How will it be?

“Aku bingung mikir nasib anakku, gimana gedenya nanti, bisa nikah apa gak, trus kerjanya gimana,” curhat seorang ibu, yang anaknya menyandang ADHD.

Lha dipikir aku ora, hehehe…
It’s still a long way to go.
Apalagi kalau pas aku lagi ngajarin Moldy mengeja, Mamak ikut mengeluh,
“Aduuuh, kasihan cucuku. Gimanaaa besok?”



“Biasa aja Mak, gak perlu semua-mua dikasih-kasihani. Yang penting berusaha, lha mosok gak ada hasil. Jangan hentikan orang lagi semangat,” kataku jengkel.

Jika ada orang yang perlu dikasihani di dunia ini, maka mereka adalah orang-orang pemalas yang tak tahu cara menikmati hidup dengan baik, para pengeluh yang selalu melihat semua dari sudut pandang negatif alias nyinyir jaya, juga para pendendam yang tak berkenan move on dan tersenyum pada kenyataan.

Menikah dan memiliki pekerjaan tak mempersyaratkan orang harus normal dan sempurna secara fisik.

Ini nih beberapa contoh.
Tukang pijat yang mahir biasanya menyandang tuna netra.
Seorang pakar jual beli mobil tahu kualitas mobil dengan mendengar suaranya dan meraba badan mobil keseluruhan. Dia tahu apakah mobil itu pernah kecelakaan atau masih fit.
Seorang bapak di Sidoarjo memiliki anak yang menyandang tuna rungu. Demi dedikasinya pada kebutuhan khusus itu, dia mendirikan perusahaan yang hanya akan mempekerjakan para penyandang tuna rungu.
Boss suatu perusahaan merasa jengkel, karena karyawannya selalu keluar masuk, padahal dia selalu total dalam membina mereka. Akhirnya atas saran koleganya, lift yang normal diupgrade menjadi lebih pendek, sehingga hanya cukup bagi penyandang tuna daksa yang menggunakan kursi roda. Kecil kemungkinan mereka untuk keluar masuk kerja, sebab mereka juga membutuhkan pekerjaan. Kinerja mereka pun handal.
Saat para tuna rungu dipekerjakan sebagai buruh di sebuah pabrik, hasil produksi mereka dua kali lipat lebih banyak daripada yang normal.
Beberapa waktu lalu, aku melihat seorang bapak yang, maaf, sepertinya cerebral palsy: kepala miring, mulut membuka, salah satu pergelangan tangan agak bengkok. Dia memiliki istri dan anak yang normal.
Masih banyak lagi contoh lain. Aku berharap lebih banyak lagi yang bisa kutemui, supaya dunia nampak begitu berwarna 🙂

Aku gak pakai contoh yang terlalu tinggi, seperti tokoh terkenal, orang-orang sehari saja. Biar terasa dekat gitu.

“Tapi aku tetep aja bingung. Aku udah pesen ke si kakak (yang normal), nanti kalau ibu mati, jaga adik baik-baik ya, jangan disia-siakan,” lanjut ibu tadi.

Aku mahfum, aku udah cerita dengan semangat 45 gitu ya, ternyata ibu itu belum tersentuh untuk optimis. Aku sendiri juga kadang bingung. Moldy diajarin apa aja sampai aku memble sekalipun, dia bisa sekali dua kali, lalu lupa dan gak bisa lagi 😂. Andai saja aku tak punya malu, maunya aku tantrum saja, gantian sama Moldy 😁 Masa dia terus ih…

Being confused won’t take you anywhere.

Bingung dan kuatir itu wajar, mengeluh sekali waktu juga manusiawi, marah kecapean juga boleh (asal jangan pakai kekerasan fisik); tapi tetap harus berangkat terapi, merencanakan sekolah, berteman, bertemu dengan banyak orang, mengembangkan hobi, menjajal kemampuan, belajar hal baru, dan semuanya, like what normals do.

Hasilnya?
Aku gak tahu, aku gak bisa mengintip apa isi catatan Lauh Mahfuz yang misterius itu.
Memangnya orang-orang normal sudah pasti tahu apa yang akan terjadi dan pasti berhasil, beberapa tahun dari sekarang?
TIDAK ADA YANG TAHU.

Yang bisa kulakukan hanyalah berdoa dan berusaha. Menjadi normal ataupun berkebutuhan khusus bukanlah syarat mutlak untuk bisa menikah cepat, memiliki pekerjaan layak, hidup bahagia foya-foya mati masuk surga, hihihi…

Jadi kalau aku ditanya atau dibingungkan tentang bagaimana masa depan Moldy nanti, aku akan mengatakan bahwa aku hanya melakoni bagian hidup yang ditakdirkan untukku, dengan usaha dan doa.
Meramal dan mematok nasib, sudah jelas, bukan kerjaan tetapku, hehehe…

Gambar arah

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s