Saat Listrik Padam

Kayaknya sih, Moldy bisa lihat barang alus. Waktu dia kecil, sebelum usia 2 tahun, wajar ya, every child does. Selanjutnya, aku gak tahu pasti, lagi repot sama tantrumnya sih 😆

Sempat ada perkiraan seseorang (yang sok tahu, hehe), bahwa Moldy ini bukan tuna rungu. Ada kemungkinan dia ‘melihat’ terlalu banyak, yang berimbas pada kelambatan bicara. Aku kan gak mau percaya gitu aja, cari banyak bukti dong.


Lagipula, lemahnya saraf dengar Moldy ini sudah terbukti secara medis, dua kali tes dengar computerised. Tes BERA, tak ada respon di atas 100db. Tes ASSR, baru kelihatan, 110db dan 115db. Orang normal rata-rata 20-40db. Kategorinya Moldy ini profound atau berat. Tes ini akurat ya, prosentase ketidaktepatan sangat minim. Aku sempat stress, tapi alhamdulillah, itu bukan harga mati, pembaca. Daya dengar itu membantu menuju pengetahuan, namun peran paling utama sebenarnya disandang oleh otak. Otak adalah core, yang menggerakkan semua panca indera menjalani fungsinya masing-masing.

Satu dua bukti, bahwa Moldy lihat barang alus, mulai muncul, dan aku simpan dulu. Tak boleh sok, macam emak-emak lain yang suka pamerin anaknya gimana-gimana. Malu ah. Jangan-jangan malah aku udah sering pamer, tapi ga ngerasa 😁

Moldy sendiri akhirnya tak tahan juga. Tepatnya menuju usia lima tahun. Di Batu, di depan beberapa orang, dia menunjuk sesuatu yang bergerak. Bapa tahu dan mulai deh, kakek yang membanggakan cucunya kemana-mana. Aku yang kena getah 😯

Moldy tetap lanjut menyamar, sok cool kalau ada banyak orang. Begitu sepi, tinggal aku berdua, yaaah, mulailah dia berpantomim tentang apa yang dia lihat. Dia begitu ekspresif saat sepi. Sementara aku, mendekut takut. Apalagi saat listrik padam setelah isya, malam Jumat pula, langsung aku tutup matanya pake tanganku.

“Bubun ga mau dikasi tahu ada apa-apa. Moldy diam, Bubun ga mau tahu,” kicauku panik. Jemi belum pulang.

Shena sibuk bercerita soal hantu versinya. Lengkap sudah kegemetaranku malam itu šŸ˜„

“Shena, berhenti cerita soal hantu.” protesku histeris, sambil menyibukkan Moldy dengan mainan.

“Bubun takut?” tanyanya polos.

“Iya,” jawabku tanpa basa-basi.
Ngapain bohong, aku memang takut šŸ˜€

“Lalu aku boleh ngapain?” tanyanya lagi. Nih anak, butuh kesibukan apaaa lagi. Mati lampu, hujan deras, dua balita polos dan satu dewasa yang ketakutan. Oh no…

“Sembarang, pokoknya ga cerita hantu,” tukasku sewot.

“Kalau aku menari boleh?”
What???
Ini sebuah pilihan yang aneh, membuatku ingin terbahak, tapi ekspresinya serius. Well, okelah, daripada aku harus mendengar cerita hantu khayal versinya.

“Iya boleh.”
Dan menarilah Shena, dengan gaya amburadul tak jelas koreografinya. Cukup menghibur, aku ingin tertawa lepas, tapi tak tega dengan usahanya yang begitu serius menari.

Sekitar 30 menit kemudian, listrik menyala kembali.

Esoknya, dengan kondisi yang sama, aku tak mau ambil pusing. Aku hubungi tetanggaku, kubilang aku mau mengungsi ke rumahnya selama lampu padam. Saking seringnya aku cerita apa-apa, kadang dia udah ngerasa kalau aku mau ke sana. Bahkan ‘seseorang’ sudah mengetukkan pintu ke sana sebelum aku sampai 😨

Rumahnya berjarak dua rumah dari tempatku. Benarkah ‘seseorang’ atau itu hanya perasaannya saja? Males mikiiir 😂

Gambar mati lampu

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s