Nama, Karya, Beda

Gimana rasanya kalau pas ngobrol dengan seseorang, gegara mau beli buku, lalu dia mengenali saya sebagai penulis sejumlah buku. Uwoww… 😁

Semoga itu benar adanya…

Tapi rasa-rasanya belum pernah lho, saya nulis begitu konsisten sampai jadi satu buku. Paling banter 10 halaman untuk ikutan antologi. Ada sisi yang berharap bahwa saya amnesia, jadinya lupa pernah menulis sampai jadi buku 😂

Continue reading Nama, Karya, Beda

Coretan Tertinggal Hari 29

Liburan akhir tahun lalu, aku menghabiskan tiga buku bantal Tere Liye dan menyelesaikan reviewnya segera. Meski kubawa kemana-mana, supaya cepat habis dan bisa ganti baca yang lain, anakku biasa aja. Tak banyak bertanya. Dia sibuk dengan squishy, komik, dan tugas sekolah yang menumpuk.

Begitu aku membuka Bilangan Fu, Tuhan Maha Kecil, dan tentang Mamah Muda metropolis; gadis kecilku hilir mudik bertanya buku apa itu, apa isinya, kapan dia dibolehkan untuk membacanya. Mereka punya satu benang merah, tentang perempuan dewasa dan segala kerumitan yang mengikatnya. Kau tahu cara menjelaskannya pada seorang gadis kecil, yang belum hafal perkalian tapi selalu penasaran dengan beberapa benda aneh (tapi warnanya menarik) di minimarket yang diperuntukkan bagi orang dewasa?

Sebenarnya, cukup tutup buku dan baca yang lain, habis perkara. Pfft, andaikan bisa sesederhana itu. Kalau bunyi klik sudah mengiang keluar masuk pori kepalaku, itu berarti aku harus melanjutkan iramanya. Aku harus menyelesaikan lagu yang sudah teralun. Jika lagu sudah selesai, aku masih harus berurusan dengan nada terserak yang butuh lagu lain. Inilah bagian yang paling menyesakkan saat kau terbenam dalam bacaan, kau membangun aksen baru. Buat penulis profesional, itu bagus. Buatku yang amatir, yang kebanyakan mengikuti kelana pikir daripada mengecek kesesuaian nadanya; itu pertanda buruk. Aku tak bisa berhenti berpikir, pun tak tahu cara rehat, sampai kutemukan titik yang pas. Ini bukan perihal ada tidaknya waktu, tapi lebih pada skala prioritas. Mana yang akan kau pilih, fardu de facto atau dengung suara dalam benakmu yang butuh tempat.

Touring Anjem Sekolah

“Jauh kamu bilang. Masa demi anak, kamu gak mau nyoba? Aku nih, ganti angkot berapa kali aja, apapun bakal kujalani demi anak.”

🙄😋😎

Sungguh, pertikaian paling enggak banget adalah pertikaian antar emak. Diladeni itu kok ya receh. Gak diladenin kok ya nggregetne ati. Percayalah, semua emak pasti mencoba, pasti berusaha, dengan target serta visi misinya masing-masing. Bagaimana mungkin disama-samakan. Perawakan dan pemikiran, karakter suami, jumlah anak, latar belakang ekonomi dan pendidikan, konsep diri, jenis suara, makanan kesukaan, dll. Yakin ada yang sama persis? 😁

Menepi, sebelum terjebak lalin Gedangan

Rumah saya kan di perbatasan antara Sidoarjo dan Surabaya. Moldy sekolahnya di daerah Wonokromo, Surabaya. Masalah jauh tidaknya jarak itu relatif, tergantung hidup kita menderita atau tidak. Kalau menderita itu biasa, sebagai teman dari derita-derita yang lain 😁 Kalau tidak menderita, ya itu pencapaian yang paripurna dalam membonceng Moldy yang tuli dan Shena yang dengar. Sepanjang perjalanan saya hampir tak menemui siapapun yang senasib. Kayaknya sepaket kami aja deh, yang menempuh sejauh itu dengan motor. Ups, aroma keangkuhan mulai menguar 😋

Continue reading Touring Anjem Sekolah

Ini, Bapa (2)

“Kamu kapan ke sini?”

“Iya Pa, segera kalau anak-anak dan ayahnya libur, sakitku sudah sembuh.”

“Bapa seneng kalau kamu ke sini, kakak-kakakmu ke sini. Bapa bisa punya teman cerita, biar gak sumpek di rumah.”

Moldy di sarean kakungnya

Aku diam sesaat, tumben Bapa terus terang. Tumben Bapa menelpon sendiri, tanpa lewat Mamak. Bagian mbencekno dari firasat adalah, kamu tahu tapi kamu tak bisa menggenggamnya 😐

Continue reading Ini, Bapa (2)

Antologi Ibu

Mamak yang selalu total mendampingi anak-anaknya menempuh pendidikan. Jika tak mampu secara materi, beliau meluangkan tenaga. Baju karnaval saya paling bagus, paling utuh; karena Mamak menjahitnya dengan mesin. Saya tak bisa semaksimal Mamak. Sekarang kan gampang, pergi aja ke tukang jahit, beres. Hehehe…

Di sisi lain, anak hampir tak pernah bisa menyenangkan hati ibu 😔

Continue reading Antologi Ibu