Polijemi

Entah di usia berapa, saat tahu bahwa seniman Rendra telah menikahi Sitoresmi sebagai istri kedua, aku sedang ‘mempersiapkan’ mental bilamana terposisi sebagai Sitoresmi. Hihihi, mikirnya kejauhan yak, melompati usia yang masih seuprit 😁 Maklum sering dikasi wejangan ayat dan hadist sama Dunan, sejak masih SD.

aku ga mau kayak gini :D
aku ga mau kayak gini 😀

Suatu sore, bersama beberapa teman kos, kami membicarakan tentang seorang pria dari Tulungagung, yang menyiksa para istrinya. Kejam banget, salah satunya sampai menggunting kemaluan istrinya. Astaghfirullah, naudzubillah 😥 Si pria ini sangat pencemburu, meski istrinya dua. Noleh dikit aja udah dianggap tebar pesona. Seringnya alasan cemburu itu benar-benar gak masuk akal. Sedihnya lagi, si bapak ini ora ganteng, (maaf) cebol.

“Biasanya malah begitu, laki-laki dengan sekian kekurangan itu yang malah belagu, takut diinjak-injak hak dan kebutuhannya kali ya…” analisa seorang teman.

Dalam beberapa kali pengamatan pribadi pada orang-orang di sekitar, pria yang baru sadar kalau dia ganteng dan pandai tapi lupa memanfaatkannya dengan baik (saat masih bujang), juga bisa melakukan hal yang sama, menyiksa istri karena cemburu. Bisa itu berkemungkinan ya, tak selalu berakhir demikian. Apakah agama bisa menghentikannya? Emm, tergantung seberapa banyak dia percaya bahwa akhlak religi sebenarnya sudah cukup menjawab banyak pertanyaan, serta menempatkan wanita pada posisi yang lumayan tinggi dan agung. Setelah aku ngobok-obok isi Alquran, meski belum total, ditambah dengan pandang beberapa syech (laki-laki juga kan..), ternyata poligami itu dibolehkan jika MAMPU BERLAKU ADIL.

Pertanyaannya, jika Rasulullah yang berakhlak paling mulia itu, punya banyak istri yang dinikahi berdasar petunjuk Allah, kebanyakan janda dan hanya satu yang masih perawan, lalu poligami masa kini itu merujuk pada siapa? 😥

Pertanyaan selanjutnya, jika Rasulullah yang sedemikian baik dan berusaha seadil mungkin, masih aja ditegur Allah karena dianggap tidak adil, lalu apakah para penganut poligami sekarang itu bakal bisa lebih adil daripada beliau? 😦

Pertanyaan selanjutnya, jika memang niatnya demi membantu wanita yang jumlahnya melebihi jumlah pria, kenapa kok milih yang masih muda, yang masa depannya cerah terbentang, malah bukannya janda atau perawan tua yang (maaf) susah laku? Dan kemudian akan disambung dengan, “kan mereka mau…” 😟

Pasti akan ada sanggahan, bukannya dalam Alquran itu ada kata-kata itu?

Errr…

Aku, yang dibesarkan secara sekuler, sempat berpikir, kenapa sih harus memuliakan Muhammad, bukankah beliau manusia biasa? Lalu kenapa Allah membolehkan Nabi berpoligami? Seolah semacam lisensi tunggal untuk melakukan hal serupa lalu melegalisasinya sebagai sebuah kebolehan, yang memposisikan wanita di sebuah persimpangan takdir. Udah secara fisik, jauh lebih sering menderita daripada kaum pria, masih harus memberikan kunci surga dengan membiarkan suaminya memiliki wanita lain secara sah dan mubah. Surga tak harus dibuka hanya dengan poligami bukan? ☺

Rasulullah menikahi Khadijah yang janda, beda usia 15 tahun lho. Rasulullah masih 25 tahun dan istri yang memilihnya ini lebih tua. Namun Khadijah sangat dicintai, karena beliaulah yang pertama kali menyatakan keislaman dan dukungan saat Nabi mendapat perintah untuk berdakwah, dukungan secara moril dan materiil. Nabi hanya beristrikan Khadijah cukup lama, sampai kemudian menikah dengan Aisyah, satu-satunya perawan. Sejarah simpang siur, ada yang mengatakan Aisyah 17 tahun sehingga sudah datang bulan dan boleh dikumpuli. Ada yang mengatakan Aisyah masih 9 tahun, sehingga Rasulullah tidak mengumpulinya hingga dia sanggup. Rasulullah dianggap sebagai pedofil, astaghfirullah 😨 Padahal, beliau bahkan tak mau berhubungan badan dengan istrinya di kamar, yang ada anak-anak di dalamnya. Harus terpisah. Nabi ini sangat mencintai dan menghargai fitrah anak-anak sesuai usianya. 

