2015: Rakus

Sebelum dan sesudah Ramadhan adalah waktu di mana kita boleh rakus.

Mulai dari rakus membayangkan menu buka puasa seperti takjil es buah, kolak, dawet, es campur, es cincau, dsb. Lalu menyusun menu utama semacam ayam panggang, sup buntut, sate kambing, kwie tiau, dsb. Begitu adzan berkumandang, lalu minum segelas air, hilang sudah semua keinginan melahap makanan, udah kenyang duluan πŸ™‚

Rakus soal semua yang serba baru. Aku pernah nyiapin Lebaran 2-3 bulan sebelumnya, ben pas Ramadhan aku nyantai aja. Seneng gitu ya lihat uang THR sisa banyak, karena udah kubeliin baju dengan menyicil. Tapi teteeep, berhubung posisinya di dompet dan dibawa bepergian, jangan harap dia stagnan, habis itu pasti 😂

Rakus soal kue, mulai dari biskuit merk danish isi rengginang hingga kastengels bentuk bulan sabit. Padahal udah jelas, kolesterol dan kadar gula langsung melesat menuju awan hitam yang berarak. Dipikir-pikir lagi, sebagai orang yang itungannya muda dalam silsilah keluarga, harusnya aku gak perlu mikir beli-beli kue. Alasannya: udah pasti aku yang mengunjungi, jadi aku yang makan kue orang lain, biasanya Mamak yang kasi jatah kue ke anak-anaknya. Kok bukan aku? Biarin ah, menurut Mamak urusan beliau membahagiakan anak belum kelar. Hiyaaa, mau sampe kapan? Ben wes, tahu sendiri bagaimana orang sepuh kalau punya keinginan. Toh aku bahagia dapat penganan gratis, Mamak juga merasa berharga dan bahagia. Impas kan 😆

Rakus nyari rejeki.
Setelah baca sana-sini, aku nyadar betapa impulsifnya orang endonesa. Sebagai bakul militan berkewarganegaraan endonesa, aku jemput peluang itu segera. Sekitar satu-dua bulan sebelum puasa (bukan Lebaran), aku mulai jualan baju di sana sini, maklum belum punya lapak menetap, masih nomaden. Sebelumnya udah jualan sana sini sih, nambah peluang aja.

Setelah berhasil mengatur irama perjalanan, terapi, dan pengasuhan untuk Moldy dan Shena, aku membuat tantangan baru buat diriku sendiri.
Jualan di tempat terapi πŸ™‚

image
Contoh beberapa item

Sudah kubilang, aku ini ogah rugi, males kalau melakukan apa-apa tanpa gambaran hasil maupun proses berarti. Jangan melulu hasil di kisaran uang aja lho ya. Aku merasa udah banyak belajar sama para ibu-ibu itu soal anak khususnya, kelamaan kok jadi nggosip gak penting ngalor ngidul.

“Bisa bu, naek bis, bawa anak sama bawa dagangan?” tanya mereka takjub, kasihan, sekaligus ‘ngoyo amat lu’ 😆

image
Pemandangan dari dalam bis

Kukasi tahu ya, dua tanganku sebelum hari itu adalah jatah memegang Moldy dan Shena, tas di ransel. Berhubung Shena minta dititipin neneknya, satu tanganku kosong dong, kasihan kalau menganggur. Kubawa sesuai kemampuan aja lah.

Rakus? Ngoyo?
Terserah apa kata orang, aku hanya memanfaatkan waktu supaya gak tenggelam dalam ghibah dan namimah.
Kalau jualan kan, dapat duit halal, menyambung tali silaturahim karena pasti akan ada satu-dua orang baru yang bergabung lihat dagangan, sekaligus mikiiir terus. Gimana gak mikir, kalau pas ada banyak pesanan tapi gak kuat bawa, Moldy rewel padahal bawa banyak barang, hujan deras, bis penuh, panas terik, belum termasuk omelan Jemi, hihihi…

image
Pernah jualan online juga lhoo

Jemi sebenarnya gak suka aku jualan. Menurutnya (dan juga menurut para suami di dunia), duit habis tapi gak kelihatan wujud utuhnya. Soal itu, kita bahas lain waktu. Berhubung perjalanan ke luar kota, dia sebenarnya gak tega lihat aku boyongan bawa 1-2 kresek besar berisi baju-baju jualan. Ah, gak tahu dia kalau tiap pulang aku selalu bawa hasil: Moldy terapi dan uang beberapa ratus ribu hasil jualan πŸ˜€

