Winnie dan Gadget

“Kita ini semua oon. Mau aja dikasi teknologi macam gadget yang bikin kita semua malas. Seperti yang dibahas di mana tuh, emm, Kompas. Iya, Kompas,” kata Winnie berapi-api.

“Iya, kata Rhenald Khasali kan. Bahwa iphone di luar negeri cuma dipunyai sama para eksekutif. Sementara di sini, anak-anak piyik udah pegang yang begituan.” selaku menambahkan. Aku gak piyik, berarti aku ga pernah pegang. Menyedihkan :p

“Makanya menurutku, mudharatnya jauh lebih banyak daripada manfaatnya. Aku belum membutuhkan,” katanya lagi, bersikukuh.

“Itu pilihan,” nilaiku sok bijak, hihihi. Emang iya kok. Ga pake gadget juga tetap hidup kok :D, ga lantas bikin dunia berhenti berputar.

“Ben wes aku dibilang konservatif, kuno,” tegasnya meyakinkan diri.

“Aku yo ra ngoyo. Dulu tiap ditanya pin bb, ya mringis ae bilang gak punya. Kebetulan operatorku pake sms yang murah jaya, jadi aku bahagia bisa dikit-dikit sms tanpa banyak nyedot pulsa. Trus bang Jemi belikan aku, saat aku udah siap dengan beberapa kemungkinan, berusaha gak sampe nyandu,” jelasku panjang lebar.
Etapi, siapaaa juga yang dulu ngarep-ngarep pengen ganti hape baru yaaa 😀

Winnie cerita kalau teman-temannya upload foto-foto reuni via bbm group. Hapenya Nokia seri lawas, non qwerty, dan menurutnya sudah lama tak edar lagi. Lha iya, Nokia wes kukut. Tentu dia gak bisa tahu dong kayak gimana fotonya yang beredar di grup. Dia lalu sibuk merangkai kata, apa yang mesti dia jawab jika teman-temannya menanyakan pin bb.

Winnie kuliah di IPB, lewat jalur PMDK. Kata orang-orang, cari kerjanya termasuk gampang, makanya dulu dia sering keluar masuk kerja dalam waktu relatif singkat. Bapa dan Mamak sempat galau waktu suaminya minta dia jadi ibu rumah tangga full, ga kerja kantoran lagi. Pikir mereka, disekolahin tinggi-tinggi, lha kok … Alhamdulillah, Winnie cukup menikmati.

Winnie sibuk bikin kue, memasak, mengurus anak-anak dan suami. Urusan gosip, dia juga termasuk tangguh, ga mau membicarakan sesuatu yang gak bermanfaat.

“Buat apa sih arisan?”

“Buat apa sih tahlilan?”

“Buat apa sih PKK?”

Hihihi, yang setuju dengannya, acungkan jari telunjukmuuu.

Aku pernah mengusulkan, banyak android harga sejutaan. Kalau gak mau rugi, hape bisa dipake buat jualan, biar balik modal. Silaturahim juga lebih mudah dengan banyak kerabat dari berbagai penjuru negeri. Asal selektif aja, ga selalu lengket di tangan aja, mesti tahu diri, kontrol diri.

Winnie menolak. Kebutuhan keluarganya memang sedang banyak. Saat kuyakinkan dia bisa melebarkan sayap perbakulan kuenya untuk mendulang rupiah via online, dia tak beranjak dari pemikiran dasarnya, bahwa gadget lebih bermudharat daripada bermanfaat.

“Orang kita tuh yang gaya-gayaan,” tukas Winnie. Menilai teruuus :D. Gini ya, kalau kita ga ikut arus, secara gak sadar kita pasti berusaha cari pembenaran akan tindakan kita yang anti mainstream.

“Nggaya karena difasilitasi sama pemerintah. Pajak barang impor murah, arus barang gak dibatasi, jadi ya jangan salahin kalo masyarakat bisa punya apa aja yang mereka mau dan mampu, dijamin negara kok,” aku berargumen. 

Sakjane sebel juga sama orang yang punya hape segede lapangan, tapi gak tahu fungsi maksimalnya. Sok sibuk pegang hape ke mana-mana, tapi simpati dan empati sosialnya mengenaskan.

“Kita dong harus punya sikap. Ga bisa semua-mua ditentukan pemerintah, apa-apa nyalahin pemerintah,” katanya menanggapi.

