The Way He Loves

Soal nggombal, Jemi tak pernah jadi jagoan. Pernah sih, sekali dua kali dia memujiku, waktu awal kami pacaran, waktu awal menikah. Semuanya waktu awal. Habis itu sudah, kayaknya dia sadar kalau itu bukan dia banget.

Dia juga suka protes kalau kami terlalu mesra di depan umum, tepatnya aku yang sok mesra. Macam sinyal kepemilikan gitu. Dalam bahasa binatang, mereka bakal mengencingi daerah yang jadi wilayahnya. Wanita, biasanya ‘semacam itu’, dalam signature berbeda tentunya. Iya lah, kami kan bukan binatang yang bisa kencing sembarangan πŸ˜€

“Bang, do you love me?”
“Nggak,” jawabnya datar.
Lalu aku ngambek dan dia tetap cuek.

Saat aku persiapan lahiran, yang dia lakukan pertama kali setelah terpisah sekian jam aja, dia ciumi keningku dan genggam tanganku, tanpa kata-kata. I was blushed but weak, karena menunggu jadwal operasi dan semalam kami baru bertengkar sepele soal kecerobohanku dan kegalauannya. Bikin sensi juga, karena aku pas hamil tua. Tak hanya itu, meski cape karena harus wira-wiri sendiri dari kerja dan menemani aku abis lahirannya Shena, dia juga diam aja, waktu aku marah-marah karena dia telat nganter aku pipis atau telat datang. Meski sebelum lahiran, aku udah siap-siap menstabilkan emosi, karena udah pasti tak ada pihak keluarga yang akan menemaniku selain Jemi. Ternyata banyak hal tak terduga yang menantang kesabaranku.

Saat lihat saluran pembuangan selalu penuh dengan rambutku yang rontok, dia bergegas beli paket perawatan rambut rontok. Berhubung aku cueknya agak parah soal perawatan, krimnya gak sempat kupake, tapi alhamdulillah, udah gak rontok lagi, saat masa menyusui Shena udah berakhir.

Suatu pagi aku muntah hebat, karena malamnya lupa makan, kecapean ngurusin anak-anak. Dia bangun sambil marah-marah,
“Makanya makan, jangan lupa melulu,” katanya ikut bangun, karena aku berisik banget. Padahal pas muntah karena hamil, dia juga yang beresin muntahku. Things so immediately changed, begitu pikirku, dongkol. Udah tahu sakit gini, dimarahin melulu. But, I was wrong.
Ternyata maagku kambuh, seharian aku menggelepar di kasur. Sakit banget. Moldy dan Shena datangin aku bolak balik ngajak main kayak biasanya, aku gak sanggup apa-apa. Jemi langsung ambil cuti hari itu, masak telor buat dia dan anak-anak, mandiin dan nemani mereka main, cuci piring, lalu bawel mengingatkan aku minum obat. Tahu kan di mana salahku berprasangka.

Tiap kali nyuci, sejak jaman dulu, kakiku selalu kutu air, sembuh bentar, kambuh lagi, gitu aja terus. Paling parah, sampe jalanku jinjit, karena hampir seluruh telapak kakiku lecet kecil-kecil, perih banget. Aku ga ngeluh atau marah, tapi Jemi jadi marah atau bawel kalau aku ketahuan nyuci. Alhamdulillah, aku berhenti nyuci. Kadang-kadang sih, sembunyi-sembunyi karena gak tahan lihat cucian numpuk, biar gak disemprot sama dia.

Jemi sering pulang lebih malam daripada teman-temannya, ternyata dia sibuk muterin toko, nyariin jatah mainan buat anak-anak. Kalian tahu gak, adegan Gru nganterin anak asuhnya balet di film Despicable Me? Yaah, sepertinya itulah ekspresi tersimpan para ibu waktu aku cerita kalau Jemi selalu repot belikan mainan buat anak-anak, nyuci pakaian, nyapu ngepel, and for your surprising information, I never ask him to.

“Lantainya belum kupel ya, aku buru-buru,” pamitnya dengaan penuh sesal ketika tak beres menjalani tugasnya. Aku bilang gapapa, aku bakal bersih-bersih kalau aku mampu. Selama anak-anak belum sekolah, tugas utamaku adalah bersama mereka.

Tahun lalu, dia ngajak aku beli kacamata minusku yang sekarat, udah hampir tujuh tahunan, beli pake asuransi kantorku pulak. Aku milih sambil bingung, ini bajet berapa. Maklum wanita, selalu milih yang murah kan, meski dibayarin. Eman, buat duit belanja aja :P. Dia nemenin aku milih, melihat apakah frame yang kupilih sesuai dengan bentuk wajahku. Sebenarnya aku agak gak pede, aku kan udah jarang merawat wajah, ga berani bersirobok dengan dia lama-lama, takut dia sadar bahwa istrinya uda mulai berflek hitam dan kusam. Tidaaak… Tapi Jemi nampak tak peduli, mengamatiku detil lalu memutuskan frame mana yang paling sesuai untukku.

Habisnya ga sampe lima ratus ribu, itu pun dia yang milihin paket mana. Waktu udah deal, dia yang nyesel, kok gak milih yang merk Levis atau Cartier gitu, yang harga framenya aja sejeti lebih. Dia pas lagi kaya waktu itu, habis dapat bonus tahunan dari bos πŸ™‚

Kalau ditanya apakah Jemi ganteng, aku gak bisa jawab. Kayaknya dia ganteng waktu bulan purnama aja, πŸ˜€ semacam werewolf gitu yak. Setelah nikah, kalian akan sadar bahwa ganteng itu nomor kedua puluh enam dari urutan prioritas ‘apa kriteria bapak dan suami yang baik’. Jangan terkecoh dengan ala sinetron atau novel picisan, bahwa ada pria ganteng, baik hati, kaya, perhatian, suka menolong, rajin beribadah, setia kepada satu istri, suci dalam.pikiran perkataan perbuatan. Eh, lu kira kriteria pria itu macam dasa darma pramuka. In your dream, my dear. Kalau kalian pernah mengecap pahit manis kehidupan, tentu kalian akan ikut mengamini petuahku. Hah, petuaaah πŸ˜€

Jemi ngajari aku, tanpa teks tertulis, cara mencintai yang tepat. Dia mungkin ga pernah baca ulasan nasehat cinta dari Erich Fromm, bahwa cinta itu jangan berharap balasan, in fact, dia menyerap ajaran itu jauh lebih baik dariku yang kebanyakan teori ini. Dia juga menjalani kebiasaan Rasulullah yang suka membantu istrinya dalam hal pekerjaan rumah tangga, meski dia ga tahu banyak kisah Nabi. Membaca aja dia sulit πŸ˜›

Selama aku kuliah secara online dan otodidak, aku belajar beberapa hal penting. Kalian tak bisa banyak berharap seseorang akan menjadi seperti yang kalian inginkan, tapi kalian tetap bisa berharap kebaikannya akan memancar saat kita menyadarinya. Jemi bukan sosok yang sempurna, tapi semenjak aku memicingkan mata pada kekurangannya dan membelalak pada kelebihannya, aku semakin merasa dicintai.

Bagaimana dengan kalian? πŸ™‚

Sumber gambar

–>

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s