Jodoh Kan Datang?

I chose Jemi from the moment we’re together, cause he had planned to get married :), from the beginning. Hahaha, it’s what normally adult woman usually thinks, rabi, ben ra bingung. However, it’s long and steepy road to go through, afterwards.

image

Bagi yang belum menikah, terbersit pertanyaan, siapakah jodohmu? ☺

Katanya kan jumlah wanita beberapa kali lipat lebih banyak daripada pria, jadi gimana dong? Penelitian membuktikan bahwa wanita kan lebih bertahan tanpa pasangan, jadi tak apa lah buat kaum wanita. You’re born to be strong, dear fellas. How do you feel?
Sebagian beruntung monogami. Sebagian menjadi bagian dari poligami. Sebagian mencintai saudaranya satu sel.
Sebagian lagi hidup selibat.
Sebagian lagi jadi biarawati.
Sebagian lagi memilih hidup bersama binatang yang dirawatnya dengan baik.
Sebagian lagi menjadi korban mental, tak terurus di jalanan 😥

Sebenarnya aku sempat males mikir mesti nikah dengan siapa dan bagaimana. Why don’t we make a just committment to each other and proceed a fair negotiation? Hahaha, I was so liberal *tutup cadar dulu ah*. That’s why a religious intervention should take part. Pernikahan adalah mistqaan ghalizaa, perjanjian yang kuat, yang disaksikan dan didoakan ribuan malaikat. Kok yaaa, banyak yang main-main dengannya. Naudzubillah…

Mamak dulu juga tak mendesak untuk dapat pasangan, secara standar beliau tak bisa kupenuhi. Saat resepsi pun sebenarnya aku dan Jemi gak suka rame-rame, tapi kami masih terlalu unyu *tsaah* untuk melawan kehendak orang tua. Mbok ya mending buat DP beli mobil atau tanah atau rumah atau bisnis apa kek, kan bisa beranak pinak dan bermanfaat jangka panjang. Hihihi, udah dikasi enak pakai milih juga 😴

‘Siape elu, ude untung gue kasi anak yang gue gedein. Susah payah gue rawat, elu maen embat aje.’
Gitu kali ya pikirannya emaknya Jemi. Tabik ibu, hormatku padamu, wanita pertama suamiku ☺

Saking malesnya, sempat terlintas,
“Mak, kalau aku dapat duda atau jadi istri kesekian, gimana?” tanyaku skeptis, meski gak yakin juga dengan keputusanku.

“Memang yang perjaka, udah habis?” tanya Mamak balik.

Senandung Titik Sandora dan Muksin Alatas sih, ‘banyak gadis pilihan, banyak janda uik uik, hidup mati harap jodoh, dunia belum kiamat’

Menurut Mario Teguh, yang sesekali mengutip dari Alquran, “Pantaskan dirimu untuk mendapatkan jodoh.”

Teori begini, dikutip dari kisah mbak Leyla Hana di buku Mitsqaan Ghalizaa, bahwa kita harus meningkatkan kualitas diri kita sebaik-baiknya supaya dapat jodoh yang sesuai. Jangan dibingungkan, nanti Allah yang akan mengaturnya.

Well, manusia itu muaranya kuatir, jeda di antara menunggu sambil beribadah dengan kenyataan itu yang bikin ketar ketir. Bisa gak ya, bisa gak ya, bisa gak ya…

Kesimpulanku, semakin ibadah kita kurang kenceng, semakin tinggi rasa kuatir kita. Oh, aku tidak sedang menuduh kalian demikian, tapi itulah kenyataan, yang sempat kualami. Kalaupun akhirnya aku ‘selamat’ bisa menikah dan menikmati fasenya (yang ternyata tak mudah), aku ‘hanya’ cukup beruntung.

Meski sudah menikah, jangan mentang-mentang ya, seperti menuduh teman gak laku, pilih-pilih, dan sebagainya. We’re all under (intangible) women union right? We should learn the meaning of solidarity from men. Even without any flag, they stick together :). Speak less, act more.

“Jika kamu menolak seseorang yang pernah datang untuk meminangmu, maka akan timbul fitnah. Kamu gak akan laku,” kata seseorang pada Winnie, yang baru saja menolak lamaran orang yang tak dikenalnya.

Harusnya, jika mengikuti aturan agama, ada proses taaruf (perkenalan), tapi bukan pacaran. Kalau gak suka boleh menolak kok. Sayang kondisi faktualnya, mempersempit ruang kita (wanita) untuk menolak. Jumlah kita yang sangat banyak, kesuburan yang punya masa singkat, etika patriarki, kewajiban personal dalam keluarga, belum termasuk jika masuk dalam sekat kebutuhan khusus.

Aku kasi contoh unik nih.
Harimau Sumatra jumlahnya makin sedikit. Tinggal beberapa betina yang tersisa, ada yang pincang. Padahal untuk bikin mereka saling naksir, butuh waktu juga. Dia sudah masuk masa kawin, tapi terpaksa menjalani kawin suntik. Si jantan rese juga, ga mau membuahi betina yang pincang. Hehehe, naluri alami juga kan. Spesies jantan memang menganut ‘apa yang kulihat’. Spesies wanita kan ‘apa yang kudengar dan kumaknai dengan kata-kataku’. Eh, itu betina nyinyir juga gak ya 😄

Urusan jodoh, bukan kewajiban wanita saja untuk memantaskan diri, pria juga. Beda soal everlastingness. Pria bermasa ‘muda’ lebih lama, bahkan bisa menjadi semakin matang. Wanita terikat usia biologis yang punya jangka pendek.

Jika jodoh belum datang, seperti kutipan nasehat-nasehat di atas, pantaskan diri dan berdoalah. Jika terlalu lama datangnya, yakinkan diri bahwa wanita itu kuat dan mampu, sibukkan diri lebih banyak. Namun sebagai sesama wanita, aku berharap akan lebih banyak lagi madrasah berkualitas yang menghasilkan generasi terbaik untuk peradaban.

Lagunya sih, “I’m single and I’m happy.”
Kabarnya sih, “Single itu pilihan, jomblo itu nasib.”

What’s best for you? I hope you’re doing fine 😉

Pinjam gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s