2015: Lebaj Seperloenja Sadja

“Si santri jalan kaki dari rumahnya di Surabaya untuk mengikuti ziarah Walisongo. Kakinya sampe lecet-lecet kecapean. Buat apaaa?” protes si bapak (beragama lain) ‘menyerang’ saya, setelah tahu bahwa saya Muslim. Saya masih sekolah, belum pakai jilbab.

Ah si bapak, mau menggoyang kepercayaan anak sekolahan. Maaf pak, saya malas mikir, mending mikir lulus ujian gak, lulus UMPTN gak.

“Kamu sholat kan? Buat apa? Siapa yang kamu sembah?” lanjutnya belum puas.

“Wajib,” jawab saya sekenanya. Memang benar sih, tapi jawaban apapun sepertinya tidak dia harapkan.

“Seandainya tidak wajib, apakah kamu akan tetap melakukannya?” kejarnya.

Auk ah pak, tiba-tiba saja gelap di sini 😄

Andai kata kita diwajibkan sholat sehari semalam sampai lecet-lecet kayak Rasulullah, niscaya orang bakal malas sholat. Lima kali sehari aja banyak alasan kan 😐

Pondasi dasarnya sih rukun iman dan rukun Islam. Itu aja dulu yang dipegang erat. Pelaksanaannya dalam kehidupan kan punya banyak varian. Misal nih…
Sholat tak mampu bisa berdiri karena sakit, boleh kok duduk. Boleh juga berbaring, sampai hanya mengedipkan mata karena sakit parah sekali juga boleh. Ada lho novelis dunia yang sakit separah itu. Dia menyelesaikan bukunya dengan bantuan juru ketik. Caranya dengan mengedipkan mata per huruf/per kata sampai selesai beberapa tahun kemudian. Masih mungkin kan 😉

Puasa itu harus menyegerakan berbuka kalau sudah adzan, tak boleh lama-lama. Syukuri nikmat hidup di negara yang iklimnya stabil, tak perlu puasa sampai hampir seharian. Syukuri nikmatnya berpuasa, karena ada saudara di belahan dunia lain yang tak boleh berpuasa. Semoga Allah memudahkan mereka ☺

Ibu hamil dan menyusui, boleh kok tidak puasa, cukup bayar fidyah. Wanita datang bulan juga tak boleh puasa, biar tidak lemes dan kurang gizi, karena dia mengeluarkan banyak cairan.
Mau naik haji atau umroh jalan kaki dari Indonesia ke Arab juga boleh, tapi tidak dihitung sepaket dengan pahala ke tanah suci ya. Kan sudah ada pesawat atau transportasi lain, manfaatkan dong sebaik-baiknya 🙂

Sebuah hadist menceritakan mengenai seorang kakek yang naik haji dengan dibopong kedua putranya, demi nadzar bahwa dia akan berhaji dengan berjalan kaki. “Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan orang itu menyiksa dirinya,” sabda Rasulullah, lalu menyuruhnya naik kendaraan saja untuk berhaji.

Tidak menikah demi ibadah, hmmm… Rasulullah yang dijamin surga aja, tetap menikah kok. Fitrah manusia pula, untuk menyalurkan kebutuhan biologisnya, diatur secara sah dan berpahala melalui pernikahan. Kalau anda ingatnya poligami, hehehe, silakan baca Polijemi.

Selain babi, khamr, hewan buas dan menjijikkan, tidak disembelih dengan basmallah; inshaallah semua halal. Vegetarian tidak dianjurkan, tapi kalau punya urusan traumatis dengan daging, tak perlu memaksakan diri. Tak ada puasa mutih, makan makanan tertentu di hari tertentu, atau makanan persembahan, biasa aja, sesuaikan aja dengan apa yang kita punya hari itu.

Ada yang mengatur penghasilan dengan 1:1:1, yaitu untuk sedekah, kehidupan sehari-hari, modal usaha. Ada pula yang berani menginfakkan sebagian besar hartanya semacam khalifah Umar. Di masa kini, beberapa ustadz tanpa sematan kondang, selalu pulang ‘kosongan’ dari dakwah. Ongkosnya menjadi pembicara dia sedekahkan semua. Pernak-pernik sedekah bisa dibaca di Saving Private Pattern atau mengapa sedekah tak langsung dibalas. Itu kan kalau benar-benar mampu berserah diri. Kalau belum mampu, Allah tak minta banyak-banyak kok. Palingan rata-rata sekitar 2.5% dari keseluruhan duit, tak banyak kan. Ada berbagai pilihan zakat, sesuai dengan keadaan kita. Silakan googling sendiri ya 😉

Mengingatkan pada kebaikan itu wajib. Tapi jika yang diingatkan, tetap bandel, itu tidak masuk tanggungjawab kita. Bukankah hidayah itu hak Allah? Jangan terlalu jumawa dengan keyakinan kita hari ini, jika Dia berkehendak lain, kita bisa apa. Naudzubillah. Tawadhu yuk…
Semua hanya contoh-contoh dan masih banyak lagi, demi mengingatkan bahwa Islam mewajibkan beberapa perkara namun juga memudahkan sesuai dengan kemampuan kita.

“Allah menghendaki kemudahan bagimu, bukan kesukaran…” (2:185)

Gambar masjid

Gambar puasa

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s