Ini, Bapa (4)

Hari ini, genap setahun Bapa kembali ke tanah. Aku sudah jarang menangis, lalu aku sedih lagi. Idolanya Bapa, Mr. Crack, yang hampir semua strateginya bisa Bapa jabarkan dengan fasih, mangkat di tahun yang sama.

Menangis lagi, ingat Bapa lagi.
Bapa adalah satu di antara sedikit orang yang percaya bahwa Habibie mampu mengambil alih kendali kapal bernama Indonesia yang saat hampir karam, terhantam krisis ekonomi dan politik.

Saat itu, Bapa marah-marah di hadapan televisi yang menyiarkan demo mahasiswa yang meminta Habibie lengser dan juga ketika MPR menolak pidato pertanggungjawabannya.

Continue reading Ini, Bapa (4)

HBII 2019 (3)

Tema tahun lalu adalah hak bahasa isyarat untuk semua.

1.) 23 September – Hak bahasa isyarat untuk semua

2.) 24 September – Hak bahasa isyarat untuk semua anak

3.) 25 September – Hak bahasa isyarat untuk masyarakat tuli senior

4.) 26 September – Hak bahasa isyarat untuk masyarakat buta tuli dan kaum disabilitas.

Continue reading HBII 2019 (3)

Pak Sopir (2)

Judul awal saya pangkas, supaya lebih luas cakupannya.

Baca: Pak Sopir, Terima Kasih atas Kebaikannya

Hari ini, demi sesuatu, terpaksa keluar kota 🙄 Naik bis, sepi, hanya terisi separuh. Naik angkot, takut berdesak, ternyata sepi juga.

Cuma saya, Moldy, dan pak sopir.

Seorang perempuan usia 50an masuk. Ternyata mereka kenal dan saling ngobrol. Saya curi dengar.

Continue reading Pak Sopir (2)

Mbah e (2)

Antara merana, konyol, jengkel, dan bermacam rasa selain rasa senang 🙄

Baca: Mbah e

Beberapa waktu lalu, saya ke Indomaret dengan anak-anak. Seperti biasa, saya dan Shena ke rak makanan dan bahannya, Moldy ke rak mainan.

Do I?

Saya menggunakan kacamata dengan lensa photochromic, yang menghitam saat di luar ruangan. Rupanya, saat masuk ke dalam, hitamnya agak lama. Tanpa bedak, jilbab bergo, pokoknya kumus-kumus 😅

Dua anak manis usia PAUD, berjalan melewati kami. Mereka sangat menawan, sopan, sekaligus menggemaskan.

“Permisi, nenek…” sapa si kecil dengan ramah.

Continue reading Mbah e (2)

Bersama ‘Membersamaimu’

Sekarang saya pakai nama Esthy Wika, untuk semua buku dan artikel yang saya tulis. Bunga rampai Membersamaimu adalah antologi pertama dengan nama ini, tentu saja sepengetahuan dan sepersetujuan saya 😉

Baca: Nama, Karya, Beda

Ini antologi Tuli pertama. Sudah banyak buku mengenai gangguan dengar, tapi masing-masing membahas cara personalnya. Buku ini membahas dari tiga pilihan yang dianut, yaitu menggunakan alat bantu, implant, dan berbahasa isyarat.

Dibuka pas yang nulis pendiri DTLS (Dunia Tak Lagi Sunyi)

Tak mudah mengumpulkan mereka semua agar mau terjun menulis, apalagi beda visi misi dalam mendidik anak Tuli menjadi ‘lebih baik’. Semua punya versinya sendiri. Oleh karena itu, tujuan buku ini adalah mengajak orang untuk menerima apapun dan bagaimanapun kondisi anak. Kisah-kisah di sini menawarkan pilihan referensi caranya 🙂

Continue reading Bersama ‘Membersamaimu’

Kedatangan Para Saksi

Minggu pagi, dua orang keturunan Tionghoa, mengetuk pintu rumah. Mereka bilang mau membantu anak dengan kebutuhan tunarungu dan berbahasa isyarat.Sebenarnya saya sudah curiga dan menduga siapa mereka, cara-caranya sangat identik. Tapi berbaik sangka dululah, jadi saya persilakan mereka masuk.Salah satu darinya adalah tuli, tapi tidak aktif di komunitas manapun. Alumni dari sekolahnya Moldy. Sedangkan si juru bicara, adalah orang dengar keturunan Korea. Baru setahun di sini, mengakunya, dan sudah cukup fasih berbahasa Indonesia dan menyampaikan dalam isyarat kepada temannya.Setelah basa basi soal identitas, saya tanyakan tujuan mereka.
Continue reading Kedatangan Para Saksi

Siaga Bencana (2)

Pandemi 2020 bernama coronavirus.
Saya tak akan menyarankan apapun mengenai ini, karena sudah pasti anda mendapatkan dari berbagai sumber dengan akurasinya masing-masing. Mempersiapkan yang terbaik bisa dilakukan dan waspada akan hal terburuk yang mungkin.

