Cucu Jowo

Kata pakdhenya, Moldy adalah cucu Mamak yang paling Jowo. Sebenarnya saya kurang suka istilah rasialis begini, tapi karena meninggikan anak saya, ya harus terima dong 🤣

Waktu saya bilang kalau Bapa meninggal, Moldy menghibur saya supaya sabar dan sangat kooperatif dalam perjalanan pulang ke Batu. Yang kemudian dia datangi pertama adalah Mamak, dielus rambutnya lalu dadanya pertanda Mamak harus sabar. Itu bukan cuma sekali, dia selalu melakukannya tiap kali ketemu Mamak. Saya tidak mengajarinya, dia yang berinisiatif sendiri 😘

Baca: Bergaul

Bantu bawa belanjaan

Continue reading Cucu Jowo

Jilbabku, Jilbabmu, Jilbab Mereka

Dari masa pas foto jilbab harus dilepas, hingga masa kini menjadi ikon busana yang bisa dipadupadan dalam berbagai kesempatan, jilbab tetap saja kontroversial. Tentunya, semua yang berkaitan dengan perempuan selalu demikian, bukan? 😉

Saya dikenalkan jilbab saat masih SD, di era 80-90an, masa di mana jilbab masih tabu, larangan resmi yang tak boleh dilanggar. Mamak melarang saya pakai, dengan alasan takut ditangkap/dianiaya atau apalah itu, dan saya manut dong. Masih kecil 😁

Entah mengapa, bahkan sejak jaman itu pun, Islam terpahamkan dengan cara radikal. Dunan diam-diam mengajak saya ikut JT, lengkap dengan pakaian serba hitam dan cadar. SMP gaes, apa yang bisa saya tangkap dari itu semua, gak ngerti apa-apa. Saya berontak sendiri, merasa terkekang, langsung pulang untuk ganti celana pendek dan kaos, hehehe…

Continue reading Jilbabku, Jilbabmu, Jilbab Mereka

Jebakan Limas (2)

Sekian lama jadi kasak-kusuk di dunia maya, akhirnya sah juga segala hal yang berbau illuminati untuk menjegal seorang kandidat orang besar. Sudah mengikuti kan, isu mengenai Ridwan Kamil dan ideologi dari konstruksi masjid yang dibangunnya 🤭🤦‍♀️

RK sudah menjawabnya tuntas, dalam sebuah diskusi formal dan tatap muka. Saya tak mengikuti detail, antara setuju dan tidak setuju. Sekali waktu, persebaran hoax, fitnah, dan intrik harus disikapi tegas dan langsung. Medsos dan kemudahan akses informasi dalam bentuk apapun, (mestinya) membuat kita makin berhati-hati dalam menyikapi dan mempercayai berita. Semua hal hampir selalu bisa didiskusikan, tapi keyakinan akan kebenarannya itu kembali pada keberpihakan dan pengetahuan masing-masing 😉 Segitiga illuminati dan serangkaian informasi terkait, tetap dilanjutkan oleh ustad yang bersangkutan 😔 Wallahualam.

Masjidnya Ridwan Kamil

Saya menurunkan artikel yang kedua ini, sebagai penambahan dan sedikit perubahan sikap dari tulisan pertama.

Baca: Jebakan Limas

Perubahan sikap:
👓 Saya tak lagi terlalu tertarik dengan mereka yang memakai atribut agama dengan sedemikian fanatik, seolah paling suci, namun membicarakan sesuatu seabsurd itu. Terus terang saja, ada sisi yang menganggap bisa saja itu benar, namun untuk menyampaikan secara begitu gamblang tanpa rujukan ilmiah dan bukti yang sahih, itu lebih dari sekadar absurd 🙄
Ustad RB adalah satu di antara deretan ustad yang bersih dan pandai, sehingga fatwanya boleh diikuti umat tanpa perlu dikritisi. Mengingat, kritis itu dosa 😎

👓 Kalau pandangan bahwa saya males dengan orang beratribut agama sakleg, mbuat saya dituduh kafir, liberal, dan apalah itu; alhamdulillah 😉 Tuduhan itu, terlepas benar atau salah, sudah menambah pahala saya.

