O’o

Siang itu, aku beli telur dan seperlunya (mataku melihat 😁) ke sebuah warung kelontong, bersama Shena. Maklum wanita, kalau belanja tanpa bawa catatan, matanya suka terdistraksi ke mana-mana. Ih lucu, entar pasti butuh, di rumah persediannya udah habis, mumpung murah, dan segambreng alasan lain untuk belanja di luar jatah dan rencana 😇

Si ibu penjual lagi sibuk melayani yang lain, aku sibuk memilih-milih serta bernegosiasi dengan Shena yang meminta ini dan itu. Dia sooo woman juga ya 😆 tak jauh-jauh amat dari karakter emaknya.



Sesosok tubuh kecil tampak berjalan melewati kami menuju ruang penjualan, berjalan menggunakan bokongnya alias ngesot. Wajahnya setipe, ciri khas anak down syndrome. Dia tersenyum cerah saat aku mengajaknya tersenyum. Aku tertarik mengajaknya bicara, mengoreknya, mengamati, mempelajari, mensyukuri nasibku, mendoakan untuk kebaikannya, dll. Begitu asyiknya, sampai aku terlupa belanjaanku dan si ibu penjual tiba-tiba mengingatkanku.

“Mbak, pindang salemnya jadi diambil ya?” tegurnya. Ada nada kebingungan dalam suaranya. Aku jadi gak enak juga. Jangan-jangan ada yang disembunyikan dan aku masuk agak dalam.

“Berapa bu, semua?” tanyaku ikut kebingungan.

Si ibu salah menghitung, kebanyakan belanjaku, saking bingungnya. Untungnya clear. Bodohnya, aku bertanya pula, soal anak tadi 😴

“Anaknya ga dipijetin, bu?” tanyaku.
Ini pertanyaan sederhana sebenarnya, karena aku mengira mereka tak percaya dokter dan kemajuan medis.

“Oh, udah gak kurang-kurang kita mijetin dia,” jawabnya dengan nada membela diri.

“Lha wong mbahnya tukang pijet,” bela seorang ibu lain yang kebetulan belanja bersamaan denganku.

“Usianya berapa?”
Dasar aku bodoh. Sudah tahu nada defence dari mereka, masih aja nekat nanya-nanya.

“Sepuluh tahun. Gak kelihatan karena anaknya kecil,” jawab si ibu masih dengan nada kebingungan.

Ya bu, aku tahu benar itu. Anak-anak dengan, maaf, perkembangan mental yang lebih lambat, memiliki wajah yang hampir sama dan nampak lebih muda daripada usia fisiknya. Meskipun demikian, mereka tetap punya hak yang sama dengan anak lain yang normal, berhak atas pendidikan dan melihat dunia luar yang lebih luas, mereka juga punya keunggulan di bidang tertentu jika telaten melatihnya. Silakan baca di sini untuk tahu lebih lengkap, siapa aja.

Perhaps, I judged too much. I was so sorry for that. Ingin aku ngeyel bahwa pijat untuk anak kebutuhan khusus, bukan seperti pijat dukun bayi. Jika anak itu mendapat pendidikan yang tepat, tentu sikapnya lebih baik kepada orang lain. Dia nampak sangat senang saat kuajak ngobrol, meski tak ada sepatah kata pun yang keluar dari mulutnya. Dia mendorong-dorong Shena menjauh dariku, hingga Shena ketakutan lalu lari keluar warung.

Sebenarnya aku ingin mengusulkan supaya dia mendapat pendidikan di sekolah luar biasa atau terapi. Semampu apapun, asalkan dia bisa menjalani dan bisa melihat dunia luar. Ih, lancang dan sok tahu banget aku ya. Tapi aku tak tahan melihat anak dikurung dalam rumah, dengan alasan apapun, apalagi karena malu. Tempat terapi sudah banyak tersedia di mana-mana selama kita mau nyari, pasti akan ada orang-orang yang membantu jika kita mau membuka diri. Kulihat mereka juga bukan orang tak mampu, tokonya cukup besar.

Baiklah, aku berprasangka.
This feeling is so silly 😥

Gambar anak-anak

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s