Ultah-ultah

Ultahku yang pertama kali dirayakan, adalah saat usiaku 8 tahun. Winnie yang berinisiatif membuat kue tart berkrim putih, membelikan aku kado kertas surat, hingga mengajak semua, mulai dari Bapa hingga Hiu, untuk merayakan bersama.

image
Kue ultah Shena

Aku tak pernah punya banyak uang untuk sekadar mengajak teman dekatku makan jajan bersama, terutama saat ultah, ngetrendnya kan gitu. Entah kenapa, ketika ultahku yang ke 11, temanku sekelas kompakan merayakan ultahku di kelas. Aku dapat banyak hadiah, mulai dari buku tulis sampai sabun mandi.

Saat aku SMP, ada teman beda kelas yang suka curhat padaku, dan juga ke teman lain, sebenarnya. Berhubung dia sudah banyak omong, aku jarang menyela, hehe, cari aman ajah. Dia marah karena aku gak ngasi tahu hari jadiku, sementara beberapa teman sibuk menyalamiku. Piye ya, buatku ultah itu biasa aja. Ga tau juga gapapa, aku butuh kadonya aja, eh… 😁 Esoknya dia ngasi aku kado sekotak besar, isinya diari, makanan, kalung imitasi. Ada untungnya juga kaaan, jadi pendengar yang baik 😉

Di ultahku yang ketujuh belas, teman-teman dekatku juga yang mengingat hari itu. Saat itu Mamak sedang sibuk merawat mendiang Ninih yang lagi sakit karena sepuh. Aku sebenarnya ga suka konsep pesta, rame-rame yang enggak banget. Perayaan Winnie ke-17 diramaikan, dia sendiri yang memintanya. Aku, gak pengen, gak penting buatku, hihihi… Sekadar ucapan selamat dan kotak kecil berisi beberapa biji berlian sudah lebih dari cukup rasanya 😄

Aku mengeluarkan hadiah yang kuterima dari beberapa teman, di depan Mamak. Sengaja 😕
“Oh, maafkan, Mamak lupa ini harimu,”
Aku ingin menangis sebenarnya, karena temanku lebih peduli. Kayaknya aku iri deh sama Winnie, efek ababil ini. Meski ga minta dipestakan, harusnya kan aku tetap berhak atas ucapan selamat dan kado, hihihi… Tapi sudahlah…

Kuliah, aku pernah dapat kado patungan dari beberapa teman berupa kaos rajut krem sepanjang siku. Flo, beberapa kali memberiku kado. Seingatku, dompet biru coklat Milk Teddy, jam tangan Alba kalo gak salah. Aduuuh, itu kemana semua ya 😯Percayalah, Mamak sering jengkel dengan kapasitas memoriku yang mengenaskan, apalagi aku sendiri :p

Mengajar bahasa Inggris untuk anak TK-SD-SMP pekerjaan tetapku di sebuah lembaga, selama 2 tahun sebelum Shena lahir. Di situ, ada tradisi merayakan ultah guru. Biasanya, yang ultah dapat dua kado. Satu dari boss, satu dari hasil patungan teman-teman mengajar. Aku dapat baju terus, warna coklat semua pula. Jangan-jangan mereka ini memang mengasihani koleksi bajuku yang di situ-situ aja 😆

Eh, ngomong-ngomong soal penghargaan ke karyawan, seringnya kan pake momen ultah. Kalo Yoris Sebastian, mungkin bisa kalian tiru (jika kalian punya perusahaan atau lembaga, amin), pake momen ‘first date I start to hire you’. Lebih unik ya, jadi lebih ada ikatan sama perusahaan gitu.

Sementara Jemi, sejak pacaran hingga hari ini, dia hanya 1-2 kali abai mengkadoku, pas udah nikah itu. Aku selalu menagihnya, hehehe, basa basi aja sih *pledoi*. Di tahun pertama (nikah), kadonya hape Sony Walkman. Di tahun kedua, kue tart coklat full bikinan chef Hotel Hyatt. Tahun-tahun selanjutnya aku lupa, karena kurva kehidupan kami sedang menukik tajam :'(, ucapan selamat aja udah syukur bangeet. Tahun ini aku dapat hape agak up-to-date, yang menemaniku posting tulisan di blog hampir setiap hari. Sehari pernah 3 tulisan malah 😉 Bahagianyooo…

Sebenarnya, sebelum aku menginjak SMP, aku sudah banyak mendapat ‘kuliah’ agama dari Dunan. Mulai dari kewajiban memakai jilbab, supaya rambutku tak digantung di neraka nanti (maaf seram ya, tapi begitulah yang kuterima saat itu), hingga soal haramnya perayaan ultah.

Sadar tak sadar, setelah aku kembali rutin mendalami agama, aku mulai meminimalkan harapan itu. Beberapa ortu memilih sibuk daftar ke Mekdi untuk pesta anak mereka yang bahkan belum paham apa itu arti ultah, jadi si anak melongo aja di kursi ‘artis’nya, hahaha. Shena juga memohon-mohon supaya dia bisa ultah kayak gitu, aku tersenyum aja. Membahagiakan anak ga harus dengan cara hedon kan?

Jikapun terpaksa merayakan, aku ingin mereka merayakan bersama tetangga, di panti asuhan, panti jompo, rumah penampungan, atau semacam itulah. Tak lupa, aku undang para pejabat, artis, dan paparazzi. Hahay, apa bedanya coba…

Alasan termanis, jangan mainstream ah 😀
Alasan spiritual, gak ada aturannya dalam agama.
Alasan kemanusiaan, ultah itu hanya mengenalkan kesenjangan sosial dan mengurangi kesempatan berempati.
Alasan logis, ngabis-abisin duit.
Alasan pribadi, belum siap jadi artis lokal, yang difoto sana-sini, cipika cipiki, terima banyak kado. Weits, makin dibuat-buat ajah 😀

Basa basiku di anak dan suami tetep sih, kasi ucapan selamat, cium, dan beri hadiah seperlunya. Susah juga ya, keluar dari budaya.

Alasan penyalahan udah kukasi banyak ya, silakan cari pembenaran sendiri. The choice is yours 🙂

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s