👓 Apakah saya tetap percaya Alquran dan Hadis sebagai rujukan? Tentu saja, bagian dari rukun iman, tapi dengan segala kefakiran dan keterbatasan saya dalam berilmu, mulai lebih berhati-hati 😊

Baca: Diet Agama

Banyak kitab pendukung dari berbagai mazab dan tafsir, saya tak mengerti semuanya secara mendalam, jadi saya mengundurkan diri dari area ‘merasa pinter dan paling bener’. Saya belajar agama secara praktis, lha kok paling kemeruh 😅 Apa yang saya tulis adalah proses kontemplasi dan kritisme yang selalu bisa dibantah maupun disetujui.

👓 Menjadi kritis itu tidak mudah, karena kita menantang kenyamanan ego kita juga. Bagusnya tak mudah terpengaruh. Buruknya bisa gila 😂

Baca: Retorika Bilangan Fu

👓 Menjadi humoris tidak mudah terpengaruh dengan apapun, karena selalu melihat semua dari sisi humor. Sementara itu penelitian menunjukkan bahwa orang eksakta lebih mudah terpapar pada berita buruk dan radikalisme. Nah…
Humoris dan kritis adalah dua sikap/perilaku yang (lebih) memudahkan kita untuk tidak ikut arus.

Cara berikut saya tambahkan jika anda terjebak dalam ‘intimidasi pemikiran’ konspirasi segitiga apalah itu:

🍦 Bacalah atau tontonlah kisah yang ringan, seperti novel, drama, komedi, komik anak, acara memasak, dan semacamnya. Apa saja lah yang bikin anda santai, ketawa, gak terlalu mikir. Ini sebagai bentuk pengalihan. Kasihan kan, otak disuruh mikir berat terus 😂

🍦 Luangkan waktu untuk ngobrol dengan manusia yang bisa disentuh, bukan yang diwakili oleh emotikon, alias letakkan gawai sejenak. Simpel aja, seperti tetangga sebelah, tukang sayur, tukang kebun, pak satpam, atau siapa aja yang sekiranya tak berhubungan dengan bacaan beraroma konspirasi.

🍦 Diet gawai, sebagai salah satu sumber masalah utama, apalagi kalau kita jarang baca buku tapi suka baca status atau berita clickbait. Cara diet gawai, antara lain berhubungan dengan lebih banyak orang yang sekiranya harus dilakukan tanpa gawai. Lebih penting lagi adalah niat dan komitmen. Dua hal mendasar ini harus dikuatkan untuk menuju diet gawai. Saya sudah sempat diet selama beberapa hari, karena bosen banget di mana-mana beritanya politik melulu 😶

Baca: Siap Tanpa Jaringan

🍦 Menulis, lalu bacalah sendiri. Gimana rasanya? 😅
Sudah lama saya tak menganjurkan orang untuk menulis. Sekarang lagi ngumpulin antologi kisah ortu, dan rasanya susah amat yak meminta mereka menuliskan pengalaman sendiri. Setelah ngobrol dengan beberapa teman, barulah saya tersadar bahwa tak semua orang mau menulis. Soal kemampuan itu sejalan dengan waktu, kemauan ini yang sifatnya personal.
Tapi tetep ya, salah satu cara untuk menyaring racun dogma yang sudah masuk ke dalam benak, adalah dengan menuliskan apa yang kita tahu, membacanya sendiri, lalu meminta orang lain membacanya. Berani? 😁

Apakah saya masih percaya dengan konspirasi, dengan semua perjalanan membaca dan menuliskannya ulang? 🤭

Baca: Hurting Heed

Sudah saya jawab implisit di tulisan pertama ya, bahwa saya menyimpannya di suatu ruang pikir, yang hanya akan saya tengok sekali waktu. Ada beberapa pertanyaan pribadi yang belum terjawab tuntas. Ada sih, jawabannya, tapi rujukan penguatnya belum ada, jadi saya simpan sendiri. Kebetulan ada beberapa pengalaman pribadi yang berkaitan, beserta buktinya 😉

Tidak semua yang kita ketahui, harus disebarluaskan, bukan? 😊

Gambar masjid

Gambar FPI dari twitter

Siap Tanpa Jaringan

Jengah terlalu lama dengan status (saya dan siapapun) tak penting, saya deaktif facebook tiap beberapa bulan sekali. Tiap kali aktif selama 1-2 bulan, saya menghilang lagi. Kebetulan, beberapa teman juga memutuskan hal yang sama, tidak terlalu aktif, dengan cara yang berbeda. Semua sepertinya memang sudah jenuh, bukan saya aja. Apalagi kalau sudah berkaitan dengan politik, wes embuh 😎