Sedikit lega dengan keputusan meliburkan murid sekolah selama dua pekan. Kita sudah mengambil langkah preventif yang masuk akal, meski hasilnya tetap pada yang Maha Kuasa.


Seperti biasa, ada pihak-pihak yang mengail di air keruh dan memandang semua dari kacamata negatif. Inilah Indonesia, nyinyir by default, terlepas apapun agama yang dianut, mayoritas ataupun minoritas 😬

Baca: Siaga Bencana

Kata Pak Irfan dari BNPB, orang kita rata-rata ngeyel kalau disuruh siap, bilangnya takdir ada yang mengatur. Begitu kena musibah, langsung deh menyalahkan sana sini 😐

Ikhtiar dan pasrah itu satu paket, jangan dipisah. Usaha harus maksimal, tapi tetap legowo pada apapun hasilnya. Pasrah menjalani bagian takdir, tapi usaha jangan sampai minimal ke arah putus asa (taiasu).

Belum lagi para militan yang memanfaatkan keadaan untuk menelanjangi dosa dan borok masa lalu banyak orang, seolah dia sendiri bebas dosa, tobatnya pasti diterima, matinya husnul khotimah, dan pasti masuk surga. Yakin gak dosa sama sekali, sampai berani nuding salah pada orang lain? 🙄

Baca: Diet Agama (3): Convert

Hai sayangku yang suci dalam debu, wabah sudah ada sejak jaman kita bahkan belum jadi tetes ludah. Sudah ada namanya kan, thaun. Ada hadisnya juga. Ada pula cara menyikapinya, yaitu dengan mengisolasi diri tidak keluar dari wilayah supaya tak menulari yang lain. Bukan dengan pertemuan doa akbar yang malah berpotensi meningkatkan resiko penularan 🤦‍♀️

Wabah, pandemi, pageblug; apapun itu namanya, sama seperti diare yang terjadi pada balita. Setiap kemampuanmu nambah, maka tantangan yang diujikan juga akan berbeda. Setiap perubahan menuju baik ataupun buruk, akan melewati metamorfosis yang menyakitkan. Secara harafiah, kita tak akan berubah menjadi kupu-kupu, tapi kita akan melewati lubang tantangan yang kurang lebih sama.
Black death Eropa di abad 14, terjadi ketika ada domestikasi ternak. Hasilnya, timbul hasrat menjajah ke negara lain dengan membawa ternak hasil domestikasi serta menurunnya kepercayaan pada institusi religi.

Perkembangan virus flu, sudah diprediksi oleh Bill Gates di tahun 2017, yang bahkan seolah pesimis akan kesiapan kita menghadapinya. Nyatanya memang kita tidak siap. Kita lebih siap mabuk dengan bombardir kabar, bahkan joged ala tiktok yang tak penting sekalipun, dari berbagai penjuru dunia. Meski ada sisi mata uang yang tak bisa dipungkiri, bahwa teknologi dan ilmu pengetahuan berkembang begitu pesat dan menyajikan setiap jengkal kemudahan dalam hidup kita. Bagi proletar awam seperti saya, itu sangat melenakan 😴

Ini juga ujian open book. Kita bisa membuka buku atau situs mana saja untuk mencari jawaban. Pada akhirnya, survival of the fittest bukanlah perubahan kera menjadi manusia, tapi perubahan pola pikir yang entah menuju kemana, tergantung polar lompatan awal. Lihat saja umat Islam yang lebih dulu melek literasi daripada bangsawan Eropa yang kebanyakan buta huruf, kini malah jauh berbalik.

Saya curiga, kita tak akan menemui teknologi 5.0, pun tak pernah bisa menduga di mana pangkal kehidupan ini akan tertumpas. Mungkin, kita akan sampai di biota kering seperti gambaran kehidupan planet, dengan penerbangan sebagai transportasi utama. Mungkin juga tidak.

Apapun yang menyelamatkan kita dari bencana corona ini, tentu banyak pelajaran penting bisa dipetik. Bahwa jarak sosial dalam dunia maya, terealisir dalam nyata. Bahwa sentuhan fisik yang selalu kita butuhkan sebagai bentuk afeksi sesama manusia, akan semakin langka. Bahwa prasangka yang dulu kita ungkap lewat banjaran percakapan tulisan, kini terungkap lewat desinfektan dan antiseptik.

Boleh jadi anda mengira bahwa itu karena ada bagian dosa sentuhan non mahram, boleh juga kan saya beranggapan bahwa ini semua bentuk eksagerasi dari keberjarakan kita semua selama maya berkuasa.

Jadi, sudah sehebat apakah kesiapan kita semua menghadapi siklus perubahan?

🤔

Gambar corona
Gambar jarak sosial