Jemi Tidak Pergi

Suatu malam di tahun 2011, aku gak bisa tidur. Besoknya Moldy akan menjalani tes BERA. Demi kepentingan tes, aku harus mengusahakan supaya Moldy tidur sesedikit mungkin sehingga tes berjalan lancar sementara dia tertidur pulas. Aku tak bisa mengatur degup jantungku yang begitu urakan malam itu, bagaimana bila hasilnya positif tuna rungu, bagaimana aku menjalaninya 😥 Huaaa…

“Udah tidur aja. Kalau memang iya, kan tinggal pakai alat,” hibur Jemi, menohok.

Thanks hon, so soothing 😠

Aku berangkat sendiri pula, karena Jemi tak bisa cuti mendadak. Tes tergantung kuota harian yang berubah-ubah. Kondisi tak terduga seperti anak sakit mendadak atau tidak kooperatif, bisa bikin tes gagal, lalu diisi oleh antrian pasien lain.

Aku tak ingat bagaimana reaksi Jemi setelah menerima hasil tes. Aku sengaja memberitahukannya saat dia pulang kerja, takut mengganggu konsentrasi kerjanya hari itu. Hanya ada ibu mertuaku di rumah menjaga Shena yang baru berusia sekitar 6 bulan. Kami menangis bersama sewaktu menerima hasil tes bahwa Moldy masuk dalam kategori tuna rungu berat. Apakah Jemi juga menangis? Setidaknya aku tak pernah menemukannya dalam kondisi itu😆

image
Menemani ‘panjat tebing’

Hari-hari sesudah itu tak mudah. Kami tak begitu paham bagaimana terapi memroses seorang anak menjadi lebih baik. Kami hanya menjalani saja. Kami tempuh jarak sekitar 20 km seminggu sekali demi mengantar Moldy terapi. Sepasang orang tua cungkring, bersama Moldy dalam usia terrible two, juga Shena yang belum bisa jalan dan masih lumayan gendut. Kadang Moldy ketiduran atau tantrum, dan itu mengurangi sesi terapi. Meski saat itu rasanya cape dan membosankan, alhamdulillah kami pernah melewatinya 😇

Alat bantu dengar sudah dibeli saat akhir tahun Jemi menerima bonus tahunan. Tak bisa langsung dipakai, karena seperti biasa, ada pemberontakan dari Moldy dan ketidakberanianku mencoba. Saat aku sudah mulai tenang dan berani memakaikan alat serta mengenalkan pada lingkungan sekitar tentang kondisi Moldy, Jemi masih belum serempak. Dia masih suka marah-marah karena ketengilan Moldy. Dia masih agak gugup dengan anugerah ini. Dia masih mencari kesalahan, mengapa Moldy begini. Pernah terbersit juga menyalahkan apakah ada dari turunan keluargaku yang demikian. Sewot dong akunya 😤 Tapi wajar juga ya, semua juga butuh tahu mengapa. Lambat laun, kami merasa itu tak terlalu penting lagi. Melihat yang nyaman itu kan ke depan, bukan melengin kepala ke belakang. Bisa tengeng, tauk? 😆

image
Like father like son

Aku mengeluh pada psikiater yang sempat menangani Moldy beberapa bulan,
“Sepertinya suamiku belum bisa menerima kenyataan.”
Padahal kalau ada kilas balik, prosesku menerima juga tak mudah. Buktinya aku masih mencari kambing hitam, hehehe.. Kalau siap dan menerima, ya menjalani semua apa adanya. Entah dibantu atau malah dihina, peduli amat, tetap jalan terus pantang mundur. Lha aku masih suka maju mundur karena merasa Jemi geje 😂

“Bu, suami ibu sudah sangat baiiiik,” katanya membesarkan hatiku.

☺☺☺

Aku terkejut, baik gimana kerjaannya marah-marah aja kalau Moldy lagi gak bener. Lagian, mana ada sih, balita yang tingkah lakunya bener 😂 Orang tua yang udah makan asam garam kehidupan aja masih suka salah, apalagi balita yang baru beberapa tahun mengenal dunia.

“Ada lho bu, yang ayahnya hanya mau memberi uang tapi tak mau mengantar, tak mau tahu urusan anaknya yang berkebutuhan khusus. Bapak (Jemi) mau kan menemani Moldy terapi,” hiburnya lagi.

“Oh…”

Speechless.

I am asking too much for someone working hard to keep us alive 😥

Sejak saat itu aku berusaha (keras) melihatnya dari berbagai sisi positif.

