(Ingin) Deaktif Forevaah

Bisa jadi, facebook itu memiliki hasish berkekuatan super, yang bisa bikin fly siapapun yang udah masuk dan berkelanan di dalamnya. Do you feel that way? Kalau tidak, something’s wrong only with me 😁

Aku baru punya android tersimple di tahun 2012. I was sooo stupid, gak tahu cara geser receive call, takut kalau salah pencet lalu meledak 😨. Ndeso gak ketulungan, meski jariku tak pernah berhenti menulis dengan tuts yang bergetar, googling kemana-mana, hingga akhirnya ‘cangkrukan’ tiada akhir di facebook.

Status demi status.
Komentar demi komentar.
Foto demi foto.
Jualan demi jualan.
Notes demi notes.
Share demi share.
Pamer demi pamer.
Miskom demi miskom.
Debat demi…kianlah yang mau debat, aku sih males 😁
Banyak amat ternyata yah.

Di akhir tahun 2013, aku hibernate dan banyak orang mengatakan akan merindukanku. Tahun berikutnya semakin sedikit, banyak juga yang mulai jenuh dengan rutinitas facebook. Tapi masih banyak juga yang masih bertahan dengan stabilitas status tiada akhir.

Aku, hmmm, ada sedikit pertikaian kecil karena facebook yang membekas hingga hari ini. Jiaah, kayak gitu dibilang kecil 😄.

Pandanganku yang bertumbuh. Dari tingkat lugu, penasaran, radikal, hingga I don’t give a damn 😁. Kembali pada diriku sendiri yang sebenarnya, aku sedikit lega. Efek sampingnya, aku jadi pusing saat membuka aplikasi ini. Sama seperti saat aku terlibat dalam urusan yang bukan urusanku sepenuhnya, kepalaku terasa pening…pening…pening sangat.

Apakah ini semua terjadi karena aku rajin mengonsumsi air jeruk nipis hangat sehingga tubuhku langsung bereaksi dengan racun?
Maksud hati sih, pengen food combining, apa daya buah-buahan mahal semua 😂. Jadinya cuma berani jeruk nipis aja yang murah meriah dan penuh manfaat.

Eh, ada hubungannya gak sih??? 😌

Beberapa waktu lalu aku butuh info tentang seorang teman yang harus diambil dari messenger. Mau tak mau harus mengaktifkan facebook dong ya. Entah kenapa kepalaku mendadak pening membaca barisan status yang sangat standar: jualan emak-emak, nasehat parenting, berita provokatif, tips menulis, slight exhibition, parade komersil, begitulah. Sebelum ketahuan teman-teman yang mencariku (hahah, siapah gueh…), lebih tepatnya sih sebelum pusingku jadi vertigo, aku segera deaktif kembali.

Aah, indahnya hidup tanpa hasish berjenis facebook.

Tujuan orang beda-beda ya, I learnt not to judge too much. Daripada aku terlalu banyak prasangka membaca status yang kadang (bahkan banyak) berkebalikan dengan kenyataan, aku memilih memulihkan ‘mata batinku’ dengan rehat mesbuk.

Sebenarnya pelajaran yang bisa diambil banyak banget sih, tapi aku jenuh, pola-polanya berulang yang hampir sama. Kisah inspiratif dalam pose nokia, maksudnya tambah dikit fitur udah beda tipe, tambah sedikit bumbu dari situs yang berbeda. Apalagi baca perdebatan antar agama misalnya, aku sampai hafal gaya-gaya para panelis, meski tak bisa kuejawantahkan dengan kata-kata. Yang paling bold, ya gejala deislamisasi bahkan oleh kaum Muslim sendiri.

Udah ah, aku pro kewarasanku sendiri 😆
Masalahnya nih, kalau aku kepo dengan sesuatu, aku gak bisa berhenti googling demi sebuah tabayyun sampai nemu korelasi yang kuanggap paling pas untuk sebuah fenomena. Banyak kemayaan yang menyakitkan, huaaa, aku yang harus sadar diri, jangan sampai sakit jiwa maya 😂

Menuju targetku 100 blog posts and published virally, mau tak mau aku mesti berurusan dengan facebook. At least, saat itu pusingku sudah banyak berkurang, menghibur diri dengan kenyataan yang sebenar-benarnya dan seindah-indahnya.

Inginnya sih, deaktif forevah, can I? 😎

Gambar fesbuk

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s