Mamak dan Ramalan

Aku pernah membohongi Mamak, beliau hanya diam, pandangan matanya cukup banyak bicara, “I know what you did last summer.” 😄

Jadi, no way, lebih baik aku bilang apa adanya, daripada membuat Mamak mikir atau menelanjangiku dengan pandangan mata bak singa menerkam menjangan. Lagipula, aku tak pandai berbohong, rasanya hidungku plenthus-plenthus, kupingku naik turun, bola mataku ingin berputar sendiri, atau perutku berasa agak perih. Hanya penipu kelas kakap, yang bisa memanipulasi reaksi alami tubuh itu πŸ˜‰



Pengetahuan berdampingan dengan kawruh sakdurunge winarah. Mamak berbakat meramal, dan mendiang Ninih sempat memanfaatkannya. Pernah Mamak dikasi lauk gratis serantang susun, habis ngasi tahu seorang ibu cara mbethok arisan. Pas aku nanya, Mamak bisa dari mana, Mamak juga tak tahu. Untunglah, Mamak tak tergoda ngetem ngasi tebakan SDSB atau Porkas untuk membantu ekonomi kami. Alangkah enggaknya, jika kami makan enak dari uang haram 😄

Mamak selalu tahu siapa saja temanku, dan bagaimana mereka. Waktu sekolah, aku ini bagai Mamak-addicted, selalu bergantung pada penilaian beliau yang kebanyakan memang benar. Sampai kemudian saat kuliah, aku mulai ketemu orang-orang nggak bener, Mamak mengeluarkan jurus ramalan yang kutangkis dengan diam atau tak peduli. Mamak tak rela aku berteman dengan orang-orang negatif macam perokok, tukang selingkuh, suka dugem, semacam mo-limo lah (5M jenis kejahatan). Aku merasa harus tahu semua itu, tanpa ikut melakoni. Ndableg, hehehe…

Aku mulai menyembunyikan nama-nama temanku, demi mengurangi ketergantungan, atau malas mendengar ramalan negatif Mamak. Tapi jangan melawan kekuatan pikiran seorang ibu ya. Mamak sendiri adalah pengorek handal, pendengar yang baik, pengingat super (tidak menderita short term memory lost kayak aku), juga penyimpan rahasia yang belum terpecahkan πŸ™‚


Kemampuan beliau menurun, sejalan dengan usia, juga beberapa masalah yang mendera.
“Mamak sedang kalut, nduk, ga bisa mengenali bagaimana teman-temanmu,” keluh Mamak suatu hari, saat aku coba ngetes Mamak tentang beberapa orang teman.

Aku seneng juga, aku bisa belajar menilai dan berprasangka sendiri. Tentu aku bukan Mamak yang bisa meramal giliran arisan siapa kali ini. Bisa aja sih, tapi bisa dipastikan salah. :p Hahaha… Aku kadang meramal dalam hati dan tidak kucetuskan. Jika benar, aku bersorak. Jika salah, ya sudahlah.

“Mamak, kata-kata panjenengan itu setajam silet. Maaf lho Mak, ini kenyataan,” kataku sambil meringis.

“Memang,” aku Mamak dengan datar.

“Kata-kata Mamak sudah banyak yang terjadi lho,” aku mengingatkan.

Mamak diam saja. 

“Kalau begitu, aku memohon Mamak mengatakan yang baik-baik saja.”

Mamak cuek, ngapain nggubris anak bungsu yang lahir kemarin sore, hihihi…

Kondisi itu cukup menguntungkanku lho. Saat semua berpikir genting dan aku malas turut campur, aku bisa pergi begitu saja tanpa harus merasa bersalah. Aku juga bisa memasang tampang tak peduli, saat mereka memberiku nasehat yang sebenarnya aku sudah tahu lebih banyak, dari luar. Melawan kan percuma, jadi aku diam dan membiarkan mereka bahagia memberikan ceramah πŸ˜€

Di usia yang semakin senja ini, ramalan Mamak berganti dengan kabut hitam prasangka dan keluh kesah. Awalnya aku melawan dan mencoba meluruskan Mamak, namun itu percuma. Aku diam mendengarkan beliau, menanggapi seperlunya, atau segera mengalihkan jika mulai membahayakan emosi beliau.

Emosiku, alhamdulillah, mulai lumayan. Aku merasa sangat menyesal jika talk back pada Mamak, terlepas dari siapa yang bersalah. Aku segera minta maaf dan mempersilakan Mamak marah-marah lagi padaku. Hihihi…

Baik Winnie dan Hiu, juga menyadari hal yang sama, kami berusaha memaklumi Mamak hari ini, dengan caranya sendiri-sendiri. Berhubung Mamak memiliki kata-kata ‘tuhan’ (seperti ibu lain juga), maka yang bisa kami lakukan adalah, menjaga kestabilan emosi beliau.

Semoga kami semua dimampukan terus menjaga kesabaran menemani Mamak, seperti beliau memelihara kesabarannya selama belasan hingga puluhan tahun dalam mengasuh kami. Amin.

Gambar bola ramalan

Gambar puzzle

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s