Tuli: Sebuah Identitas

Tuli, dengan huruf T kapital seperti halnya menulis nama, adalah sebuah identitas yang dipilih oleh para penyandang gangguan dengar. Mereka memilih berkomunikasi dengan bahasa isyarat, yaitu Bisindo. Sementara yang digunakan secara formal adalah SIBI. Apa perbedaannya?

Berikut informasi yang bisa saya rangkumkan mengenai gambaran komunitas para Tuli, yang sedang memperjuangkan legalitas Bisindo. Materi saya tuliskan sesuai dengan nama pembicaranya ya. 

Iies Arum
Seorang ibu dengan satu putra dan dua putri. Kisah bu Iies sudah saya baca sebelumnya di blog azizaku.com. Putra pertamanya menyandang tuli dan saat ini kelas 5 di sebuah SLB di Yogyakarta. Bu Iies berusaha keras agar Udana bisa mendengar dan berbicara, melalui dukungan terapi wicara dan alat bantu dengar. Namun Udana menginginkan yang berbeda.

Dua pernyataan Udana yang sangat menohok adalah:

Continue reading Tuli: Sebuah Identitas

Advertisements

The Spicher

One day, Shena came home with tears. She said, her teacher yelled at whatever she asked, also made a slap at her cheek sometimes 😨 At home, Shena asked me everything and I replied well. She thought it would be the same at school. No, of course, her teacher was so ‘old-way’ 😂


Jemi and I had made a silent committment, based on our own educational past, that we wouldn’t interfere too far. I was about to get angry, but I also wanted her to face the real world. So…
Continue reading The Spicher

Herd Knowledgeability

Seringkali, sebagian orang menangkap nada iba pada obrolan yang saya maksudkan sebagai woro-woro atau edukasi jika yang bersangkutan belum tahu. Piye ya, jadi serba salah begini. Cuma ingin menyampaikan pelan-pelan, bahwa Moldy dan semua teman difabelnya juga berhak memiliki kesempatan setara mereka yang bertelinga normal ☺

Jika saya baik sama orang lain, bukan berarti saya berharap dia juga baik sama anak saya. Sedang berusaha lillahi ta’ala. Pengalaman dan kenyataan yang saya jalani, tak sebanding dengan harapan ideal. Ada yang saya baikin, malah jahat sama Moldy. Ada pula yang saya cuekin, tapi malah baik sama kami. Ada juga  yang membalas sama baik. Tak bisa diperkirakan dengan rumus khusus. Saya percayanya, kebaikan itu program jangka panjang, pay it forward ☺

Continue reading Herd Knowledgeability

Tiga Pilihan

Tunarungu atau tuli, adalah salah satu kebutuhan khusus yang bisa disamarkan. Selama dia diam, tak kelihatan alat bantunya, dan juga tak berdampingan dengan kebutuhan khusus lain, seorang tuli nampak seperti seseorang yang normal. Pilihan penanganannya lebih bervariasi, dengan tingkat keberhasilan hampir mendekati normal. Sayangnya, pilihan penanganan seringkali dihubungkan dengan kemampuan material. Tidak sesederhana itu yaa 😐 Kerja keras tak bisa disepadankan dengan sejumlah uang berapapun…

Banyak sekali kisah implant, yang didanai dari bantuan sosial yayasan, utang, BPJS, dan yang paling diterima nalar masyarakat adalah, pendanaan dari asset orang tua yang melimpah ruah. Catat ya, implant bukan selalu berarti orang tuanya kaya, tapi yang mengusahakan pilihan maksimal (disertai kemampuan yang menunjang) demi kenormalan buah hatinya ☺

Dengan tingkat keberhasilan hampir mendekati sempurna, sebagian orang tua kemudian menggantungkan sepenuhnya pada ‘kesaktian alat’. Semakin mahal harga sebuah pilihan, pun semakin rumit perawatan dan perjalanannya menuju ‘sempurna’. 

Continue reading Tiga Pilihan

Selahir Sesar

Ibu rumah vs ibu bekerja, sufor vs asi, normal vs sesar, provaks vs antivaks,… Dalam pertikaian yang tak pernah saya campuri itu, posisi saya hampir selalu di tengah. Meski untuk pilihan pribadi ada kecenderungan ke kutub ibu rumah dan asi. Nah, untuk urusan vaksin dan proses kelahiran, kutub tradisional saya pindah arah. Vaksin jadi peragu, melahirkan sesar dua kali 😉

Seorang profesional bilang Moldy hiperaktif, antara lain karena dilahirkan via sesar. Lhooo… Shena juga dilahirkan dengan proses sama, kok normal dan baik-baik saja. 
Konon ibu yang melahirkan dengan cara operasi bukan ibu sejati. Seperti konon ibu bekerja tak punya kasih sayang dan totalitas seluas ibu rumahan. Jaga indera bicaramu, duhai wanita… 😮

-continue reading

Di Balik Kisah Inspiratif

Seorang teman pernah meminjamkan saya buku motivasi yang materinya dikumpulkan dari berbagai kisah di dunia maya. Ternyata kisah pertama, kedua, sampai di halaman acak sekalipun, sudah pernah saya baca 😮Saya putuskan tak membaca tuntas lalu segera mengembalikannya. Udah khatam duluan 😂

Teman-teman di medsos seringkali share kisah si ini dan si itu, yang sudah saya baca 2-3 tahun sebelumnya. Yaaa… Saya kebanyakan baca atau media kita yang kurang bahan ya. Kayaknya sih lebih pas yang kedua kok, beneran… Terlepas dari urusan perseteruan politik yang abadi; tertangkapnya Saracen, Jonru, TrioMacan menunjukkan betapa sedikitnya inti berita jika tidak diracik dengan ‘bumbu yang sensasional’ 😉

Jauh sebelum tertemukan dan tertangkapnya para peramu hoax, saya sudah eneg duluan. Silakan baca tulisan Anti Kebenaran dan Nyaman Baca Berita, Berita Nyaman Baca.

Sesekali saya ingat-ingat nama penulis di kisah pertama, ternyata sampai saya baca kisah yang sama beberapa kali, nama penulis jadi berbeda semua. Plagiasi itu kayaknya kok begitu dimaklumi ya. Nah, kira-kira apa sih latar belakang penulisan/pengcopasan sebuah info atau kisah inspiratif. Buat saya pribadi, menulis adalah terapi, melepaskan penat, menambah perbendaharaan kata dan pembelajaran, banyak…

Karena itulah, sejumlah kisah inspiratif yang menyentuh kalbu, seringkali menempatkan penulisnya sebagai penokoh utama 😉

-continue reading

“Mama Moldy…”

“Ini nih, si anak yang diludahi dan ditendang sama Zen,” adu seorang anak abege, ketika saya dan Shena melewati segerombolan anak di depan toko penganan. Duh nak, kenapa mesti nunggu temanmu ngumpul baru kamu bilang? 😯 Kita kan tiap hari ketemu…

Si anak yang dia maksud adalah Shena. Zen yang dia maksud adalah anak kebutuhan khusus yang tiap sore datang ke rumah saya, menggoyang pagar, seraya memanggil dengan lembut, “Mama Moldy.”

‘Petugas patroli’ sore

“Haaaii…” sapa saya antusias. 

“Minta es krim,” katanya tanpa basa-basi. Sekali dikasi es krim bikinan saya sendiri, tiap ketemu minta es krim terus 😒

-continue reading