Mendebat, Cukupan Saja

Urusan berdebat, Bapa punya ilmu handal yang bisa bikin lawan emosi jiwa. Sesekali aku memakainya, meski bukan dalam hal berdebat saja. Itu berguna dalam banyak hal 😉



Aku sendiri, pernah ikut tim kampus dan beberapa kali menang lomba debat grup. Menurutku gak keren, karena bukan hasilku sendiri. Hehehe… Sekarang, malah semakin merasa gak keren, bukannya orang yang menghindari perdebatan itu bisa nabung surga. Semua kebenaran, jika diperdebatkan, jatuhnya bukan benar lagi, tapi gombal. Emosi, mau jatuhin lawan, ga terima, dongkol, dendam, atau ada yang bisa ngasi tahu apa efek baiknya?
Empet banget dah, lihat acara debat di TV One, salah benar kelihatan mbencekno kabeh. Lempar remote ajah… 😕

Bapa jarang terlibat debat kusir. Bapa selalu mendengar lawan bicaranya dengan baik, mencari celah kekurangan pendapatnya, lalu memukul balik dengan sopan dan masuk akal, telak! Apalagi kalau udah ngobrol soal politik, betaaah 😀

Bagaimana jika lawan bicaranya njengkelin, mbencekno, suka menggunakan kelemahan lawan di luar bahan debat sebagai senjata ‘pembunuh’?

Bapa tetap mendengarkan, tapi tidak menyimak. Saat giliran dia bicara, Bapa pergi, ga ngomong apa-apa. Cuek bener, meski dipanggil-panggil sampe serak, kayak orang gila gituh. Hahaha, nyaho gak lo!

Waktu aku SMP kelas tiga, aku naek sepeda pancal, apes ditabrak sama sepeda motor dari belakang. Salahku juga, ngepot ga lihat belakang dulu, trus dianya buru-buru. Jadi deh, tabrakan…

Si mbak penabrak, seorang keturunan Tionghoa, dilarikan ke rumah sakit, karena lebih parah. Kami naek becak bersama, dan udah saling minta maaf. Dia setengah gak sadar sih, kasihan juga.

Seorang polisi mbencekno, mengadiliku.
“Gini ini gimana, kamu bisa bayar kerugian ini? Emang bapakmu kerja apa? Bla bla bla…”

😐😐

Aku mendengarkan polisi itu dengan menunduk. Setelah dapat inti poin kedumelannya, aku tinggalkan polisi mbencekno itu begitu saja. Persis seperti ilmunya Bapa, hahaha…

Dia emosi, lalu menarik pergelangan tanganku.
“Dengarkan!” perintahnya, setengah membentak.
Aku melirik sebentar, lalu menunduk lagi. Di kesempatan berikutnya, sikapku hampir sama, di depannya tapi telingaku tak mau menyimaknya. Aku segera menjauh, males ndengerin ocehan gak penting. Lututku juga luka lebar, tahu gak sih, mentang-mentang aku masih anak sekolahan, dibodoh-bodohin 👿

Aku pulang ke rumah naek becak, lapor Bapa. Masalah diselesaikan dengan begitu manis oleh Bapa. Caranya, biasaaa, masih Orde Baru, masih di Indonesia kan, masih bisa pakai gertak kekuasaan kan 😀

Di sebuah kisah, ada dua orang yang berdebat, matahari terbit dari barat atau timur. Dua-duanya ngeyel, satu bilang barat, satu bilang timur. Akhirnya mereka sepakat untuk bertanya kepada alim ulama.

“Iya benar, matahari terbit dari barat,” katanya bijak.

Orang yang mengatakan hal yang sama bersorak sorai. Orang satunya tak terima.

“Guru, bukankah matahari terbit dari timur?”

“Kamu salah, anakku. Sudah tahu dia salah, kenapa masih kamu ladeni juga?”

Hihihi. Bukan soal salah benar lagi kan, tapi waras tidak. Ok? Tinggalkan debat ya, salinglah mendengarkan dan mengingatkan dengan cara yang baik 🙂

Advertisements

2 thoughts on “Mendebat, Cukupan Saja

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s