‘Gaung’ Isyarat

Saya pernah bertekad, bahwa Moldy tak akan sekolah di SLB supaya dia bisa bergaul dengan anak dengar, tak akan berbahasa isyarat supaya verbalnya lebih terasah. Pokoknya dia harus bisa berbicara seperti orang biasa. Semaksimal mungkin. Senormal mungkin ๐Ÿ˜‘

Apa daya, terapi wicara mengalami perkembangan lambat, maju satu langkah lalu mundur dua langkah ๐Ÿ˜ข Belum lagi menangani tantrumnya yang hampir tanpa henti. Disuruh bilang A, keluarnya B. Terus dipaksa, dia memilih melarikan diri atau cuma diam sambil melotot seolah mengatakan, “Aku males, aku emoh, so what?” ๐Ÿ˜„

Continue reading ‘Gaung’ Isyarat

Advertisements

Para Guru

Ini guru-guru saya. Mulai dari SD hingga kuliah. Tak semua ya, hanya beberapa yang teringat dan juga menarik untuk diceritakan ๐Ÿ˜‰

๐Ÿ‘‘ Bu KRN
Beliau pernah memukul kaki saya, dengan lembut. Penyebabnya, saya selalu berlari kemana-mana, jarang berjalan. Takut ditegur lagi, saya berusaha berjalan dengan menekan hentakan pegas di kedua tumit. Waaa, tersiksa sekali. Saya mulai menyadari, bahwa kalau Moldy super umek, saya pun mesti bercermin ๐Ÿ˜„

Beberapa tahun berlalu sejak pensiun, ternyata beliau masih ingat dengan saya.
“Nak, apakah kau masih menulis dengan huruf kotak?” ๐Ÿ˜ณ sapanya ketika tak sengaja kami bertemu.

Hehehe, dulu saking panjangnya waktu ujian dan sedikitnya soal, saya menghias tulisan supaya selesainya lama. Lha piye, mau keluar duluan juga gak boleh.. ๐Ÿ˜ƒ

๐Ÿ‘‘ Bu MRN
Beliau sangat menyayangi Dunan, yang selalu juara kelas, paling tidak tiga besar. Dunan juga pendiam dan penurut, tidak seperti adik perempuannya yang berantakan. Peringkat saya, entahlah, lupa ๐Ÿ˜‚ Dengan perbedaan siblings yang njomplang itulah, sepertinya beliau jaga jarak dengan saya.

Continue reading Para Guru

Monolog Angka Kembar

Kepala tiga, nduk?
Bah, simbok ucapkan itu dan biarkan mereka tebak usia aku.

โ€ฆage is just a number, donโ€™t you stop having fun (Happy Birthday-NKOTB)โ€ฆ
Tapi buat wanita, satu tahun itu sangat berarti.

Opo yo kamu bakal muda selamanya? Waktu itu ora kenal kompromi, nduk. Ini tentang bagaimana kamu bersahabat dengannya, karena dia sudah paten.
Tapi kadang masih kurang.

Continue reading Monolog Angka Kembar

Pengasuhan Ala Jerman

Pertama kali pergi ke Berlin, aku merasa seperti gila sendirian. Para orang tua berkumpul bersama dan minum kopi. Sementara anak-anaknya, bergelantungan di sebuah naga kayu yang tingginya 20 kaki, beralaskan tanah, saja. Mana matras empuknya? Mana pengawas keselamatan? Hufft…

Tinggi juga ya ๐Ÿ˜ฏ

Achtung, nein…” teriakku panik, dalam bahasa Jerman yang tak fasih ๐Ÿ˜‘

Eh, para orang tua dan anak-anak cuek, tetap melanjutkan kegiatan masing-masing.

Continue reading Pengasuhan Ala Jerman

Desakan Poligami

Sssttt…

Saya rutin scanning gawai suami lhooo…

Anda juga kah?

๐Ÿ˜‚

Bukan atas dasar motif curiga berlebihan, tapi mempekerjakan naluri saya sebagai satpam rumah tangga. Hehehe… Anak-anak kan tak dapat jatah gawai pribadi, jadi mereka lihat apapun dengan gawai kami berdua. Cuma lihat kiriman gambar dan video aja, pesan-pesan gak pernah saya baca, males ๐Ÿ˜ƒ

Bapak-bapak itu ya, kalau di grup, byuh, macam bujang lapuk yang haus belaian kasih sayang. Kalau ternyata anak-istrinya lengkap dan baik-baik aja, bisa jadi dia ‘ada sesuatu’. Guyonan, gambar, atau video yang dikirim; well, silakan dibayangkan seperti apa isi otak pria ๐Ÿ˜„ Ini bukan asumsi ya, sudah masuk ranah penelitian bahwa otak pria lebih banyak memikirkan soal empat huruf berawalan dan berakhiran huruf s itu ๐Ÿ˜‰

Tujuan saya scanning gawai suami ya ini, menghapus konten seronok, supaya tak dilihat anak-anak. Moldy mengamati detail dengan matanya. Shena sudah mulai membaca dengan baik. Kalau kami kecolongan, gagap juga dong cari penjelasannya ๐Ÿ˜‚

Selain itu semua, isu istri kedua dan betapa bahagianya bisa poligami adalah sejumlah topik yang selalu diusung dalam berbagai pose. Bahkan ada meme yang menyatakan bahwa, hukum dasar pernikahan adalah poligami. Hiyaaa…๐Ÿ˜ฎ

Continue reading Desakan Poligami

PR Anak Bukan PR Emak

Waaa, malesnyaaa kalau ada pesan dari bu guru, mohon bantu/dampingi anak saat mengerjakan PR. PRnya berantakan dianggap tanpa pengawasan ๐Ÿ˜ฏ

Buat satu anak difabel, waktunya mesti pas supaya dia berkenan dikoreksi, supaya dia tidak emosional. Buat satu anak saya lagi yang sregep dan agak perfeksionis, saya mesti mengatur cara agar dia tidak stress kalau tak bisa mengerjakan. Saya tak memasang target harus benar semua, asal paham saat ditanya dalam kondisi bebas, tanpa terikat pakem pelajaran, sudah cukup.

Sayangnya, saya kurang sepaham dengan sebagian guru dan kurikulum. Bagi seorang guru, 1-2 salah berarti saya tak mendampingi. Buat seorang anak, 1-2 salah sudah bikin dia stress, karena dia dimarahi kalau bertanya terlalu banyak ke gurunya. Nah, kita tak bisa pukul rata kan, target ortu atau guru bukan selalu sama dengan keinginan anak ๐Ÿ˜‰

Continue reading PR Anak Bukan PR Emak

Make-up Kondangan

Make up sebelum punya anak: pelembab, alas bedak, bedak tabur, bedak padat, eye shadow, eye liner, blush on, lipstick, concealer, maskara, pensil alis.

Meski tak mendetail para juru rias dan tak bisa merias orang lain, saya tahu sedikit kok soal riasan yang pas. Teknik shading biar mancung, menggambar alis mesti melewati tulang atas mata. Belajarnya, dari teman-teman yang selalu mengoreksi riasan satu sama lain.

Continue reading Make-up Kondangan