Dikatakan Nabi memiliki napsu 30 lelaki. Bayangin aja ya, pria 1 napsu yang ada di dirinya bisa tak terkendali kayak gitu, apalagi 30. Nah, apakah Nabi jadi orang bejat yang suka nampar dan menyiksa perempuan, moroti kekayaan para istrinya, mabuk-mabukan, atau, mengutip dari sebuah kisah di Catatan Hati Seorang Istri, jadi teko yang suka menuang isinya sembarangan? 😑Ngapunten Rasul, ini bukan bermaksud menghina anda. Saat aku mengetahui kekurangannya dan memahami kelebihannya, aku belajar satu hal penting. Beliau adalah manusia, bukan Allah yang sempurna. Allah menganugerahkan kekurangan justru untuk menyempurnakan fitrahnya sebagai manusia ☺

Nabi membantu istrinya bekerja di rumah tangga. Nabi tak marah, sewaktu pulang malam tak dibukain pintu karena istrinya ketiduran. Beliau memilih tidur di luar rumah daripada menggedor pintu malam-malam. Sewaktu terjatuh dari onta, yang ditanyakan Nabi pertama kali bagaimana dengan istrinya, apakah terluka.

Nabi juga melindungi seorang wanita kafir yang diutus musuh untuk mempermalukannya. Wanita ini mengirimkan jeruk masam untuk dibagikan kepada Nabi dan jamaahnya. Dalam tradisi Islam, pemimpin harus jadi yang pertama memastikan keselamatan anak buahnya, yang pertama maju saat perang. Nabi mencicipinya, demi memastikan rasanya. Jeruk masam itu beliau tandaskan di depan wanita tadi, beliau ucapkan terima kasih diiringi pandangan aneh para sahabatnya, kok tumben tak berbagi. Setelah wanita itu undur diri, barulah beliau mengatakan bahwa dia tak mau mempermalukan wanita itu di hadapan para sahabat, karena jeruk itu sangat masam. Subhanallah…

Nabi juga manusia biasa. Pernah dihunus pedang, diludahi, dicaci maki, dihina. Saking beratnya hinaan yang diterima dan dijalani Nabi, Allah membolehkan malaikat Jibril membantunya, namun beliau tak mau, merasa harus menyelesaikan tugas dan kewajibannya 😥

Almarhum pelukis Affandi, yang menikahi pembantunya, karena disuruh sama istrinya.
Ada ustad yang disuruh nikah lagi sama istrinya, karena mereka udah belasan tahun tak punya anak. Ustad ini tak mau poligami. Istrinya maksa terus, akhirnya si ustad ngajuin syarat, dicariin sama si istri dan dia harus seorang janda yang punya anak. Benar, si istri menemukan wanita bersyarat itu. Pak ustad akhirnya menikah lagi dengan tangisnya sendiri, juga dengan ketegaran istri pertama. Istri pertama memiliki anak beberapa tahun kemudian, hubungan kedua istri sangat baik 🙂

Lalu kenapa Alquran malah seolah membolehkan poligami dan seperti menghina wanita? Kan banyak tuh, ayat yang menunjuk istri-istrimu, ladang-ladang bagimu, bla bla bla…

Bisa jadi, itu menunjukkan bahwa sekalipun dibatasi aturan paling strict sekalipun, akan susah bagi beberapa pria untuk tidak poligami dengan berbagai macam acara pembenaran. Iya atau iya? 😉

Julio Iglesias mengaku lho kalau dia meniduri 1000 wanita tanpa ikatan pernikahan. Ada negara di Eropa yang menghalalkan perselingkuhan. Tak ada yang menghujatnya? Lalu kenapa Nabi yang masih teguh menjaga akhlaknya dan menghormati wanita malah dihina-hina? Bahkan saat Ali akan melakukan poligami juga, Nabi yang sangat mencintai Fatimah (salah satu wanita yang dijamin surga), tidak membolehkan Ali meniru beliau lho…

Lanjut ya, jumlah wanita lebih banyak. Wanita tak gampang mati, lebih tahan menderita daripada pria. Jika dimisalkan ada seorang anak laki-laki dan seorang anak perempuan mengalami pelecehan seksual, kemungkinan bodoh-bodohan si wanita akan lebih mudah survive dengan normal, kalaupun trauma dia sanggup memilih untuk tidak menikah. Sementara si anak lelaki yang tumbuh menjadi pria, akan meng’copas’ metode sama dengan yang pernah diterimanya di masa kecil itu.