Sepertinya Moldy sadar dengan siapa dia berurusan. Dia akan lebih manja kepada Jemi, karena Jemi akan menuruti apapun maunya. Jika dia dengan aku, oh aku siap menyingsingkan lengan baju dan baku hantam jika menurutku itu tak tepat untuknya. Hal seperti inilah yang sering membuat kami bertengkar. He couldn’t say NO to Moldy and I insisted on imposing rules 😑

Aku terus mengingatkan Jemi supaya membiasakan Moldy bersuara sebelum mengabulkan permintaannya. Terus mengingatkan dia untuk jangan mau kalah dengan Moldy, yang berkuasa itu orang tua, bukan anak. Kayaknya sih ultimate timing-nya saat Moldy terapi di Lawang, Jemi mulai benar-benar turun tangan untuk Moldy. Dia mengajak Moldy bermain dan sebagainya, tak canggung lagi membahasakan Moldy di tempat umum, dan nampak tegar saat memberitahukan pada orang lain bahwa anak kami berkebutuhan khusus 😇

Tiap kali terapi yang hitungannya sekian ratus ribu atau sekian juta, Jemi yang selalu mengeluarkan uang, bukan dari uang belanja. Sampai kemudian saat kami terus berusaha dan aku menemukan tempat di Lawang itu, dia kibarkan bendera putih.
“Gak ada duit,” katanya datar.

Aku marah sebenarnya, kenapa dia tidak berusaha. Masa Moldy gak jadi terapi?! No way!! Nekat aja, rejeki akan menyesuaikan dengan usaha yang kita lakukan. Aku lanjutkan wira wiri terapi, entah dengan biaya tambal sulam sana sini dan itu cukup, alhamdulillah 🙂

Tiap kali aku nekat lagi untuk coba terapi lagi, Jemi yang meredamku, ‘nanti dulu’. Sometimes, aku jengkel juga, kenapa sih dia gak mau berusaha kerja lebih keras biar Moldy bisa terapi sesuai kebutuhannya. Kenapa sih, selalu aku yang ngoyo berusaha dan dia lempeng aja. Kenapa sih, dia suka melenceng dari aturan yang kuterapkan untuk Moldy.

Saat aku baca-baca catatanku yang lama, aku baru tersadar bahwa itu bukan karena Jemi tak berusaha. Jemi sebenarnya kasihan padaku. Hihihi, ge-er amat yak. Kan hubungan kami udah halal, rasa terbaik apapun terhadap pasangan adalah ibadah 😉 Aku selalu bilang, jika tak bisa membantuku, setidaknya jangan menyulitkan aku dengan menampakkan kekuatiran. Dia penuhi itu, dia diam saja dan memantau seperlunya, seperti apakah kami sudah tiba di tempat tujuan. Kurasa itu sangat cukup untuk para emak keras kepala, semacam aku 😆 Aku hanya ingin dia mengucapkan kata penyemangat dan insyaallah kami bertiga akan baik-baik saja. Don’t worry jika kalian berniat mengikuti langkahku, percayalah akan selalu ada pertolongan di manapun itu ☺☺☺ Aah, nanti aku tulis di judul tersendiri deh, biar gak kepanjangan di sini 😆

Jika ada waktu luang, dia selalu sempatkan mengantarkan kemanapun aku mau. Jika janjinya meleset, dia membayarnya dengan memintaku naik taksi dan aku selalu menolaknya demi pengiritan. Hihihi, teteep lah emak-emak ngirit 😈😈

Kebanyakan, selalu saja ibu yang berperan dalam tumbuh kembang anak, apalagi yang berkebutuhan khusus. Jarang bapak turun tangan. Pengen mewek juga sih, di sekolahnya Moldy, ada beragam kisah yang jauh lebih memprihatinkan. Ada kakek yang terpaksa ngopeni si cucu karena ortunya cerai, gak ada yang mau tahu, dan masing-masing udah punya keluarga  baru. Ada ibu yang berusaha sendiri karena si bapak pergi. Huaaa, Jemi jauuuh lebih baik dari itu semua 😭

Jemi tidak pergi, dia tetap ada di tempatnya untuk menemani kami, meski dengan caranya yang (menurutku) sering salah kaprah, tapi dia tidak mundur. Dia berusaha dengan caranya sendiri 🙂 Bukan banyak kata, tapi sikap dan tindakan.

Sometimes, you have to see deeply that someone quiet has a thousand of acts to express what he feels, without saying ‘I care’.

:):):)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s