Hubby’s Way

“Waaa, tumben Yayah punya banyak duit, gak ada yang mengusik,” celetuk Jemi pagi itu, di hari Sabtu yang santai.

image

“Uang apaan, yah?” tanyaku agak ge-er. Biasaaa, radar tukang belanja suka kelip-kelip seperti bintang di malam yang gulita, jika mendengar kata UANG.

😍😍😍

I am an ordinary woman, my dear.
If it sounds lunatic to you, just try to be a mother, a wife, and no formal work around. Let see how you would cope with the  word, money, hahaha…

Pengen rak piring, tapi kok baju anaknya sobek-sobek, ya ditunda dulu. Dandani dulu mereka dengan baik. Kardus murah meriah, bisa buat nyimpen piring, gelas, panci, asal jangan sampe kelupaan dikiloin, hihihi…

Pengen makan enak, tapi ingat makanan di rumah jarang habis, ya tahan dulu seleranya. Habiskan dulu remah-remah perjuanganmu di dapur 😦

Pengen ngopi bareng teman sambil ngobrolin urusan dunia yang sebenarnya tak masuk dalam radar rumah tangga, ingat dulu persediaan kopi buat tamu masih ada nggak. Kalau ada, pakai dulu lah, curi waktu anak-anak tidur, open chat atau browser, lalu nikmatilah hidup meski sesaat secara maya 😚

Pengen beli buku banyak, trus segera membenamkan diri di laptop untuk merumuskan ide-ide (cieee, padahal draft melulu, kebanyakan distraksi), ingat dulu sekolah anak-anak. Lihat lemari buku udah penuh apa gak. Yang mau sekolah, anaknya atau emaknya. Yang harus lebih pinter, anaknya atau emaknya. Yang perlu banyak stimulan, anaknya atau emaknya. Bisa sih beli buku, alhamdulillah, tapi selalu berakhir dengan
rasa sesal di dalam hati,
diam tak mau pergi,
haruskah aku lari dari kenyataan ini, pernah ku mencoba tuk sembunyi,
tapi tagihan tetap mengikuti’ 😛
Yang Terlupakan, Iwan Fals,
dimodifikasi sesuai kebutuhan.

In fact, itu duitnya Jemi di game Clash of Clans 😴

Beberapa hari lalu, dia sempat sewot sama Shena, karena ‘desanya’ diubek-ubek, jadi kacau balau. Game itu udah kuhapus di hapeku. Lha wong aku bisanya nulis, ga bisa main game, hihihi…

Aku memberinya ultimatum.

“Ngalah dulu sama anak. Game aja kok.”
Lalu aku ingat bahwa sebuah pesan, men and their toys are best friends πŸ™‚

“Pakai tuh, hide app, disable app.”
No way kayaknya, tahu aja kalian gimana lincahnya pergerakan jari-jari mungil yang penuh curiosity itu.

“Oke, silakan pulang lebih malam, maen game dulu sampai puas di kantor, tapi jangan marahin anak-anak.”
Tampaknya ini paling pas, sekalian memancing tingkat ketegaan dan kepeduliannya, hahaha…
Jika aku (mem)boleh(kan) diri untuk intip barang atau foto bagus di instagram, cari gosip terhangat di kaskus, atau tekan tombol ke mana saja di google; berarti Jemi boleh juga dong melakukan apa yang dia suka sebagai hiburan, selama tak melanggar norma atau kewajibannya. Itu masuk akal kok. Dia kan mesin pencari nafkah, masa harus diperah terus tanpa boleh rekreasi. Supaya hasilnya lebih, kan harus dibahagiakan, dibuat nyaman *tetep modus tak ketinggalan* 😆

Makhluk yang tak pernah dewasa, kata Dan Brown, penulis Da Vinci Code.

Woman, I hope you know a child inside of me’, begitu sih senandungnya Billy Corgan, Smashing Pumpkins.

Proses pendewasaannya memang lebih lambat, kata beberapa teori psikologi.

