Zarathustra

Satu-satunya buku Nietzsche yang kubaca ya cuma Genealogi Moral. Setelah beberapa tahun merasa nggaya (sok) bisa baca filsafat dan membiarkannya mengisi rak bukuku, buku itu masuk daftar lelang. I didn’t finish it actually 😋

Dia kan berencana melakukan makar ‘pembunuhan’ Tuhan 😆, lha aku kan percaya Tuhan, ya aku pikir itu udah out of my grab. Kalau sudah baca Alquran (terjemahan) semua jenis buku jadi nampak biasa saja.

Aku sedang tidak membahas ideologi ya, hanya sebuah kebetulan tak dinyana, dalam lingkup perumahanku. Temannya si Moldy, namanya Zara.

“Nama panjangmu Zarathustra ya?” tebakku asal, waktu dia main ke rumah.

“Iya, kok tahu?”

Feeling dejavu, ingat sesuatu. Segeralah aku ketik nama itu di laman google search, ketemulah ini

I didn’t read that, dan sewaktu aku lempar istilah itu ke beberapa teman, mereka gak paham. Huaaa, aku aneh sendirian 😭

Baiklah, kita bahas Zara real yang unik aja yah. Usianya sekitar 8 tahunan, rambutnya spike, kulitnya sehat terawat, dan dia lumayan baik sama Moldy. Terus terang aja, aku masih suka heran kalau ada yang baik sama Moldy dengan ketidaklancarannya berkomunikasi. Dia bilang, di sekolahnya ada anak yang pakai alat bantu juga kayak Moldy. Ooo…

image
Nih si Zara

“Moldyyy, ayooo maiiin…” teriaknya di depan pagar.

“Masih pagi mas, Moldy belum bangun,” jawabku menahan ketawa.

Ini anak niat amat mainnya. Lha mosok jam 6 pagi udah ngajak main 😅
Dia setia menunggu sampai Moldy bangun, padahal rumahnya berjarak dua gang dari rumahku. Dia kesepian, karena anak-anak di gangnya gak main bersama, mainnya di dalam pagar rumah masing-masing 😴

Aku lanjutkan kesibukan pagiku.

“Moldy, Moldy…” panggilnya lagi.

“Kamu pulang dulu gih, mandi, lalu ke sini lagi. Atau nanti Moldy aja yang ke sana,” usulku.

“Aku mau main sama Moldy. Aku lho cinta sama Moldy,”

😄😄😄

Inilah efek tak punya teman main. Sekali punya teman, dia bakal pertahankan dengan cara apapun, hehehe. Akhirnya si Zara ini akrab juga sama Shena, Bima, Gloria, Esteban, dll. Anak-anak tempatku kebanyakan main bareng. Ada sih beberapa yang agak dibatasi sama ortunya, tapi gak banyak, gak dominan.

Zara ini sering ngalah sama Moldy, yang tak selalu bisa dijalani semua anak. Kadang dia jengkel juga, tapi wajar, masih banyak baiknya. Dia sering laporan kalau ada apa-apa, ikut aku mengantar Shena ngaji, rutin datang ke rumah untuk ngajak bermain.

“Iya Jarar, kamu main ke sini aja,” kata Gloria.

Hahaha, namanya susah ya untuk sering disebutin sama anak-anak. Masih untung gak disebut namanya jaran.

“Ran, Jaran,”
Gak enak banget kan, nanti jawabnya sambil meringkik pula 😈

Sebenarnya ada satu lagi teman Moldy yang lumayan baik, tapi tak seajaib dan seinstan Zara. Susah lho nemuin anak macam Zara, karena tak semua anak di gangku mau main sama Moldy. Awalnya aku nelongso 😳 tapi udahlah, gak semua sesuai harapan kita ya. Tantangan buat anak spesial memang lebih berat, tapi bukan berarti impossible to handle ya ☺

Setelah Zara, nantikan si Matias.
Zara dan Matias, dua anak yang lebih sering main sama Moldy daripada anak-anak lain. Meski Moldy pemarah dan kadang not easy to understand, mereka tetap mau bermain. Semoga langgeng dan lebih baik. Amin.

Advertisements

5 thoughts on “Zarathustra

  1. Angkat tangan! Berarti aku ya tidak asing sama istilah satu ini. Dulu.. Sudah laamaa sekali, aku memakai nama ini untuk tokoh cerpenku yg filenya masih sekarang masih tersimpan dalam kondisi belum rampung. Aku mengutipnya dari satu buku yang entah judulnya apa, tapi yang pasti buku itu masih tersimpan rapi berderet dirak yang jarang sekali kujamah.

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s