Hiyaaa, jadi curcol kepanjangan gini yak. Kembali ke topik utama soal rakus.

Jujur, aku tak membayangkan nominal uang yang akan kupegang, tapi aku cuma membayangkan aku pulang dengan kresek melambai-lambai, alias laku semua. Hihihi, harapan tinggal harapan.

Di situlah aku kembali ‘ditampar’ bahwa rejeki itu bukan perhitungan rasio dan harapan. Saat aku terlalu bernapsu memenuhi selera semua jenis konsumen, saat itulah napsu itu mengejekku. Ada aja alasan tak terduga seperti: mereka sedang gak masuk, barangnya gak cocok, gak bawa duit, dan sebagainya.

Ya, kadang sebagai bakul, aku rakus merangkul semua keinginan mereka. Aku udah pernah rakus, jualan apapun yang bikin duit asal halal, lalu insaf sedikit-sedikit, jualan ‘gombal’ aja lah, orang selalu butuh 😈
Gombal kain untuk baju.
Gombal kata-kata betapa kerennya mereka dengan baju yang kujual.
Hihihi, just kidding, aku gak pernah nggombal soal bagus mana. Aku memang jarang bilang jelek, tapi aku bisa melarang orang beli kalau kurasa itu gak cocok untuknya. Eh, ini kalau ditanya lho ya. Kebanyakan orang males nanya, dipikirnya bakul itu pasti ngomongnya yang bagus-bagus aja biar laku 😒

Jual beli itu salah satu kunci kekayaan, tapi hati-hati ya. Saat uang banyak, setan yang datang juga banyak. Gak percaya? Saat aku lagi laku banter, sholatku telat, tilawah males-malesan, pengennya ngurusi bakulaaan melulu. Pernah tuh, sekali jalan dalam 1-2 jam aja langsung pegang duit hampir sejuta. Aku kaget, istighfar, karena aku biasa jualin kreditan jadi kaget. Lho kok lancar amat? Noh kan, ciri kufur: dikasi dikit, ngresulo. Dikasi banyak, ga percaya. Manusiaaa…

Intinya apa nih, curcol melulu ah…

Kututup dengan surat Al Jumuah ayat 10-11
Apabila shalat telah dilaksanakan, maka bertebaranlah kamu di bumi, carilah karunia Allah dan ingatlah Allah banyak-banyak agar kamu beruntung.
Dan apabila mereka melihat perdagangan atau permainan, mereka segera menuju kepadanya dan mereka tinggalkan engkau (muhammad) sedang berdiri (berkhotbah). Katakanlah, “apa yang ada di sisi Allah lebih baik daripada permainan dan perdagangan,” dan Allah pemberi rezeki yang terbaik.

Paham kan?
Rakus silakan, selama ada kesempatan. Tapi tetep, ibadah jadi prioritas di atas kerakusan, biar kita tahu bahwa sengoyo apapun kalau bukan jatah mau bilang apa. Bukan santai, tapi coba sendiri deh, ibadah itu sendiri yang akan menyortir apa langkah kita udah bener.

Ramadhan hari terakhir.
Udah sejak dua minggu lalu aku gak jualan keliling. Menikmati hidup 😁 Serakus apapun, aku punya batas yang ditetapkan Allah dan kutoleransi dengan caraku. 

Selamat mudik ya.

Taqaballahu minna wa minkum.
Semoga Allah menerima amalan kita semua. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s