Mbah e

hihihi, pinjam dong mbah
hihihi, pinjam dong mbah

Ini cerita saat kuliah, saat aku kos di tempat pertama. Selama kuliah hingga bekerja, lalu menikah, aku hanya sempat dua kali kos. Ada suka duka, dan aku males gonta-ganti suasana terlalu sering.

Suatu sore, aku menghabiskan waktu di kamar Raras bersama Raras dan almarhumah Nena. Nena yang pandai, tapi malasnya minta ampun. Jika sedang mengerjakan sesuatu sambil menyanyi sayup-sayup, karena memang begitu karakter suaranya, aku kasihan. Aku datang berjingkat-jingkat padanya lalu memberikan sebutir uang logam, supaya dia segera menyelesaikan lagu kesedihannya. Dia tak marah, malah tertawa terbahak-bahak 😄

Sore itu, entah dari radio mana, ada yang memutar musik tradisional Jawa ala suroboyoan. Tiba-tiba aku seperti kerasukan setan mbah, aku tampil bak stand up comedy dengan logat mbah-mbah berbahasa Jawa, mengambil bahan omongan apapun yang bisa kuingat, yang membuat Raras dan Nena tertawa terbahak-bahak, tanpa henti. Mereka bahkan tak sempat mengabarkan kepada yang lain untuk bergabung, karena terlalu serius memegangi perutnya yang sakit melihatku ‘kerasukan’. Aku tak tahu kenapa, tapi aku tak bisa berhenti nembang banyolan sampai suara musik itu berhenti untuk jeda iklan, dan aku tidak tertawa. Aku tertawa seperlunya mengikuti mereka berdua, saat aku sudah selesai. Mereka mulai bisa bernapas, dan keluar kamar untuk mengabarkan kepada yang lain soal tadi.

“Ish, kalian tadi ga lihat dia (aku) jadi mbah-mbah lucu banget, aku sama mbak Raras ga kuat nahan ketawa. Gimana, mbah?” tanya Nena memintaku mengulangi.

Aku menggeleng, setan yang merasukiku sudah pergi. Hahaha… 😀

Sejak saat itulah aku dipanggil mbah e, meskipun ada banyak mbak-mbak kos yang jauh lebih tua dariku, tapi mereka tak pernah kerasukan setan mbah lalu melakukan stand up comedy dengan larikan Jawa yang konyol macam aku. Bahkan hingga hari ini, masih ada saja beberapa teman yang memanggilku demikian.

Aku tak tahu apakah itu sudah digariskan, ternyata rambutku memang memutih lebih cepat (sejak kelas lima SD aku sudah ubanan, kayaknya sih turunan), dan gigiku juga cepat keropos. Gigiku banyak yang sudah tanggal, meski tak semua, dengan durasi jauh lebih cepat dari temanku seusia bahkan yang lebih tua dariku, dengan pola makan yang hampir sama saja. Maksudku meskipun aku penggemar coklat, tapi ada yang lebih parah menggemarinya (makan coklat dengan cara kremus, bukan emut), tapi giginya baik-baik saja. Aku juga mengalami sakit pinggang sejak muda, memiliki kulit yang tak terlalu kenyal daripada teman-teman seusiaku, agak menggelambir gitu, persis kayak model kulit Mamak. Sampe ada teman yang senang banget bermain-main dengan kulit, tangan, lengan, atau kakiku karena bisa dicubit besar dan empuk.

Tak hanya itu, Netta kadang diam-diam mengamatiku lalu mengatakan betapa tuanya diriku. Aku sewot saat itu, karena Netta itu selalu usil tiada tara 😀 Dia tak berhenti mengatakan aku tua saja, meski sebenarnya dia juga peduli kok. Dia sarankan aku memakai busana dengan warna terang demi membuatku tampak lebih muda. Kadang aku milih warna terang, pas waras, lalu kembali lagi ke barisan hitam, coklat, krem, biru, entahlah… 😦

Well, sebenarnya aku memang sudah mbah sih, mbah keponakan, aku sudah punya cucu, yaitu anak dari keponakanku. Usia sepupu yang melahirkan keponakanku itu beda sedikit dengan usia orang tuaku. Tahu aja kan, oran tua jaman dulu punya anak banyak, sampai-sampai usia anak dari kakak pertama sama atau lebih tua daripada usia adik terakhir. Itu yang terjadi di keluarga besar dari pihak Mamak.

Saat aku mengeluh karena gigiku satu per satu undur diri, dengan alasan bolong, rapuh, tak dapat dipertahankan, juga karena salah perawatan dari dokter; Jemi mengguyoniku,

“Beneran deh, kalian (Moldy dan Shena) nanti kalau sekolah, bukan dianter sama Bubun, tapi sama mbah,” dengan wajah guyon yang dia seriuskan.

Jemi tak pernah mengulangi guyon itu lagi, meski aku sering mengejek diriku sendiri dengan sebutan mbah. Mungkin kasihan melihatku kesakitan setiap saat, pipi bengkak, hingga repot atur waktu wara wiri ke dokter gigi. Pernah, saking lebay takutnya, aku ‘pamitan’ padanya, nitip utang yang mesti dia bayar, lalu minta didoakan selamat menjalani operasi geraham belakang. Aku takut juga kali, kalau mati mendadak, kan awalnya gigiku sakit banget. Udah ah, ceritanya kapan-kapan…

–>

Advertisements

One thought on “Mbah e

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s