Menaklukkan Moldy

Aku ‘berkenalan’ kembali dengan Moldy di usianya yang kedua. Saat aku memutuskan untuk menggantung sepatu kerjaku dan berjibaku dengan urusan rumah tangga, yang nampak sepele namun tak pernah usai ๐Ÿ™‚

Aku masih butuh waktu untuk berdamai dengan bawaannya sebagai penyandang tuna rungu. Itu belum termasuk vonis lokal yang sok tahu, yang menuduhnya sebagai ADHD, autis, nakal. Itu sangat membuat dada dan telingaku sesak. Tubuhku makin kurus, sementara aku dan Jemi sama-sama kebingungan bagaimana harus bertindak.

Moldy mulai menunjukkan kuasanya, dia selalu meminta apapun yang dia mau saat itu juga, dengan cara apapun. Jika tidak dituruti, dia mengancam dengan cara membenturkan kepalanya ke pintu atau tembok atau apapun yang keras. Refleks, aku dan Jemi melarangnya diliputi amarah. Itu tak mempan. Mau tak mau, kami melayangkan cubitan, yang membuat rasa sakitnya teralih dan dia menghentikan benturan. Hasilnya kaki dan badannya penuh dengan lebam cubitan ๐Ÿ˜ฆ
Malam-malam, saat Moldy tidur, aku menyingkap bajunya dengan penuh rasa sesal. Aku menciumi lebamnya dan meminta maaf dalam tidurnya. Orang tua mana yang ingin melakukan kekerasan pada anaknya. Di antara dua pilihan sulit, kepala yang bisa berpengaruh ke otak atau badan yang menjadi biru lebam.

Aku tak tahan lagi, ini tak bisa dilanjutkan, menghentikan kekerasan dengan kekerasan. Aku segera browsing cara menghentikan tantrum penuh resiko itu. Aku temukan pelukan beruang. Jemi sudah siap menggunakan jalan pintas mencubit, saat aku kewalahan. Aku siap menangkis tangannya, ini semua harus mulai dihentikan. Now or never ๐Ÿ’ช

Aku memeluk Moldy dengan erat, mengunci bagian tangan dan kaki. Moldy terus berontak, dengan cara membenturkan kepalanya ke kepalaku. Demi Pat Morita, dia benar-benar juara smack down alami :D. Sambil memeluk, sambil aku mengucap seribu macam doa yang kuingat. Ya Allah, semoga bisa kukendalikan emosiku sendiri ๐Ÿ™‡

Aku lupa berapa kali aku melakukannya, Moldy mulai melunak. Jika dia bersiap membentur lagi, aku siap menghindarkan tubuhnya atau menyingkirkan barang-barang keras di sekitar. Tapi bukan Moldy, jika dia tak menawar. Tuntas di rumah, dia menantangku di mall, toko, dan di semua tempat umum, siap mempermalukanku sampai aku menyerah ๐Ÿ˜ฏ

Dia juga mesti tahu tahu bahwa Bubun ini juga siap bertarung habis-habisan. Aku melakukan hal yang sama, di ITC, Giant, Royal, toko kelontong, dan di mana saja. Kami bergelimpangan bak anak pelajar tawuran. Aku tak selalu mampu, sekali waktu aku menyelesaikan dengan cubitan kecil yang telah cukup menghentikannya. Tapi itu jarang, dan aku menganggap diriku kalah jika sampai mencubit lagi.
Bagaimana aku bisa?
Apakah cukup dengan tekad bulat dan pengetahuan cukup?
Tentu tidak, logika saja tak akan sanggup membangun pondasi pertahanan emosi yang stabil. Aku sering bersimpuh dalam sepi, bersujud begitu lama, hingga benar-benar menangis di hadapan Moldy, mengapa dia begitu sukar ditundukkan. Aku berhenti berdoa akan perubahannya, tapi aku berdoa untuk kekuatanku sendiri.

