Saving Private Pattern (2)

Aku memiliki dua masa kontroversial, yang sering diperdebatkan di media sosial ituh, sebagai ibu bekerja dan sebagai ibu di rumah. Rejekinya beda bener rasanya. Tetep dong, ada gengsi pengen nyari duit sendiri, ga mau minta terus, ahay… Padahal nyari duit di sektor informal itu susah susah gampang, yang penting siap mental. Semua ada pasang surutnya sih, tapi percaya tak percaya, justru saat posisiku lebih banyak ‘menadah’ pada Jemi gini, rejeki terasa jauh lebih lancar dan berkah. Aku ga bikin iri kalian atau aku merasa sok mampu lho, hanya sedikit pamer aja, hahaha ;p

image
Rejeki untuk ulat pun udah tersedia bebas 🙂

Ada nasehat bijak yang bilang, rejeki tiap orang tuh udah diatur, banyak sedikit tetap harus diusahakan dengan halal, yang membedakan adalah berkahnya. Berapa banyak kita bersyukur dan berbagi, bukan pada berapa banyak yang kita dapat.

Soal tanggal tua, isi dompet disesaki oleh bon pembayaran atau catatan hutang, udah jadi menu bulanan yang dimaklumi bersama kaaan :D. Menurutku, urusan mengatur uang itu cuma dua, agak pandai atau agak tidak pandai 😁 Tak ada yang benar-benar pandai. Perusahaan profesional aja, pasti pernah alami masa bangkrut, entah kecil atau besar.

Nah, yang selalu mengendap dalam benakku adalah, gimana sih cara paling sip mengatur uang yang benar dan tak perlu bikin sekarat di tanggal tua? Setahuku, ilmu yang paling stabil itu jadi orang pelit 😋 Hasilnya jelas dan terencana, banyak terbukti pada orang yang kukenal dan tak kukenal. Selain itu, yang lebih manusiawi? Coba deh simak beberapa hasil berikut.

Arisan dalam berbagai pose, mulai dari arisan panci sampe arisan tas Hermes Birkin ;p Pasti kalian udah kaaan. Seorang ibu mengadakan sendiri arisan bahan bangunan. Tiap tetangganya membangun, beliau menyumbang semisal 2 sak semen sama pasir se-truk. Ntar kalau si ibu gantian mbangun, maka si tetangga wajib mengembalikan serupa.

Uang gajian dibagi ke dalam amplop-amplop pengeluaran tetap. Ga ada amplop beli baju, ya ga beli baju. Sisa akhir bulan, baru bisa dibuat apa gitu. Mungkin gak sih, sisa? Kebanyakan tekor, iyaaaa 😆😈

Saran sebuah majalah online, yaitu dengan membagi duit gajian dalam bentuk keuangan harian, misal 50 ribu per hari. Aku pernah nyoba. Hasilnya, aku sering ‘ngutang’ ke tanggal-tanggal sesudah hari ini. Kebayang kan, gimana kacaunya. Soooo distracted 😯

Kata Edy Zaqeus, pake rumus 1:2:3:4, yaitu sedekah, konsumsi, investasi, dan rekreasi. Pembagiannya tergantung kebutuhan dan kebijakan masing-masing rumah tangga.

Nasehat nenek seorang OB, di artikel online, seringlah puasa biar tabungan banyak. Bener juga ya, kebanyakan konsumsi memang lebih banyak soal kebiasaan atau gaya hidup, bukan selalu soal kebutuhan.

Ala Rasulullah 1:1:1, yaitu untuk sedekah, konsumsi, dan perdagangan. Porsinya sama.

Versi ekstrem ala YM, sedekahkan 1/2 atau semua bagian gaji. Cara ini sudah banyak dilakoni oleh para mubaligh, tanpa bingar ketenaran, bahkan sampai mereka tak punya ATM. Tiap kali mendapat ongkos berdakwah, langsung disedekahkan.
Ada cerita lucu waktu seorang bapak nekad melakoni nasehat ini. Gajinya kalau gak salah, 3juta, disedekahin semuanya. Seharian nunggu, sampe si ustad (entah YM atau yang lain) bersedia patungan, mengganti uang si bapak, jika Allah sedang menguji agak lama. Belum sampe diijoli, si bapak dapat kabar kalau tanahnya laku dan diduitin. Ga tau jumlahnya, tapi mana ada tanah laku cuman 3 juta? 😀

Ada lagi dai ‘opo jare sing nyangoni’. Basa basi yang dianggapnya sebagai pesan beneran.
“Ini Gus, buat ongkos becak.” Berapapun jumlahnya maka tukang becak yang mengantar akan mendapat durian runtuh, dibayar sesuai dengan isi amplop yang diterima si dai.
Lain hari, redaksinya diganti.
“Ini Gus, sekadar buat beli sabun.” Maka si dai ini akan memborong sabun berkardus-kardus, hingga semua tetangga sekitar rumahnya kebagian.
Bikin tepok jidat dah 😀

Gimana, kalian berani melakoni dua cara terakhir? 🙂
Beberapa tahun ini, aku lagi ngumpulin keberanian untuk itu. Well, berhubung kualitas imanku masih butuh gemblengan terus, waktu kutawar melulu, alasan kucari-cari aja, hihihi, seperti yang udah kalian baca di kisah sebelumnya.

Winnie, kakakku, ketemu banyak orang dengan berbagai cerita menarik, selama dia wira-wiri nganterin anak-anaknya ke pondok. Ada nih, ibu yang baru aja kehilangan suaminya, meninggal. Ibu rumah tangga biasa, tanpa pekerjaan tetap, masih harus membiayai tiga anaknya untuk sekolah dan mondok. Sekian juta ‘saja’ untuk sekolah. Selain utang sana sini, yang dilakukannya adalah berdoa, mungkin sampai Allah ‘kehabisan’ cara logis untuk menolongnya, dikirimlah seseorang untuk mengantar langsung uang biaya sekolah. Tak percaya? Iya, aku juga. Banyak kisah keajaiban yang sepertinya isapan jempol, tapi ayoolah, coba jalani apa yang mereka jalani. Katanya kan, salah satu cara sukses adalah meniru detail kehidupan orang sukses yang bersangkutan, mulai dari bangun, cara berjalan, cara bicara, cara menulis, apapun semirip mungkin. Lalu kenapa kita tak mencoba meniru untuk memohon, demi sebuah mukjizat, yang tak perlu pakai sesajen dan uang panjar? Cuma butuh tekun dan sabaaaar… ☺

Jika kalian menginginkan uang lebih banyak (kaya) supaya semua kebutuhan bisa terpenuhi, tunggu sebentar. Biasanya gaya hidup pun akan mengikuti penghasilan, jadi sama aja sih, percuma kan jadi kaya 😅
Lagipula, orang kaya selalu jadi incaran lho, sasaran empuk banyak orang. Bukan perkara perampokan atau kejahatan semacamnya ya, itu relatif. Mau tahu incaran dan sasaran apa? Mau tahu banget? Kubahas di judul lain aja deh.

Ingat lagu ini?
Waktu Johny Iskandar masih bernama Johny Madumatikutu ;p

...ada gak ada
Yang penting kita gembira

Jangan mikirin tanggal muda tanggal tua
Yang penting masih bisa ngutang tetangga…

Eh…

Advertisements

One thought on “Saving Private Pattern (2)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s