‘Menuntut’ Shena

Shena itu sering jadi sasaran sibling bully, sering diminta mengalah kalau rebutan tab, sering diminta mengawasi kalau ada apa-apa dengan Moldy, sering disalahin kalau something silly goes wrong (haha, too many dumb words) 😁 dan banyak lagi.

Semua dengan satu alasan: dia sudah bisa berbicara dengan jelas dan bisa diajak komunikasi. Meski mungkin agak berlebihan juga ya. Dia kan masih anak-anak, belum bisa kutuntut tanggungjawab berlebih. Apaan sih kerjaan si emak, kalau si anak disuruh nanggung perkara terus??? Hehehe… Namun ternyata ada gunanya juga kok.

Saat Moldy bikin kerusuhan dan orang siap marah, Shena maju dan memberikan keterangan bahwa kakaknya belum bisa bicara.

image

Dulu tuh ada anak tetangga yang namanya Aya, suka bikin perkara, suka selisih paham sama Moldy, tapi sayang banget sama Shena. Aya ernah mengkomando anak-anak untuk memukuli Moldy. Aku melihat agak jauh, menahan tangan dan kaki agar tidak bertindak berlebihan. Moldy santai di atas sepeda hijaunya, tak sadar bahwa dia akan jadi sasaran pengeroyokan.

“Ayooo, kita pukuli Moldy bareng-bareng,” ajak Aya.

😦😦😦

Moldy lempeng.

Shena maju ke depan sepeda Moldy, membentangkan lengannya lebar di hadapan Aya.

“Jangan pukuli kakakku!”

Shena tak pernah setegas itu di hadapan teman-temannya. Aya tak berkutik, dia selalu manut sama Shena. Lututku gemetar, hidungku panas, aku terharu. Aku segera angkat kaki dari area pengintaianku, cukup ah, nyesek 😭

Di lain waktu, dia mengharuskan Moldy untuk mengikuti apa katanya sebelum meminta sesuatu. Moldy kan dalam proses terapi wicara, jadi dia harus menyebut, semisal baa…juuu… jika mau meminta baju. Aku gak minta Shena, dia berinisiatif sendiri.

image

Seringnya, aku kelebihan harapan, mbok ya dia jadi guardian angel saat bermain bersama anak lain, yang jika tak ada aku, suka membully Moldy. Padahal kan Shena manusia tulen, gak punya sayap pula, insyaallah tidak mengalami kelainan gen macam Wolverine dan sebangsanya 😈

Pernah tuh, Moldy lari-lari ngikutin sepedanya, dengan dikomando Esteban. Esteban yang gak mau modal sendiri, selalu merebut sepeda temannya, dengan alasan sepedanya masih rusak. Anak lain bisa rebutan, tukar kata, lha Moldy? 😂

“Shena tuh, kalau sepeda kakak direbut, bantuin dong. Kakak kan belum bisa ngomong, selalu aja jadi bulan-bulanan teman-temanmu. Punya sepeda gak mau diperbaiki…” aku ngomel panjang lebar.

Lupa kalau aku di depan rumah, nyerocooos aja…
Lupa kalau begitulah hidup, tak semuanya selalu enak.
Lupa kalau Moldy dan Shena juga harus belajar soal pahit, tak soal manis melulu.

😑😑😑

Shena hanya diam. Kalau dia paham, dia nangis. Kalau diam, berarti tak paham 😂. Sudahlah, she’s not been five years old yet.

image

Aku memeluknya segera.
“Maaf ya, Bubun minta terlalu banyak sama Shena.”

Dia mengangguk, lalu meneruskan bermain.

Aku dan Jemi lebih sering memohon padanya, jika rebutan mainan sama Moldy. Sebenarnya ini gak adil sih. Tak boleh dengan alasan Moldy berkebutuhan khusus, semua harus disesuaikan dengan kebenaran dan keadilan. Sesuai dengan pengamalan sila keempat Pancasila. Sesuai dengan petuah Ramy Zada, ‘justice may be blind, but it can see in the dark.’ 🙂

“Kita harus berhenti menyuruh Shena mengalah, Yah. Salah benar tidak boleh dicampuri dengan penilaian tentang kebutuhan khusus. Lha wong Moldy itu paham, tapi dia suka bikin ‘ujian’ sama orang,” kataku ke Jemi.

As usual, he keeps quiet.

Selanjutnya?

Ah, jika kalian berharap akan ada solusi menawan yang menguras air mata dan menggugah kesadaran, hehehe, not here 😆
Aku dan Jemi masih terus berproses, saling mengingatkan jika ada yang berlebihan, berusaha untuk tidak saling menuduh jika ada kesalahan, terus saling membantu dan mendukung. That’s what life partner does to each other, right?

Kami kan bukan ahli parenting, kami ini pembelajar. Menuntut Shena adalah salah satu bentuk proses belajar. Solusinya, ya belajar lagi dan berusaha lebih adil :). Jangan terlalu menggantungkan pada solusi manusia, sehebat apapun dia masih punya keterbatasan. Menggantungkan ke mana, ah tak perlu kujawab kalian sudah tahu kan…

Sekian kisah Shena kali ini. Aku harus terus ingat bahwa Shena itu unik, Moldy juga unik, tiap anak itu unik. Kalau gak kelihatan uniknya, gantilah sudut pandang kalian. Okeee?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s