Rasanya ‘Berkebutuhan Khusus’

Menurutku, sebenarnya, setiap orang itu berkebutuhan khusus, hehehe…

Goof it off, it seems that I wandered about special needs cases too much 😆

image

Mungkin aneh bagi sebagian besar orang, ada yang menganggapnya sebagai kutukan, tapi aku beruntung bisa belajar banyak dari menjadi orang tua dari anak berkebutuhan khusus ☺

Buatku sendiri, aku ini biasa aja, baru skala satu, yang hanya sanggup memiliki satu anak berkebutuhan khusus. Bandingkan dengan

orang tua dari Rachmita Harahap yang memiliki 3 orang tuna rungu dari empat anaknya, atau dengan Dewi Yull yang memiliki 2 anak tuna rungu dan satu di antaranya bahkan sudah berpulang.

Coba bandingkan lagi dengan bapak ibu buruh tani yang memiliki 3 anak down syndrome, semuanya laki-laki. Konon, mereka (anak-anak DS) ini tak bisa memiliki keturunan sehingga seumur hidup akan menjadi tanggungjawab orang tua 😕

Buat semua orang tua dengan label anak jenis apapun, yakinlah…
Hadza sayamurru, semua akan berlalu.
Hakuna matata, jangan kuatir, kata Pumba di Lion King.
Badai pasti berlalu, senandung Chrisye.
Don’t you worry ’bout a thing, kata Bob Marley.

Usaha itu harus, lalu poles dengan doa.

Membaca buku ini, aku merasa lebih logis, sedikit terharu, sedikit sedih, namun cukup menambah semangat. Di negara maju, di mana keilmuan dan logika dikedepankan, kita akan jumpai banyak varian kebutuhan khusus beserta penjelasan dan cara menanganinya. Bagus, karena setiap nyawa dihargai kebutuhannya dan kita lihat sendiri kan bagaimana kualitas sumber daya manusia di banyak negara maju. Sementara di negara kita, yang berita kemiskinan sering menghimpit hingga membuat orang bunuh diri (karena kelaparan), cari aman dan cepat. Boro-boro peduli soal kebutuhan khusus, urusan perut aja masih main sikut 😭

Di sebuah kabupaten di Kediri, anak-anak tuna rungu dianggap sebagai anak yang diganggu setan sehingga mereka diasingkan dan tidak diberikan pendidikan. Di lain wilayah, anak ADHD dan gangguan jiwa dipasung karena dianggap meresahkan warga. Di sekitar rumahku juga ada, anak berwajah mongol yang tak dibolehkan keluar oleh orang tuanya dan aku dilarang berbicara padanya 😕

Alhamdulillah, masih ada orang tua baik, yang berusaha total demi kebaikan anak, bahkan sampai menjual rumah sekalipun. Si anak juga berwajah mongol, tapi sudah mulai bernyanyi, menyapa orang, menulis, dll. Buat kita itu mah biasa keleus… Tapi buat dia dan orang tuanya, itu kemajuan pesat. Orang tuanya cerita, bahwa biaya kemajuan itu seharga satu unit rumah di kawasan perumahan itu. Ckckck 😇

Tapi itulah, memiliki kerabat atau menyandang kebutuhan khusus mengajarkan bahwa betapa nikmat itu sebenarnya begitu dekat.
Bicara itu mudah bagi anak normal. Tapi sekali kosakata terucap dari seorang anak tuna rungu, betapa si ortu berasa pengen kendurian ngajak orang sekampung 🙂
Berjalan itu mudah, tapi betapa jalan itu seharga fisioterapi berulang dan sekian juta rupiah obat penguat tulang bagi anak cerebral palsy 😇
Aktif bergerak bagi seorang anak itu tanda kecerdasan dan kesehatan. Namun betapa nikmatnya andaikata gerak itu bisa dikendalikan dan dikurangi bagi penyandang ADHD ☺

Tentu, mensyukuri hal kecil itu adalah sebuah kebahagiaan besar bagi mereka yang mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus. Menyadari betapa Allah inginkan kami mendekat padaNya melalui sejumlah ujian dan tantangan, membentuk life endurance agar sanggup melewatinya. Jika orang (normal) lain, mesti berguru kepada orang bijak yang entah ada di ujung dunia sebelah mana, kami cukup belajar melalui anak-anak 😇

Sebagian penyandang kebutuhan khusus bisa melanjutkan kehidupan seperti yang normal. Bekerja sesuai kemampuan, menikah dengan sesama kebutuhan khusus atau dengan yang normal, memiliki anak yang normal.
Sebagian lagi, tidak. Mereka akan menjadi tanggungjawab orang tua dan kerabat yang bersedia, hingga mereka tutup usia.
Sayangnya, ada yang berkualifikasi untuk melanjutkan hidup seperti yang normal, namun tak diberikan cukup kesempatan oleh keluarga atau lingkungan. Hiks 😥

Catatan pentingku:
– Allah tak pernah menciptakan sesuatu tanpa menyematkan guna padanya. Terus cari potensi dari seorang anak berkebutuhan khusus, sampai ketemu!!!
– Aku selalu berharap ada lebih banyak anak berkebutuhan khusus yang dibaurkan dengan anak normal, sehingga lebih banyak orang yang sadar akan keberadaannya dan memakluminya.
– Sebenarnya tak ada negara yang terlalu miskin hingga tak sanggup memberi makan warga negaranya. Ethiopia itu miskin karena perang saudara. Indonesia yang konon sekali lempar kayu langsung tumbuh ini, juga bukan negara miskin. Jepang yang sempat terpuruk karena bom atom, kini pun tumbuh menjadi trend budaya dan konsumsi. Kecukupan pangan dan sandang adalah modal utama menuju terdidik. Terdidik menjadi modal untuk paham. Paham adalah koridor dasar untuk menerima perbedaan. Kita, masih sibuk di area pangan 😵 Maafkan ujung-ujungnya ngepot lagi ke politik 😆
– Sebaiknya, selalu ada selebaran atau makalah kecil tentang apa itu kebutuhan khusus, tersedia di rumah sakit dan institusi pendidikan. Sebagai bentuk sosialisasi kepada masyarakat agar tidak jadi pegasus (penggagap kebutuhan khusus). Banyak lho, anak kebutuhan khusus yang masih disembunyikan karena tak tahu atau malu.

Overall, ayolah terus belajar dan menghargai (karunia) perbedaan 🙂

Advertisements

One thought on “Rasanya ‘Berkebutuhan Khusus’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s