Matias Wiyono

“Ayo main lagi, Moldyyy. Kita ini sudah ngalah kok,” rayu Matias dengan nada jengkel.

“Tadi kita main bareng, lalu tiba-tiba Moldy marah,” jelas Zara.

Moldy membanting pintu pagar dan melarang mereka masuk. Alisnya bertaut, wajahnya geram. Aku merasa, ya kasihan ya jengkel. Kasihan karena dia gak bisa mengungkapkan perasaan dengan sewajarnya. Jengkel karena harus terus memahaminya, yang susah. Sekarang, dia marah sama temannya, bisa gak mereka nahan gak mbales?

Di antara semua teman Moldy yang pernah kukenal, Matias dan Zara termasuk yang paling baik. Mereka suka nyariin Moldy, berusaha menjelaskan kemauannya pada yang lain, mengalah pada beberapa hal, selalu laporan padaku kalau ada apa-apa. Matias sering berusaha menjelaskan kepada anak lain apa maunya Moldy, bersedia mengalah kalau kuperingatkan dia agak keterlaluan. Matias juga yang selalu membuka pintu rumahnya saat Moldy datang mencarinya.

“Teman kakakku ada yang kayak Moldy,” ceritanya padaku.

“Di kelas, aku punya teman kayak Moldy. Dia juga pakai alat,” cerita si Zara juga.

Kesimpulannya, Matias dan Zara adalah dua di antara sekian banyak anak normal yang telah terbiasa dengan perbedaan. Bukan melulu usaha mereka. Itu juga usaha para difabel yang mau membaur, sehingga lebih banyak lagi masyarakat yang terbiasa hingga mau menerima perbedaan.

Kembali lagi ke cerita awal ya ๐Ÿ™‚

Aku menengahi anak-anak ini, biasanya aku malas ikut campur, meski anak-anak bertengkar, ngintip aja dari balik nako ruang tamu. Sesekali bersiap jika ada pertikaian antar anak-anak, siapapun mereka, bahkan selain Moldy dan Shena.

“Moldy, teman-temanmu itu baik nak, ayolah jangan marahan kayak gitu,” rayuku.

“Iyalah, jangan marah terus,” ajak Zara dan Matias bergantian.

Seolah paham, Moldy menarik bibirnya sedikit demi sedikit, tersenyum, lalu beranjak membuka pagar, lalu kembali bersepeda bersama.

Mungkin saja aku yang ketakutan jika Zara dan Matias tak mau berteman lagi. Jika kepada Shena, aku sarankan dia pergi saat keadaan tak seperti yang dia harapkan. Jika kepada Moldy, aku minta dia berusaha beradaptasi dengan keadaan, tak semua harus sesuai kemauannya. Paham kan maksudnya? They are treated differently.

image
Rumah Matias yang sedang dibongkar

Matias ini seorang penganut Katolik, bapak ibu bekerja, lebih banyak menghabiskan waktu dengan neneknya. Aku cukup akrab dengan beliau, minta resep masakan atau mendengarkan beliau cerita ini dan itu. Tutur katanya lembut, penuh perhatian, tapi gak suka nggosipin orang. Aku seneng ngobrol sama beliau karena sering dapat ilmu โ˜บ Gak tahu juga apakah ada peran si nenek dengan akrabnya Moldy dan Matias.

“Jeng, tadi si Matias bilang kalau mau main ke rumah, dia kangen sama Moldy,” cerita si nenek.

Rumah Matias kan lagi direhab total, jadi dia sekeluarga ngontrak di gang lain. Moldy suka minta kuantar main ke sana, padahal lumayan jauh dari rumah kami. Sebenarnya Moldy juga ngajak aku ke banyak rumah (yang dia coba berteman), namun hanya Matias yang selalu membuka pintu.

Matias ini usianya setahun di atas Moldy, tapi sekolahnya jauh lebih awal, sekarang udah kelas 2 SD 😯

Jika Moldy tak ke sana, maka Matias yang berkunjung ke rumah, sore saat Shena berangkat ngaji. Jika Moldy masih tidur, Matias akan ngoyo membangunkannya. Hihihi, lumayan lah, aku cukup terbantu, jadwal tidur malamnya jadi lebih teratur, dan Moldy tetap senang karena waktunya bermain cukup banyak.

Aku ini udah seneng banget kalau ada yang rela berteman dengan Moldy, menyadari keterbatasannya berkomunikasi dan menstabilkan emosi. Pengen ya, balas budi ke Matias, tapi buntu. Dia anak orang berada, mainannya lengkap dan serba mahal, makanannya terjamin, jadi apa dong yang bisa kuberikan cuma-cuma sebagai sekelumit ucapan terima kasih??? ๐Ÿ˜•

Matias itu susah menerima pemberian orang lain, kan dia udah ada semua.  Sesekali dia kutawari beli bakso, sekali aja mau, trus selanjutnya gak mau lagi. Entahlah, mungkin belum waktunya. Berteman dulu dengan sebaik-baiknya, semoga dilapangkan kesempatan dan kemampuan untuk membalas budi ๐Ÿ™‚

Amin yuuuk…

Advertisements

One thought on “Matias Wiyono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s