Lagunya Shena

    Aku memang mencintai kamu
    Kita naik bis bersama
    Lalu aku muntah
    Dan kau ilap aku dengan tisu
    -by Shena, 4y1m-

Shena menyanyikan lagu aransemennya sendiri, dengan tangga nada amburadul, pitch control yang acak adut :p. Aiih, macam konser AFI aja 😅


Lagu ini terngiang juga saat aku sholat maghrib. Bayangin, gak ada orang aja, susah khusyu, apalagi distraksi seheboh ini. Aku gak kuat, mati-matian menahan tawa di rakaat kedua. Syukurlah, berhasil kutahan dengan sholat buru-buru. Yeee, gini mau dapat pahala banyak πŸ˜€ Malaikat juga ogah nyatet kaleee…

Mamak lagi terkantuk-kantuk di kursi sebelahku. Kaki Mamak lagi sakit, jadi sholat sambil duduk. Coba kalau beliau dengar, pasti ikut cekikikan sama aku.

“Emang gimana tadi nyanyinya?” tanya Mamak penasaran, dengan mata berkekuatan 5 watt.

Lalu aku mengulangi lagu yang kudengar di saat sholat tadi. Ini memalukan sebenarnya, sholat seraya merekam lagunya Shena.

“Anak jaman sekarang yo,” komentar Mamak seraya terkekeh.

Aku dan Mamak masih tertawa bersama, saat Shena menghampiriku dengan mata berkaca-kaca. Dia menghambur ke pelukanku dengan ledakan tangis.

“Bubun ga boleh cerita sama Uti?”

Dia mengangguk sambil tetap terisak.

“Shena malu?”

Dia mengangguk.

“Shena malu sama Uti?”

Masih mengangguk saja.

Aku tak melanjutkan ceritaku, segera minta maaf padanya, dan butuh waktu agak lama juga untuk menenangkannya.

Sebenarnya malu itu mulai usia berapa sih? Shena itu sifat perasanya, ampun deh. Sebelum usia 2 tahun, dicuekin dikit sama Jemi, udah mewek. Kalau dia merasa berbuat salah, dia buru-buru minta maaf. Kebanyakan maafnya, hal sepele sekalipun, sampe aku bingung, segitu sensinya yak 😦

Suatu hari ada seorang bapak tetanggaku meninggal. Anak-anaknya teman main Moldy dan Shena. Kupikir anak-anak belum paham ya, apa arti meninggal, jadi Jemi kaget waktu Shena berceloteh soal itu.

“Yah, ayahnya temenku meninggal ya. Kasihan,” katanya keras. Jarak rumahnya cuma dua rumah aja dari rumahku. Tahu aja kan, perumahan standar itu macam rumah petak yang kanan kiri kedengeran jelas omongan tetangganya.

“Ssstt, jangan keras-keras,” bisik Jemi.

“Shena, jangan bilang gitu ya, kasihan kalau dia dengar,” kataku merayunya selembut mungkin. Bingung juga benernya gimana.

Eh, dia ngambek, trus mewek πŸ˜₯

Sekarang juga masih sering mewek, kalau takut sama orang atau diganggu sama Moldy. Alhamdulillah, minta maafnya udah lumayan berkurang. Hihihi, macam mpok Minah di Bajaj Bajuri aja, dikit-dikit maaf, dikit-dikit maaf πŸ˜€

Aku memang mencintai kamuu… πŸ˜€

Gambar burung

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s