2015: Tarawih Di Batu

Tarawih hari pertama di masjid, sering saya hindari. Terlalu penuh, fake enthusiasm. Hehehe, saya suka yang antimainstream. Buat wanita kan gak wajib ke masjid, masih bisa juga sholat tarawih berjamaah dengan keluarga di rumah. Eh, kayaknya itu jarang banget deh.

Melihat kampung dan jalanan nampak lengang, lalu semua masjid rapi dengan barisan orang berjamaah, mendadak saya feeling guilty. Ada rasa aneh karena tak memanfaatkan bulan penuh berkah ini. Tapi sudahlah, niat menuju sempurna adalah usaha, keberhasilannya adalah anugerah.

Jika anda pernah (dan saya rasa sering) ke Batu, anda pasti tahu sebuah masjid megah yang berdiri di jantung kota. Masjid An Nur yang sudah bermetamorfosis sedemikian mewahnya. Terakhir, beberapa bulan lalu, saya hanya menikmati kecipak ‘kubangan’ air bersih di lantai bawah, bersama anak-anak. Hihihi, iya saya ndeso sekali kalau sudah bermain dengan anak-anak. Saya latah takjub bersama mereka. Dulu waktu masih SD hingga SMP, masjid belum semegah itu. Namun jangan salah soal jamaahnya. Saya ikutan sholat jumat dengan shaf yang rebutan, meski barusan aja tahu bahwa itu gak wajib buat wanita.

Ada seorang takmir galak yang selalu menertibkan jamaah. Mulai dari mengingatkan agar bergegas bergabung dalam sholat hingga patroli keliling saat shalat tarawih berlangsung. Hanya sekali aja di masjid itu saya temui penertiban semacam itu, di tempat laintak ada.

Segerombolan mamah-mamah muda masuk, sambil menenenteng sekresek…gorengan. Weits, militan beneran ini. Ceritanya, mereka ini hanya pindah area nggosip. Ckckck, saya jadi gak konsen, membayangkan apakah saya boleh minta weci (ote-ote) atau pisang goreng, sebiji aja. Hihihi… Si takmir galak datang, namun para mahmud ini udah siap. Mereka berlagak diam sambil menutupi gundukan kresek berminyak di bawah sajadah. Berhasil dan mereka kembali melanjutkan acara gosipnya.

Jangan heran, saat itu acara gosip belum semenjamur sekarang. Sementara gosip bersama adalah kebutuhan yang diciptakan, dosa yang dibiasakan. Tivi cuma monopoli TVRI atau sesekali dapat bocoran channel RCTI dari tuan tanah yang kaya raya dan sedang dermawan. Masih jaman Knight Rider dan Mac Gyver aja, sama seorang ksatria baja hitam versi bule, saya lupa apa judulnya.

Tarawih di masjid An Nur jumlahnya 23 rakaat dan saya jarang full, selalu ada saat berhenti cape. Saya perlu belajar banyak soal tarawih supaya lebih semangat. Imamnya baca surat kayak dikejar Satpol PP, ekspress. Ceritanya cape itu bukan karena jumlah rakaat yang banyak, tapi karena sholat kayak uber-uberan, kadang bikin keseleo.

Dalam jumlah waktu yang sama, masjid lain hanya melaksanakan 11 rakaat. Namanya masjid At-Taqwa, di jalan Diponegoro. Jadi bayangkan saja, satu rakaat bisa saya tinggal melamunkan sebuah cerita sampai selesai. Waduh, ketahuan banget kalo gak khusyu ya.
Dalam sebulan, saya bergantian tarawih di kedua masjid itu. Saat itu Batu masih menggigit dinginnya. Mau wudhu aja mesti perang batin dulu, gimana kalau sementara tayamum dulu. Kadang saya lari-lari dulu sebelum masuk kamar mandi, lalu teriak-teriak di dalamnya karena dingin saat itu begitu galak.

Rumah ibu saya di sekitar pertigaan menuju Selekta. Tahu kan? Dari klentheng lurus jalan ke bawah. Masjid An Nuur di dekat alun-alun, yang ada ferriswheel dan lampion raksasa. Masjid At-Taqwa ada di jalan Diponegoro, dekat alun-alun juga tapi dipisahkan oleh jalan raya banyak arus.

Dulu itu, saat Ramadhan, jalan selalu ramai dengan anak-anak hingga orang tua yang pulang dari tarawih. Kendaraan hanya sedikit, sudah pasti orang kaya beneran, tak sebanyak orang kaya angsuran seperti jaman sekarang. Hehe, saya gak kaya, tapi ngangsur juga.

Senengnya dari masjid Taqwa, saya bisa mampir lihat acara tivi berwarna gratis dari sebuah toko yang menayangkan acara pahlawan jagoan saya, yang sudah usai. Maklum Bapak setia dengan tivi hitam putih, dengan channel putaran, yang lecek. Saya cuma kebagian tawa lebar si jagoan saat dia melepas helm hitamnya, sesudah menghajar musuh. Berasa keren euy, berani memilih tarawih daripada nyanggong di depan tivi menunggu film yang tak tayang tiap hari.

Sekitar sepuluh tahun terakhir, kehidupan Ramadhan saya masih sibuk dengan urusan kerjaan yang selesai menjelang tarawih selesai, dan juga anak-anak balita yang belum kooperatif dengan sholat berjamaah. Mereka baru belajar mengakrabi masjid setahun ini. Jangan terlalu dibayangkan berlebihan ya, masih seperti anak-anak pada umumnya kok. Kalau ketemu teman yang cocok, kejar-kejaran di masjid. Cekikikan. Ikutan sholat tapi tolah toleh sambil ngobrol sama temannya. Saya tegur mereka, malah saya yang ditegur sama seorang nenek.
“Biarin aja, jeng”

Pengennya itu, beberapa bulan sebelum Ramadhan, saya udah siap dengan piranti pencitraan semacam baju baru dan makanan. Sehingga saat bulan itu datang, urusan ibadah jadi lebih leluasa. Tapi untuk urusan tarawih, entah kenapa susah sekali untuk sesregep dulu, apakah karena jeda tahun hibernasi yang terlalu lebar.

Gambar tarawih

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s