Female War (2)

“Musuh utama manusia terbesar manusia secara umum, adalah dirinya sendiri. Sedangkan bagi sejumlah perempuan, dia memiliki musuh tambahan, yaitu perempuan lain.”

😯😯

Hela napas agak nyesek, antara mengiyakan dan menidakkan. Mari kita mulai dengan sejumlah fakta yang ada.

👒 Gerbong pink atau gerbong khusus perempuan, kabarnya lebih horor daripada gerbong umum. Sesama wanita bisa saling berebut dengan ganasnya, tanpa peduli dengan kondisi hamil, sakit, ataupun PMS.

Continue reading Female War (2)

Advertisements

Centang Biru, Centang Abu

Seorang teman memakai centang abu di whatsapp, dengan alasan tak mau diburu soal pekerjaan, entah gimana detailnya. Beberapa teman lain melakukan hal yang sama, saya menakar pekerjaannya, kemudian memakluminya. Selama pesan sampai dan dibalas sesuai kebutuhan, ya sudah, itu privasi mereka. Saya pakai centang abu, karena tak ingin tergantung, menunggu balasan. Maklumlah, emak rumahan, apa-apa ditungguin 😛 Ada yang aneh waktu pertama kali gak lagi lihat biru-biru di pesan, senyap gitu ya. Ya udin, konsekuensinya kan begitu. Nanti kalau pengen warna-warna, ya dinyalain lagi.

Continue reading Centang Biru, Centang Abu

Katarsis Nyinyir

Salah satu lagu favorit saya waktu masih kecil judulnya Pak Tua, dinyanyikan oleh Elpamas, roker asal Jatim yang mengikuti trend gondrong ala band metal saat itu. Lagunya ringan, santai, apa adanya, lalu hilang dari peredaran Selekta Pop. Vokalisnya Totok Tewel. Sewaktu digantikan Ecki Lamoh, saya juga suka sama lagu Tuan Peterson yang dinyanyikannya. Meski heran juga, kok kita anglophilia banget yah, dan masih hingga hari ini 😑

Lagu ini dicekal karena dianggap menghina Soeharto. Pak tua sebagai representasi gambaran Soeharto. Saya belum banyak paham soal politik saat itu. Hanya ingat jika kami sekeluarga mengobrolkan soal politik, tiba-tiba ada yang mengingatkan supaya kami berhati-hati. Yah, kan musim petrus, orang kritis yang hilang begitu saja. Parno aja sih, lha wong itu cuma sekadar diskusi ringan keluarga, belum melebar sampai suara komunitas 😁

Continue reading Katarsis Nyinyir

5 Di 2018

Awal tahun 2019 besok, blog tuwuhingati akan memasuki tahun kelima. Pfft, lumayan anteng 😁 Biasanya dua tiga tahun sudah males lanjut, trus bikin lagi blog baru, hihihi… Meskinya isinya tetap nano-nano, alhamdulillah tiap tahun ada peningkatan kunjungan ☺

Kayaknya saya terlalu menikmati proses, sampai lupa bahwa menulis pun butuh tantangan. Sempat beberapa kali berburu lomba antologi dan lomba menulis lain, atau sekadar tantangan komunitas, lalu saya males 🙊. Pas ketemu bahasan difabilitas, ya udah ditulis aja. Pas pengen nyerempet politik dan atau agama, ya udah ditulis aja, di blog, bukan di status 😉✌

Continue reading 5 Di 2018

Anakku Tidak/Belum Hebat

Saat orang memuji Shena yang nilainya baik dan rajin belajar, saya segera berdalih bahwa dialah hiburan saya. Moldy yang malas belajar dan cuek dengan nilainya 😅

Saat orang memuji Moldy bisa tampil di panggung beberapa kali di sela keterbatasannya sebagai seorang Tuli, saya bersyukur alhamdulillah umeknya tersalurkan 😉

Mereka hebat karena jatah dari Allah, saya sih numpang keren aja 😁 Hehehe, sombong itu gampang, rendah hati itu butuh perjuangan 😀 Pengen juga sih sesekali pamer, tapi lihat-lihat dulu dengan siapa ngobrolnya…

Baca: Kekuranganmu Adalah…

Rasanya jengkel banget kalau dengerin orang sedang mblukuthuk tentang kehebatan dirinya atau anaknya. Sekali-dua kali, oke, wajar. Tapi kalau terus menerus, sampai tak memberi kesempatan lawan bicara, gak adil juga dong. Yang suka bicara supaya emosinya tersalur, perempuan. Yang ingin dihargai pencapaiannya dalam mendidik anak, perempuan juga. Mbok ya saling memberi kesempatan. Toh demi kesehatan jiwa masing-masing 😉✌

Selain itu, saya juga pernah merasakan betapa galaunya, saat anak lain maju pesat, sementara anak saya di situ-situ aja, super selow, bahkan mundur 😨 Saking galaunya, saya marahin Moldy. Bukannya bikin dia paham, eh dia malah nangis memohon-mohon agar saya tak berubah jadi setan 😈

Continue reading Anakku Tidak/Belum Hebat

Melogat

Tahun 1997, saya mengikuti kunjungan perbandingan ke beberapa kampus negeri di wilayah barat Indonesia. Kunjungan itu antara lain ke UI, UGM, ITB. Bertemu dengan para kakak kelas yang logatnya sudah sangat kota, Nyunda atau Mbetawi. Saya, sok akrab, mengajak mereka bicara campur dalam bahasa Jawa. Kediri je, ngapain juga mesti lupa tanah air. Kalau bukan sekolah dari sana (Kediri), belum tentu juga bakal lolos ke kampus itu 😀

“Ya ampun, ngomongnya kok medok banget,” sindir seorang kakak. Cowok. Wajahnya masih sangat Kediri pula 😎

Di angkot, sementara teman saya menahan bicara karena malu terdengar kemedokannya, saya tetep ngomong apa adanya sampai sesembak tersenyum menyapa,

“Dari Jawa ya, mbak?”

“Hehe, iya, kenapa?”

Sepanjang perjalanan, dia tersenyum simpul, rikuh dan saya cuek terus aja bicara. Hihihi, hidup Jowo! 🙊

Continue reading Melogat

Hubungan Dalam Terjemahan

Kabarnya, ada alat penerjemah perasaan, supaya para lelaki dan para perempuan tak saling salah paham mengenai maksud masing-masing.

Maksud perempuan (rata-rata) seringkali berkebalikan dengan apa yang dikatakannya. Semisal, kalau suaminya pamit pergi nonton konser, istrinya menjawab, “Pergi aja…” seraya memalingkan muka dan bersikap juthek, itu artinya “Oh jadi gitu, nonton sendiri, aku gak diajak…” 😀

Sementara, lelaki mengatakan sesuatu yang sederhana untuk mewakili pikirannya yang jauh lebih rumit. Semisal, saat istrinya nanya, “Apakah aku kelihatan cantik?”
Suaminya pun menjawab dengan wajah datar, “Iya cantik.”
Itu sebenarnya demi menyederhanakan maksud: ya ampun istriku kok ayu tenan yo, tak rugi aku dulu memilihmu di antara sekian gadis yang rencananya akan kutembak sebagai alternatif jika ditolak oleh yang sebelumnya 😄

Continue reading Hubungan Dalam Terjemahan