Rejeki Dua

Aku nih masih aja terkotak dalam pemikiran bahwa rejeki itu berwujud uang. Padahal kesehatan, jodoh, karir, anak, atau apapun yang membuat kita bahagia dan lepas dari masalah juga disebut sebagai rejeki. Bisa juga berupa ‘tamparan’ halus yang bikin mewek-mewek 😀

Pagi itu, aku antar Moldy psikotes ke Unair. Tes selesai sekitar pukul 11 siang. Setelah mengajak anak-anak makan bakso di warung dekat kosku dulu, kami segera pulang. Bertiga aja lho, Jemi lagi masuk kerja. Dari Unair, aku naek angkot P, turun di wilayah Wonokromo.

Siang itu panas banget. Kedua cintaku langsung merem lagi begitu turun dari angkot. Harusnya berganti angkot lagi, untuk menuju rumah. Aku kan gak bisa bawa dua anak yang sedang tertidur, ya sudah kami ngemper di trotoar dekat kali, bersama para lalat dan semut kecil yang berkeliaran di sekitar kami. Menghitung menit demi menit, kapan ya satuu aja dari mereka bangun. Kugoyang hingga kucubit sayang pipi mereka, huaaa, so completely to the neverland 😭😭

Harapannya sih, bisa selfie trus upload foto di Instagram atau Facebook. “Acungkan dua jari, nikmati hidup ini, peace”.
“Emak keren bersama dua anak imut yang masih pulas.”
“Ini bukan pengemis lho. Masa pengemis sekeren ini…”
😁😁😁
Jelas gak mungkin kan ya, minta difotoin ntar malah hape dibawa lari sama orangnya. Trus ngejarnya gimana. Hihihi, ngayal aja asik daripada mikirin kapaaan mereka bangun 😈😈

Harapan berikutnya, ada orang dikenal yang berbaik hati ngasi tumpangan. Tapi siapa? Aku lihat ke jalan yang begitu ramai dan padat kendaraan, arus kepulangan di Sabtu siang. Tak terlihat seseorang pun yang kukenal menolehkan kepalanya. Semua sibuk dengan kerjaan atau harapan agar segera sampai rumah. Eh ada sih, yang melihat kami dengan sedikit iba. Tapi dia naik motor, bawa kardus gede di depan dan belakang motornya. Masa aku mau nangkring di atas kardusnya, kayak emak-emak bakul baru kulakan. Aih, ge-er amat, jangan-jangan dia ingat mau ambil fotoku tapi gak bisa karena bawa kardus-kardus. Teteeep, selfie membayang :mrgreen:

Ya sudah, berhentilah berharap dan berdoalah supaya kamu kuat menghadapi keadaan. Tersenyumlah, bersikaplah memelas tapi tegar, supaya dikasihani orang yang tepat. Hihihi…

Saat aku sibuk melamun, aku mau menulis apa hari ini, tiba-tiba seorang pria menyapaku dengan ramah.
“Ibu mau kemana dengan anaknya? Adik-adik ini gapapa? Ada yang bisa saya bantu?”

imageRamenyaa

A-ha, what a coincidence. Is it?
:):):)

Aku tertawa melihatnya, tapi dia seperti tidak mengenalku. Padahal dia suaminya dari teman kerjaku dulu yang kemudian lumayan dekat. Kami sedang tidak kontak cukup lama sih. Whadda small world 😀

“Sampean kok kayaknya suaminya temanku,” kataku agak gak yakin.

😐😐😐

Dia menyebut nama istrinya dan aku menyebut namaku, baru dia ingat. Kami memang hanya bertemu 2-3 kali saja, jadi aku tak heran kalau dia lupa.

“Kok gak naek taksi aja?”

Tepuk pramuka deh sekarang.
Kayak gak tahu aja pikirannya emak-emak, seekonomis mungkin mengeluarkan duit. Hahaha…

“Ada ongkosnya gak?” tanyanya lagi, seperti membaca pikiranku.

Nyaho gak loe.
😰😰😰

Aku meringis.
Dia angsurkan beberapa lembar uang kertas berwarna merah. Hah, kebanyakan, selembar aja bakal ada kembaliannya kok, aku udah selamat sentosa sampe rumah. Dia menolak.

“Udah mbak, pakai aja. Di sini rame lho, gak enak dilihat orang, disangka kita ngapain. Bahaya malahan,” katanya mengingatkan, saat aku maksa ngembaliin uangnya.

Sampai di taksi pun, aku tetap berusaha mengembalikan dan dia tetap menolak. Dia masih sempat memastikan pula, apakah duit itu cukup untuk nyampe rumah.

“Ntar kontak istriku aja ya…”

Aku mbrebes mili, pengen nangis geru-geru, tapi kan malu-maluin. Biar gak feeling too blue, aku segera ajak ngobrol si sopir taksi. Anak-anak masih pulas, meski sudah pindah tempat. Mereka baru beneran bangun saat nyampe rumah. Itupun harus dibangunin dulu.

😩😩😩

Aku mewek bukan hanya karena ditolong saja. Kok kayaknya suaminya temanku ini dikirim Allah dari langit ya. Hubunganku sama istrinya sempat bersitegang karena sebuah salah paham. Beberapa waktu berlalu, aku berniat melupakan dan memaafkan. Salah dia cuma satu itu aja kok, selebihnya dia baik dan sering menolongku. Tuh, susahnya jadi manusia, salah sekali aja bisa memupus kebaikan yang udah bejibun 😦

Jauh sebelum aku ketemu suaminya itu, aku berusaha kontak si istri via sms, atas nama silaturahim, berjanji akan mengunjungi mereka. Ini semua kulakukan dengan begitu berat, bagaimana nanti jika aku tak bisa basa basi, aku kan masih sakit hati. Bukankah dia juga. Hiks, berat silaturahim itu bukan soal jarak, tapi kerelaan hati untuk mengunjungi 😥

Aku tak tahu bagaimana Allah mengaturnya, seolah ‘mengirimkan’ suaminya sebagai mediator bermisi khusus, demi menengahi konflik dingin antara kami berdua. Padahal bisa aja aku yang masih mikir, dia cuek 😀

Segera kusms dan kutelpon temanku untuk mengucapkan banyak terima kasih, semoga aku bisa segera membalasnya di lain kesempatan.

Aku melapor ke Jemi perkembangan kami siang itu.

“Gitu kok ya diterima sih uangnya?” protes Jemi.

Aku menelan ludah, kelu.

Sembarang wes, case closed ajah

😅😅😅

Gambar dari transportasi

Advertisements

One thought on “Rejeki Dua

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s