Terceburnya Matias

“Aku diceburin sama Moldy, ke got dekat sawah,” lapor Matias pada Jemi.

image
Lokasi Matias kecebur, iklan tanah kavpling 😋

Jemi meneruskannya padaku. Lalu kami meminta ‘keterangan’ kepada Moldy saat itu juga. Dengan bahasa tubuh yang diusahakan dimengerti, kami meminta Moldy tak mengulanginya lagi. Saat bermaafan, Matias yang mengulurkan tangan dulu. Wah, aku makin terharuuu… 😂

Eits, tunggu dulu. Something went wrong.

Moldy tidak menunjukkan wajah dan sikap bersalah, bahkan dia juga tidak mengulurkan tangan duluan. Dia memang tuna rungu, tapi soal kebenaran, insyaallah dia paham lebih baik daripada yang normal. Maaf agak congkak 😆

Ini contoh-contohnya.
Anak-anak besar lagi bermain, lalu salah satu di antara mereka terjatuh dari sepeda dan menangis keras. Mereka tak ada yang menolong, saling menyalahkan. Moldy yang paling kecil di antara mereka semua, tak tahu duduk permasalahannya, malah lari mendekat dan membantu si anak tadi bangun.
“Hei kalian semua kalah sama Moldy,” kata salah satu dari mereka. Elu juga keleus… 😬

Demi mengejar Moldy segera bicara, masih dalam masa denial (bahwa dia tuna rungu), aku pernah menyekolahkan Moldy di PG umum. Dia gak bisa duduk tenang, sukanya main perosotan, usil mukuli teman perempuan yang mungil dan nampak lemah. Kata Jemi sih, memang dia belum waktunya sekolah. Iya lah, masih 3 tahunan, aku aja yang ngeyel 😆. Kalian yang udah jadi emak, tahulah rasanya jungkir balik demi kebaikan anak.
Suatu hari aku berikan jajannya Moldy ke seorang anak. Dia marah, si anak dipukul, lalu jajannya direbut balik. Untung ibunya fine aja. Esoknya aku siapin jajan agak banyak, biar gak rebutan lagi. Eh, si Moldy langsung ambil satu, lalu dia kasikan ke anak yang kemarin dia pukul 🙂

Habis ngusilin Shena atau teman lainnya, dia gak sungkan untuk mengulurkan tangan minta maaf. Tapi jika dia merasa tidak bersalah, ya dia gak mau, menoleh aja tidak.

Kalau ada anak menangis karena Moldy, Jemi mengingatkan,
“Lihat Moldy, dia sembunyi gak. Kalau dia sembunyi, berarti dia salah. Kalau gak, ya berarti bukan dia.”

Nah, aku curiga waktu Moldy gak mengulurkan tangan ke Matias.

“Udahlah ngalah aja, Bubun ke ibunya Matias gih, minta maaf,” saran Jemi.

“Gak bisa gitu, Yah. Kita mesti kroscek dulu ke teman-temannya, bener gak. Gak bisa dari satu sudut pandang aja. Jangan melihat anak kita salah terus,” argumenku.

Tahu aja kan, kadang anak-anak itu cari aman dengan caranya masing-masing. Tapi dengan beberapa pertimbangan, ya udahlah, aku manut, segera minta maaf. Apa salahnya sih merendahkan diri, itu keren, hehehe… Ibunya Matias standar, ‘gapapa, namanya juga anak-anak.’ Well, case closed a bit 😕

Aku mengorek keterangan dari Esteban, Zara, Bima, Gloria, dan lain-lain. Semuanya sepakat,
“Moldy ngagetin Matias, lalu Matias loncat sendiri ke sungai,” kata mereka.

“Bukan didorong sama Moldy?” tanyaku memastikan.

“Bukaaan, Matias loncat sendiri.”
Lalu masing-masing sibuk memperagakan dengan caranya sendiri-sendiri. Hihihi, heboh banget.

“Apa perlu kita datang lagi ke ibunya Matias untuk menjelaskan?” tanya Jemi, setelah kukabarkan duduk perkaranya.

“Gak usah, Bubun bilangin Matias aja,” kataku.

Beberapa kebohongan dilakukan untuk membela diri. Jangan kuatir soal benar salah. Meski mulut bisa semanis madu, tapi gerakan tubuh lain tak akan bisa bekerjasama untuk sebuah kesalahan.

“Mat, beneran kamu didorong sama Moldy?”

“Iyaaa…”

“Tapi kok kata anak-anak, kamu loncat sendiri, gak didorong?”

Lalu dia peragakan bagaimana Moldy mendorongnya hingga terjatuh ke sungai. Aku tak mendebatnya, bahkan aku tak memandangnya supaya dia tidak malu. Aku mendengarkannya sambil sibuk menyetrika.

“Beneran itu?” desakku enteng. Hehehe…

Dia tetap ngeyel mengatakan hal yang sama, lalu menjauh dariku. Terakhir aku hanya mengatakan, jangan bohong ya, tidak menambahkan dengan kata-kata lain. Saat dia menjauh sambil menggerundel, sudah cukup menunjukkan bahwa dia jengah ketahuan bohong. Itu wajar kok, tubuh kita itu punya detoks dosa, tak perlu pakai lie detector 😆

Buatku itu cukup ☺

Moldy juga sering usil bikin gara-gara, anggap aja impas. Zara nggosip, katanya si Matias dikurung gak boleh main sama Moldy 😄 Ah, paling cuma tahan beberapa hari. Bener, tiap Shena ngaji, Matias udah kembali menunggu di depan pagar mengajak Moldy bersepeda.
Pelajaran utamanya: siapkan hati yang lapang dan mental yang tangguh jika anak kecil dan usil seperti Moldy. Kerjaan emaknya adalah meminta maaf dan berusaha nriman 🙂

Semoga dimampukan. Amin.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s