Pingpong dan Tarmin

Flo ini, koncoku plek, ikutan istilahnya Metty Piris dan Ivan Arbani :). Soal duit, kayaknya si Flo ini males mikir. Kalo udah keluar, ya udah, ga bakal dia ungkit lagi. Utangku pernah diputihkan sama dia, dianggap tak ada, karena menurutnya terlalu kecil untuk dibayar 😩 Ya aku bahagia dong ya, hahaha…

Sayangnya, ada jutaan pria mbencekno di dunia yang sekian di antaranya, nyangkut ke Flo. Ada yang namanya Pingpong, ga pernah mau bayarin apapun selama pacaran, selalu Flo yang dermawan. Benar-benar mumpung 😈

Ada lagi yang namanya Tarmin, hihihi, kayak nama pak tukang rumahku dulu. Si Tarmin ini malah menghabiskan dana senilai satu avanza. Niat awalnya pinjam, selanjutnya dadah babay. Cicilannya baru lunas dibayar Flo, awal tahun ini, tapi mobilnya ga pernah kelihatan moncongnya sama sekali 😟

Herannya si Flo ga segitunya kayak banyak wanita lain saat disakiti. Kalau ingat ya cerita, kalau biasa ya biasa, ga ada emosi lebay macam aku yang sering mengharu biru 😁

“Sebenarnya ya ga terima, tapi aku pikirin, dia cuek. Aku nagih, dia gak inisiatif sama sekali untuk bayar. Aku sakit hati, uangku juga tetep ga balik. Suamiku ngajarin aku untuk ikhlaskan, pasti ada gantinya.”

☺☺

Aku, kehilangan satu set alat makan Tupperware (aja), bisa marah seharian sama Jemi. Hihihi, beda jauh ya, antara kasta nriman dan kasta ranriman 😁 Tapi soal si plastik premium ini, para pemiliknya, termasuk aku, memang rada lebay menggilainya 😆

Beberapa kali aku sempat ngobrol sama Pingpong. Dia bekerja di perusahaan multinasional yang bercabang di Jakarta. Keberuntungan intelegensi dia dan para teman seperguruannya memang cukup bagus. Dalam beberapa tahun bekerja, dia udah bisa beli rumah di dekat tempat kerjanya. Mungkin dia nabungnya kenceng banget kali ya, sampe apa-apa minta dibayarin Flo. Mahir banget membolak-balik keadaan supaya bisa menguntungkannya. Tentu saja, hanya pemain kelas kakap yang bisa bertarung dengan argumen dan muslihatnya.

Lawan tanding si Pingpong adalah Tarmin 😉


Foto Tarmin gak bisa kubaca. Hahah, macam aku pake bola lampu Gypsi beneran deh. Tapi aku setuju sama sebuah percakapan di novel Beautiful Liar, karya Dyah Rinni. Intinya begini, penipu itu bisa diketahui oleh dua jenis orang, sesama penipu dan orang yang hatinya tulus. Kayaknya kelas si Pingpong ini ada di bawah kelasnya si Tarmin…

Pingpong sempat bikin gara-gara lagi sama Flo, saat mereka udah putus dan dia menikah dengan wanita lain. Noh, bisa bayangin seberapa mbenceknonya si Pingpong ini. Kasusnya agak parah, tapi maaf, aku gak bisa cerita. Ntar deh kalo udah ada yang nyogok, baru aku mau all out nyeritain si Flo 😛

Tarmin bikin perhitungan dengan Pingpong sampe kasus itu selesai, jadi gak ada teror horor ke Flo lagi. Pokoknya super hero gituh, kalau aku menyimak ceritanya Flo. Meski kalau boleh jujur, aku merasa cerita kebaikan si Tarmin ini macam gatal di lapisan kulit terdalam, kerasa ga nyaman, tapi ga kelihatan.

Tarmin juga dengan pedenya mengenalkan Flo pada ortunya, juga berkunjung ke rumah Flo demi menentukan tanggal baik pernikahan mereka. Tapi entah bagaimana awalnya, dia kemudian dadah babay bersama satu unit Avanza, yang tak dipedulikan gimana cicilannya. Ya iyalah, nyicilnya atas nama Flo. Kayaknya si Flo pingsan cukup lama waktu pacaran sama Tarmin, sampe kayak dihipnotis gitu 😴 Bisa juga, Tarmin memang semacam Vicky, yang pernah pacaran sama Zaskia Gotic itu. Pede dengan kejahatannya, ckckck…

Flo lebih mudah move on dari aku sih, tapi efek buruknya, dia pernah mati rasa selama beberapa tahun. Bukan kaki, tangan, atau fisik lainnya, tapi hatinya. Lempeeeng, kayak jalan kereta, kebanyakan makan ati, lupa minum teh botol sosro. Eh…

Untungnya, duitnya banyak, jadi dia masih ada pelarian bersenang-senang dikit. Flo juga ga kemudian ‘menggenggam’ uangnya dengan erat. Percaya tak percaya, semakin banyak kalian memberi, semakin banyak kalian menerima. Menerima itu tak selalu sama, tapi bisa dalam bentuk keselamatan, kesehatan, jodoh yang baik, karir yang moncer, dan banyak lagi. Semoga Flo lebih tahu apa yang dia terima lebih baik ☺

Masalah, dalam bentuk apapun, harus kalian selesaikan. Penyelesaian itu bisa satu arah atau dua arah. Satu arah, itu memaafkan dan melupakan. Dua arah, ya dengan pihak yang bersangkutan. Flo merasa, udah gak mungkin menyelesaikan dua arah. Tapi apakah dia juga termasuk menyelesaikan satu arah? Hmmm…

Ada seorang klien yang menjalani program hipnoterapi ke Ady W. Gunawan. Program itu ditujukan untuk mendongkrak keuntungan bisnisnya. Si bapak ini sudah menjalani semua program yang disarankan, tapi kok orang lain rata-rata berhasil, dia enggak. Setelah diselidiki, ada yang mengganggu di alam bawah sadarnya. Bahwa dia menganggap uang kotor, didikan orang tuanya sejak kecil. Jadi tiap kali dia untung, dia selalu merasa jijik. Melalui terapi hipnosis, pola pikir itu pelan-pelan dikurangi hingga sembuh.

Jika kalian bertemu dengan orang yang sama mbenceknonya secara berulang, bukan berarti kalian sering bertemu orang yang salah. Bukan. Pikiran bawah sadar kalian yang menuntun, ‘kayaknya kok aku harus bersama orang ini ya’. Keledai tak kan jatuh ke lubang yang sama, begitu pepatahnya. Kenapa manusia iya? Pola pikir manusia lebih rumit, ada banyak probabilitas perasaan yang bisa timbul. Resiko jadi makhluk paling sempurna, hehehe, beginilah. Bayangin, buaya dan ular aja gak protes, mereka jalannya merayap, melata :mrgreen:

Sakit hati parah atau males mengambil pelajaran dari kasus sebelumnya itulah, yang bisa bikin kita terhantam masalah yang sama berulang. Nampaknya lupa, tapi ada pola pikir yang masih harus dibenahi. Masalah itu harga pasti, tapi sikap itu murni keputusan kita kok. Pria mbencekno itu memang banyak, hehehe, tapi kita tetap punya hak dan keputusan untuk memilih yang terbaik untuk diri kita, karena mereka (yang baik) memang ada.

Tulisan ini kuturunkan atas ijin Flo. Tak semua, versi lengkapnya lebih ‘sadis’. Kalau mau tahu, email-an yuk, kita bahas tarif ceritanya 😛. Bisa jadi sinetron lho, beneran.

Gambar patah hati

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s