Wanita kan berbicara 20 ribu kata dan pria 7 ribu kata saja, hampir tiga kali lipat 😨
Jadi jangan heran kalau wanita ngomong seember amber, pria cukup diam saja atau menjawab ya tidak. Belum nyampe kuota tepat untuk menanggapi, bisa juga karena kuota talking time nya udah habis, hahah… Most men choose to act than to speak.

Di buku antologi 101 Perempuan Berkisah, ada wanita yang rela ‘dimadu’, demi kebahagiaan suami. Si istri mesti rela berbagi waktu, uang, dan perhatian dengan hobi bersepeda si suami. Hobi bersepeda itu mahal juga lho, harga sepeda bagus bisa seharga Vario terbaru bahkan lebih. Si istri sampe belain ikut bersepeda juga dan melihat uang bersama terbagi, demi cinta tentu saja πŸ™‚

Sepertinya, Jemi ini menggunakan sebagian besar kuota bicaranya untuk pekerjaan, sehingga anak-anak dan aku dapat sedikit saja. Di waktu luang, dia sibuk membangun mahligai kekuasaan di CoC. Sempat hampir menganggarkan dana untuk membeli tab buat mainan anak-anak, biar gak gangguin dia main. No way, no extraordinary gadget consumption untuk anak-anak yang belum bisa baca tulis dan belum paham kebutuhannya sendiri ☺

Wanita itu memang ratu dalam rumah tangga, memegang kendali atas banyak urusan, supaya lebih teratur. Tapi itu bukan berarti yang lain (anak-anak dan suami) tak boleh berpendapat atau punya style ya. Lha emangnya kita mesti terus ‘bertangan besi’ untuk menjalankan kekuasaan? Jadi diktator memang bisa mengatur keadaan, tapi jangan lupakan efek the hiding V ya, V for vendetta, vandalism, vault, vulnerable. Sebenarnya, saat kita ngasi kesempatan kepada mereka semua dengan porsi yang pas, itu akan memudahkan tugas kita di kemudian hari kok.

Aku merasa cukup terbantu saat Jemi membantu pekerjaan rumah, mencarikan sekolah, mengantar kesana kemari saat dia sempat, mendengarkan pertimbangan logisnya, hingga memohon ibanya saat aku mengibarkan bendera putih, ‘I’m about to give up’ 😣 [ini sesekali terjadi, jadi ibu itu melelahkan juga, tapi jangan sampai mundur, fiuuh…]

Itu semua gak mudah ya. Maksudku lebih enak dan cepat selesai saat ngerjain sendiri, sekaligus cape juga 😩. Seorang psikolog menyarankan, bahwa pria itu harus diajari soal pembagian tugas rumah tangga yang adil. Mereka bisa kok menerima tugas, sebaik mereka bekerja formal, tapi telatenlah untuk mengajarinya. Membiarkan mereka larut dalam game atau hobi, adalah salah satu bentuk ‘perayu’, hehehe… Sebagai perbandingan dan penambahan, baca juga Polijemi ya.

Kalau ada yang takut soal kecanduan, komunikasikan dengan manis. Jika mentok konsultasikan dengan profesional atau orang yang berpengalaman dalam rumah tangga (bukan padaku yaaa 😆). Jangan pernah biarkan masalah berlarut ya, bisa meledak di kemudian hari. Rejeki keluarga adalah tanggungjawab suami. Kemampuan dan kelancaran mengailnya, ditentukan oleh doa dan ridho istri. Kedudukan satu sama lain berpengaruh lhooo, jangan sepelekan itu.

You may not find the right person you want, but you can always make things right with the person you find ☺

Well, what’s your hubby’s thing? πŸ˜‰

Pinjam gambar dari sini

Btw, by the time this article done, there is no more CoC 😂. The children’s agility made it vanished for good. Life is moving on happily, though πŸ™‚

Advertisements

One thought on “Hubby’s Way

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s