dengan sedikit minyak supaya tidak menempel di penggorengan.
Tambahkan irisan jahe waktu digoreng, supaya minyak tak meletus-letus.
Rasanya, hmmm, saya suka makanan yang masih ada citarasa aslinya dan tak banyak penyedap. Begitu 😉

Pernah coba yang begini?

Continue reading Jeniper, Si Andalan

Keranjang Bambu

Sabtu pagi di sepanjang jalan A. Yani, Gedangan.

Saya mengendarai motor sambil menyanyi lagu Kupu-kupu malam. Ternyata bisa juga nyanyi lagu ini, kenapa kemaren menolak karaoke waktu di bis yah 😄 Aah, saya baperan dengan suara jelek. Padahal kan karaoke bersama bukan konser, saya bukan penyanyi, jadi suara sember pasti dimaafkan. Paling selanjutnya gak boleh dapat giliran nyanyi lagi, hihihi…

Syukurlah, keranjangnya tipis ☺

Mengendarai motor, menyanyi, sembari menyimak pengendara depan kami persis. Kanan kiri motornya sarat dengan bungkusan kerupuk mentah. Di atasnya ada beberapa keranjang bambu terikat menjadi satu tumpuk.

“Kerupuk enak nih, Shena,” kata saya pada si bocah. Hari itu kami menjemput kakak Moldy pulang sekolah.

Ada kerupuk dele, kerupuk putih, dan berbagai bentuk lainnya. Semuanya dalam kemasan plastik besar, sepertinya mau diantar ke pasar.

Lalu lalang kendaraan yang cukup padat lancar. Tiba-tiba keranjang bambu itu terlepas dari tali,

Continue reading Keranjang Bambu

Kue Tradisional dan Kenangan

One day one post, hari ketigabelas 💪

Ninih bilang, hari itu beliau akan membuat jenang. Saya, yang saat itu belum sekolah, mengikutinya ke sana kemari di pawon yang luas dan panjang. Paling ujung, tempat cuci piring, yang buangannya manual, berupa sebuah bak besar. Kalau malam, tempat ini cukup horor. Cahaya lampunya temaram, tak cukup menerangi sampai area cuci piring.

Saat Ninih berpulang ke rumah abadi, tempat inilah yang konon menjadi area pamitan Ninih. Sesuai dengan kesibukan hariannya, panci dan wajan berbunyi sendiri di tengah malam, tepat di 40 hari kepergiannya. Hiii… 😨

Kembali lagi ke area pawon. Kayu bakar, wajan besi yang sangat besar dan tebal, kompor beton dengan lubang tempat pembakaran, gula merah, santan kental dari kelapa yang baru saja diparut. Semua beraroma klasik, tanah dan hangus 😀

Continue reading Kue Tradisional dan Kenangan

Dari Bu Dokter Sp.THT Itu

Kali ini saya mengutip kisah saja ya, berhubung saya tak hadir di seminar yang bersangkutan ☺

Dokter perempuan spesialis THT itu, mengatakan bahwa bahasa isyarat bisa menjadi alternatif terakhir, jika anak tak bisa diusahakan mendengar dengan alat bantu atau verbal, mengalami difabilitas ganda, sementara usia anak semakin bertambah.

Meski masih berkaitan dengan deprivasi bahasa, saya ikut senang 😍, apalagi jika mengingat satu kisah pribadi mengenai penolakan yang materialistik itu. Huh…

Baca: Rejected.

Continue reading Dari Bu Dokter Sp.THT Itu