Baca: Molitik Embuh

Baca: Ingin Deaktif Forevah

Saya kemudian agak aktif di instagram dan twitter. Aktif pasif, baca feed tapi jarang nyetatus. Sesekali log out dan kembali lagi. Biasa aja. Memutuskan untuk tidak berinternet selama beberapa hari, baik-baik aja. Yang bikin saya terikat dengan keberadaan jaringan adalah grup chat untuk sekolah anak-anak, keluarga, dan yang paling nyandu adalah saya harus menulis dan nyari bahan di web. Hiburan dan pekerjaan yang bisa dikerjakan kapan aja 😊

Baca: Repotnya Idealis (2)

Seorang pegawai urban curhat betapa susahnya hidup tanpa gawai. Dia bergantung mesti pakai ojol untuk transpot kerja, anak balitanya mesti diam pakai lala lala youtube, wa untuk urusan meeting, dan banyak lagi. Dia sebel, ngapain sih nyuruh orang berhenti dengan gawai. Hahaha, terikat dengan teknologi memang tak bisa dihindari ya 😎

Continue reading Siap Tanpa Jaringan

2019: Mari Menangis

Pernahkah kalian mengalami masa ingin menangis mendengar suara imam yang begitu merdu, menusuk kalbu, mengoyak kelenjar air mata hingga jatuh tak terbendung, padahal kita sama sekali tak tahu artinya.

Lalu gadis kecilmu menoleh dan bertanya,

“Bubun nangis? Kenapa?”

Lalu binasalah semua momen haru itu dan berubah menjadi momen menjengkelkan yang aneh.

Gambar menangis

Reinforcement (3)

Bertepatan dengan hari Sumpah Pemuda 2018, sebuah gelar wicara bertema disabilitas diadakan oleh mahasiswa FE UNAIR dan sejumlah sponsor. Salah satu sponsor yang saya suka, Indocafe Coffeemix 🤤 Sluuurp, dapat kopi gratis secangkir kecil☕ Tapi sekarang lagi belajar minum kopi tubruk, mengurangi kopi instant ✌

Baca: (Sedang berusaha) Tidak Ngopi

Temanya Social Action, menghadirkan lima pemuda difabel berprestasi. Saya ceritakan sesuai dengan nama masing-masing ya..

Alfian
Mahasiswa tunanetra pertama yang diterima di Unair, di jurusan Antropologi 2015. Di tahun 2017, ada tiga orang lagi yang diterima.

Sistem yang dipakai untuk belajar adalah Jaws, mengubah tulisan menjadi suara.

Continue reading Reinforcement (3)

2019: Pergi Lebih Awal

Rasanya malam Lailatul Qadr yang seringkali disebut hadir pada malam-malam ganjil, sudah pergi bersama nyawa Ramadan, maksimal pada hari ke 27 😔

Hanya prasangka, dan banyak kemungkinan salah. Kan saya fakir ilmu agama, tak bisa dijadikan rujukan sahih, hehehe…

Namun perasaan kosong itu tak bisa dipungkiri. Lagi-lagi saya menyalahkan distraksi medsos yang begitu melenakan. Padahal merawat kurva keimanan pun pilihan 😊

Baca: Antara Iman, Niat, dan Kantuk

Buat emak beranak dua seperti saya, beribadah sesuai harapan adalah kemewahan. Tetap harus menyiapkan anak dan suami, dan urusan rumah tangga lain, meski pengen juga mengejar pahala sebanyak-banyaknya. Meski itu bisa juga silly excuse ya, mengingat yang bisa berkali-kali khatam dalam sebulan itu, malah yang beranak minimal 5 orang 🤔

Saya belum sanggup mikir sampai sana. Saya kira, masing-masing punya batas toleransi kesanggupan, yang lagi-lagi dihubungkan dengan kekuatan niat dan tingkat keimanan.

Sudah bagus bisa khatam Alquran sebelum satu bulan kurang beberapa hari.
Sudah bagus tak pernah lagi bangun pas imsak, selalu bangun maksimal jam 3.30.
Sudah bagus ada kemauan untuk lebih, meski baru sebatas niat.

😊

Malam-malam yang tenang dan sempurna sudah berlalu.
Ramadan pun kembali mengitari bumi.

Untuk tahun depan, semoga kita semua bisa lebih baik lagi. Amin.

Gambar malam