Kalau ada Bapa, biasanya aku tersenyum simpul males nanggepi, ben rame sendiri sama beliau aja. Urusan politik, kadang aku masih lumayan searah sama Bapa.

“Okelah, sampean punya sikap, ga pake hape buatan China, misalnya. Tapi lihat juga dong kanan kiri, lingkungan. Emang ga pengaruh ke kita, anak-anak terutama? Efek lingkungan itu besar lho ya. Kalau punya sikap ya harus kompak. Mau punya sikap sendiri, ya harus keras kepala atau siap dianggap gila, hahaha…” tukasku santai.

Susah ya, Indonesia itu negara kepulauan yang besar, tapi usia mentalnya masih muda. Bongsor tapi deng dong. Eh padahal, gajah sebagai mamalia darat terbesar saat ini, masuk kategori hewan pintar dan sensitif loh. Gajah punya memori yang cukup bagus dan bisa menangis jika sakit hati. Eh, orang kita juga suka menangis kok, di acara-acara dramatis lebay macam Termehek-mehek, AFI, …. Maap lama gak lihat tipi, jadi kosakata acaraku soo last century deh :D. Maap lagi, sebagai rakyat Indonesia, aku ini masuk kategori tukang kritik jaya. Maklum, lulusan FISIP 😛

Orang-orang kita yang pinter dan kreatif banyak kok, diakui secara regional dan internasional. Produk bikinan lokal yang dikasi brand internasional juga banyak. Apa aja? Googling sono gih. Tapi ya gitu, mental kepemilikan dan kebanggaan yang nol puthul 😦

Itu, ituuu, yang bisa dilihat orang luar dan dimanfaatkan sebaik-baiknya untuk kekayaan asing. Ga perlu pake urat syaraf atau angkat bedil, cukup ambil pena atau panggil arsitek kejadian macam Ethan Hunt ala Mission Impossible, atau timses ala Denny JA, untuk mengatur strategi handal menyetir opini publik.

Sorry, this is too much 😐
Cuma diawali dari Winnie dan gadget, jadi melebar sekali ke politik. So out of my reach, hehehe…

Hocus pocus, ayo segera fokus.

Aku akhirnya nyandu gadget juga 🙂 Sehari paling enggak satu tulisan, entah draft atau publish. Pas candu lagi optimal, bisa nyampe tiga tulisan bahkan. Tulisan lho ya, bukan curhat. Masih positif kan *pembelaan*. Tapi jangan nanya gimana kerjaan rumah ya. Sudah pasti, berantakan :p. Setidaknya, menurut Flo, jatah wanita bicara 20 ribu kata per hari udah kupenuhi, bahkan lebih :mrgreen: Chit chat, not too much. Sakjane nahan juga sih supaya ga dikit-dikit curhat, hahaha…

Kebutuhan makin variatif sesuai dengan fasilitas yang kita punyai. Jadi kalau Winnie bilang dia belum butuh, ya dia harus melewati masa percobaan kepemilikan gadget selama satu hingga tiga bulan. Dia sanggup mengatasi candu selama waktu itu, silakan deh mengatakan gak butuh 😀

As you may know, the best challenge ever is when you have but you need to act naturally as if you don’t 😉

Sewaktu kita demo turun ke jalan, kita bisa gahar menguarkan protes betapa mbenceknonya para politisi itu. Sewaktu kita tertakdir jadi politisi, emang masih bisa ngasah taring dan cakar, demi menerkam tikus-tikus koruptor?
Being candid is hardly spoken, my dear, as your circumstance doesn’t act so.
Ups, ngepot lagi ke politik.

Sewaktu kita gak punya uang, gampang kan menahan ga makan pizza. Lha emang kondisinya begitu. Waktu uang melimpah ruah, emang masih sanggup juga menahan gak makan pizza? Automatically, sebagai pembenaran, kita langsung beralasan: dikit aja kok, nyoba aja kok, ada duitnya kok, ga tiap hari kok, dan kok-kok yang yang lain.

Manusiawi kok 😀

Kesimpulannya:
Enjoy your gadget without losing your humanity.
Prepare your meal and beverage for watching the next political battle :p

Merdeka!!!

Gambar gawai

Advertisements

One thought on “Winnie dan Gadget

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s