Robot Gedeg, Baeguni, serta para pelaku pedofil, semuanya adalah korban di masa kecil. Semoga Mark dari JIS dapat treatment yang tepat, supaya tak jadi virus bagi yang lain 😥
Billy yang memiliki 24 kepribadian (kisahnya sudah dibukukan) adalah anak yang mengalami pelecehan seksual oleh ayah tirinya.
Polanya selalu begitu. Pria tak normal adalah sebagian hasil didikan dan pengalaman masa kecil, mereka meniru dengan baik, sebagai pemilik logika besar dan perasaan minim, jika dibanding wanita. Jadi bayangkan berapa persen populasi pria yang diluluhlantakkan oleh kaum mereka sendiri, yang memunculkan celah untuk ‘kebolehan’ berpoligami. Tentu, masih ada pria baik-baik yang lebih memilih monogami ☺

Meski secara fisik pria memang makhluk kuat, kulitnya tebal, macho, namun secara mental mereka tak lebih kuat daripada wanita, karena itu mereka dikaruniai sedikit perasaan.
Bukti, pria yang depresi akan lebih mudah bunuh diri atau terjerat kasus kejahatan atau obat terlarang. Banyak kasus kan, mendiang Robin Williams, mendiang penulis Sadeq Hidayat, hingga yang masih survive dengan mengkonsumsi narkoba seperti Tessy, Fariz, Sammy, dan banyak lagi.

Wanita terlahir kuat, tanpa terlalu banyak dukungan, itu sudah fakta, hanya perlu kesadaran saja. Coba ingat rasa sakit berikut ini.
Saat pertama kali tumbuh buah dada.
Menstruasi. Sampai ada lho yang pingsan, saking sakitnya.
Saat selaput dara pecah di coitus pertama.
Saat hamil dan membawa beban selama 9 bulan.
Melahirkan, baik normal maupun operasi, semuanya penuh darah dan luka.
Menyusui saat gigi anak-anak tumbuh.
Menuju masa menopause pun dengan kesakitan.

Itu yang normal ya, yang tak normal macam korban kdrt… 😥 Badan membiru hingga cacat, suami gila alias tidak waras, tidak dinafkahi lahir batin, mereka menuntut apa selain berusaha bertahan demi anak-anak?

Laly kenapa harus wanita? 😯

Wanita adalah madrasah, bagi anak-anaknya, tongkat estafet peradaban ada padanya, secara ruhiyah. Wanita rela melakukan apa saja demi mencapai tujuan mulia bagi keluarganya.

Apakah dengan begitu gantian kita yang menginjak pria?
Life is a ball of yin yang.
Ada warna hitam putih, beralun.

Menjaga seorang pria bukan dengan menghina harga dirinya, mengungkit kesalahannya di masa lalu, atau menuntutnya berlebihan. Namun dengan memberinya contoh, mencintai kekurangannya dan mensyukuri kelebihannya, karena wanita punya banyak karunia perasaan yang bisa dimainkan dalam ranah apapun.

Pria yang melakukan perbuatan buruk, seperti selingkuh dengan alasan poligami atau apapun, menyiksa istrinya, tidak memberi nafkah meski itu kewajibannya (kecuali benar-benar tak mampu), sebenarnya hanya menggarisbawahi kekurangannya. Bahwa mereka tak sanggup move on dari masa lalu, tak sanggup menggunakan karunia logika yang demikian besar untuk memupuk kebaikan. Melihat masa sejarah yang menempatkan pria sebagai makhluk berperang, lalu sekarang jarang perang, seharusnya alokasi energi itu digunakan untuk memerangi kebatilan, jika memang ada ego untuk menang dan menjadi pemimpin.

Hmmm, poligami jadi kemana-mana yak. Semoga bisa segera menulis edisi revisi, yang lebih baik 😉 Amin.

Gambar ibu dan anak

Gambar gandengan tangan

Advertisements

6 thoughts on “Polijemi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s