Gratis Tak Selalu Manis

Di masa kuliah semester pertengahan, seorang teman pernah memintaku menemaninya dugem bersama beberapa orang teman kantornya. Mereka dapat tiket gratisan masuk ke Colours Pub, tempatnya di Jalan Sumatera, Surabaya.

Itu pengalaman pertama dan insyaallah terakhir bagiku 😇 Pertama juga buat kami. Kalau gak gratis, mana mau aku ngabisin duit goban waktu itu cuma buat kongkow, bau asap rokok, lihat orang hedon, lihat orang setengah telanjang karena bajunya minim banget, dan untung aja ga ketemu orang mabuk. Makan pake duit segitu bisa buat berhari-hari kan. Well, gratis kok rame amat aku ini 😆



Pada beberapa urusan yang menurutku ga penting, aku etungan, termasuk urusan dugem itu. Buatku ga penting, mending duitnya buat makan hokben atau mekdi, asalkan barengan sama teman. Apa sih enaknya makan sendirian di keramaian? Aku pernah sih beberapa kali dulu, masih bujang. Sekarang, kalau makan sendirian susah nelen, ingat Moldy sama Shena. Beginilah, emak-emak, kalau anaknya ga ikut makan, feeling guilty. Padahal yang dilamunin, belum tentu juga doyan 😅

Saat itu aku udah mulai punya 1-2 baju yang pantas untuk keluar selain kuliah. Dengan kutemani, kami bisa bikin runaway plan barengan. Biar bisa bikin alasan yang manis untuk ibu dan teman kos :), saat kami pulang telat.

Kami berangkat pukul 9an, entah pamitan kemana, pulang ke kos sekitar jam 1an. Di Colours, aku sibuk melihat ke sana kemari, lihat orang gila kurang hiburan. Dugem itu euphoria gombal. Ada kemungkinan mabuk, razia narkoba, prostitusi terselubung, penipuan, dan berbagai pose lainnya.

Sekitar pukul 11-12an, bandnya nyanyi lagu Guns n Roses, yang bikin aku dan para teman ikutan jingkrak-jingkrak. Setelah itu, adegan horor. Meja bar dibersihkan, lalu lalanglah para gadis kurang kain bergaya ala Coyote Ugly. Para pria bersorak-sorai di bawahnya, mungkin mengintip isi kain yang super minim itu. Ini udah gak bener 😐

Gimanaaa gitu rasanya.
Aku wanita, dia pun wanita *nyanyi dangdut*

Kali kedua, dia memintaku menemaninya ketemuan dengan seorang wartawan, aku lupa apa urusannya.
Sehari itu, aku makan gratis terus. Mulai pagi ada traktiran. Aku kan udah janji mau nemanin dia, dengan perut berasa mau meledak saking penuhnya 😂

Kami ketemuan di Kafe Citras, area Gubeng Kertajaya, Surabaya. Aku pesan omelette keju sebagai basa basi. Aku makan sedikit dan tak kuhabiskan. Si bapak itu memandang kami dengan dingin, menyesap rokoknya, sambil sesekali sibuk baca koran.

“Kok gak dihabisin?” tanyanya.

“Kenyang,” kataku meringis.

“Di Afrika banyak lho yang gak bisa makan, di sini kita buang makanan seenaknya.”

Plak!
Aku melirik berpandangan dengan temanku. Kami sepakat segera menyudahi pertemuan itu, setelah sedikit basa basi boso. Selain alasan tak nyaman, waktu sudah menunjukkan pukul 11 malam. Si bapak itu masih menyesap rokok dan membaca koran di kursinya, menanggapi pamitan kami dengan ekspresi datar.

“Mbaaak, perutku penuh…”
Hihihi, derita anak kos tak berpunya. Sekalinya dibaikin orang, kebanyakan, rakus deh. Kualat sama orang Afrika kayaknya, astaghfirullah…

Bener kan, gratis-gratis itu tak selalu manis 😀

Gambar makanan

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s