Anda tahu kan, apa sajakah yang biasanya dilakukan anak tantrum? ๐Ÿ˜‰ Mohon dipahami bahwa itu wajar, bahwa anak-anak, terutama yang berkebutuhan khusus, memang belum paham cara menyampaikan keinginannya. Semisal yang paling sering itu memukul, menjambak, mencubit, menendang, menyiram air, menggigit, melempar mainan, menghentak-hentak di atas motor dan mematikan mesinnya, lari dari rumah, atau bahkan juga menarik seluruh pakaian sampai lepas atau kendor (alhamdulillah yang itu pas di rumah โ˜บ)

Sempat sih, merasa sakit hati, saat seorang terapis mengatakan aku kalah dengan Moldy, akan menuruti apa saja maunya jika dia berulah. Padahal saat mereka bertemu, Moldy sudah mulai takut dengan pelototan mataku. Sebelumnya, jangankan takut, melihat saja tidak pernah mau ๐Ÿ˜

Penampilanku mungkin memang menipu. Tetanggaku bilang, aku lemah gemulai dan pendiam, hehehe… Mereka begitu terkejut melihat aku lari secepat kilat, demi menghindarkan Moldy dari sebuah mobil yang berjalan. Kamitenggengen, sampai baru kepikiran itu mesti divideokan ๐Ÿ˜‚Mereka juga melongo dengan wajah iba, saat aku bergumul sampe ngesot di tanah, demi menghalangi Moldy berbuat kerusuhan. Mereka juga turun tangan membantu mengejar, jika Moldy ngambek melarikan diri keluar gang menuju jalan besar perumahan. Dia pandai bersembunyi dan tak kenal takut ๐Ÿ˜•

Aku hanya sesekali saja bercerita kepada Jemi. Badanku sudah remuk menjelang malam, sudah tak bisa menangis lagi, kadang tertidur begitu saja tanpa ada niatan tidur.

Pukul sembilan, sepuluh malam, kadang aku masih di luar rumah, mengawasi Moldy dari kejauhan. Jemi cape, dia angkat tangan, masuk ke rumah. Aku harus tarik ulur strategi. Jika terlalu napsu mengejarnya, Moldy makin menjauh. Jika aku lengah sedikit saja, dia akan bersembunyi. Dia memang kembali ke rumah akhirnya, tapi siapa mengira ada apa di antara jeda harap, untuk seorang anak belum bicara, belum genap lima tahun, dan tak mau tahu apapun perintah orang tuanya?

๐Ÿ˜ข๐Ÿ˜ข

Moldy mulai membaik di usianya yang kelima. Banyak orang memberikan kesaksian atas perubahan baiknya, alhamdulillah akhirnya mulai ada titik terang โ˜บ

Mengenai bagaimana detail caranya, sekilas bisa dibaca di tulisan Pengalihan Umek dan ADHD, Ya Sudahlah…

Moldy memang masih menantang kesabaran, meski tak seganas dulu. Efek buruknya, aku mulai banyak menganggur, mulai bosan, life is sooo flat. Belagu amat yak, padahal misal disuruh ngulangi masa-masa itu, ogah juga sih ๐Ÿ˜

Sehabis ‘dididik’ Moldy, rasanya keburu pengen nangani aja lihat anak tantrum dan ibunya kewalahan. Padahal ibu-ibu badannya jauh lebih besar dariku. Jemi aja, yang tenaganya lebih besar, tak sanggup melawan gejolak Moldy. Ini bukan untuk menyombongkan diri. Biar kurus, jika kemauanmu besar, kekuatan ghaib akan diperbantukan. Bener deh, yakin. Syaratnya memohon aja, memohon kepada sang maha segala untuk mencurahkan segenap kekuatan โ˜บ

Untuk menangani tantrum secara lebih baik dan tertata, silakan baca tulisan mengenaiย terapi ini. Semoga bermanfaat.

Gambarย tantrum

Gambar kartun ibu anak

Advertisements

6 thoughts on “Menaklukkan Moldy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s