My ‘Me Time’, Blessed and Stolen

Emak-emak, acungkan jari yang udah punya me time.

😇😇😇

Perlu gak sih punya me time?
Ya lah, demi kesehatan mental. Kerjaan jadi emak itu cape banget. Maap, curcol tiada tara 😈

image

In fact, berapa banyak sih, dari kita (wanita) bisa punya me time, tertawa lebar, lalu melanjutkan hari tanpa mengeluh?

Mengeluh adalah manusiawi, karena memang kita manusia. Tapi kalau keseringan ya aneh juga, kufur amat 😆

Tapi ya, kalau baca-baca fatwa parenting, seriiingkali ditohok soal, ‘apa sih perlunya me time dibandingkan masa depan anak-anakmu?’

Hiyaa, ini retorika yang enggak banget 😕
Ini seperti mengatakan,
‘Tak apa jadi gila, asalkan masa depan anak-anakmu terjamin baik dengan besarnya peran sertamu di dalamnya. Jangan kuatir, dia tak akan lupa mengobatkanmu ke rumah sakit jiwa.’

😈😈😈

Buatku, saat sibuk ngetik draft, mainan medsos, atau chit-chat sama Mamak via telpon, menurutku itu bukan me time.

Me time adalah waktu benar-benar bebas bagi seorang ibu, tanpa perasaan bersalah sesudahnya, tapi malah menimbulkan perasaan bahagia dan bersemangat. Noted, my own definition :):)

Moldy dan Shena paham kok kalau aku lagi sibuk jawab komen atau bikin draft di wordpress, ceklik-ceklik di instagram, dsb, trus mereka main sendiri. Tapi aku nyesel karena aku melewatkan precious moments bersama mereka. Mumpung sekolahnya belum berat, mumpung mereka belum jadi abege yang cuma mau sama temennya, mumpung ada waktu untuk transfer ilmu keseharian seperti belajar mencuci, mandi sendiri, makan sendiri, merapikan mainan dan sebagainya.

Kalau pas mereka sekolah, trus aku di rumah melanjutkan draft, nyesel juga karena kerjaan rumah jadi terbengkalai. Gedubrakan belum masak belum setrika belum lain kalau para tentara rumah datang.

Jadi kapan sih me time yang yahud?

😑😑😑

“Yah, tadi ibu-ibu di sekolah ngajak jalan ke Royal.” laporku suatu malam.

“Ya ikuto lho,” sarannya.

Jemi mah baik banget, dia mungkin udah paham aku butuh ngobras dan dia gak bisa nemenin aku terus. Aku selalu disarankan keluar sama teman, meski tak lama kemudian aku diumpreng-umpreng disuruh pulang, karena dia gak tahan bersama anak-anak seharian. Hihihi… Rasain dong, emang mudah menghabiskan waktu seharian sama anak-anak? Lebih banyak ke beban moral sih 😉

“Gimana mau ikut Yah, Shena sama siapa. Masa aku hahahihi trus dia dititipin tetangga. Emak macam apa aku ini?”
*aku masih siuman ternyata*

image
Nunggu Moldy bangun di antara lalin yang ruwet

Moldy sekolah di Surabaya, Shena di Gedangan. Pulang sekolahnya hampir bersamaan. Aku udah berusaha jadi emak yang baik, dengan berusaha menjemput Shena tepat waktu seusai Moldy sekolah. Ternyata keadaan tak terduga tak bisa kukendalikan. Moldy kadang tertidur, sehingga aku menunggunya hingga cukup waktu untuk kubangunin pelan-pelan. Belum lagi kalau angkot ngetem, jiaaah 😬 Belum lagi kalau mesti oper karena penumpangnya kosong atau angkot mogok. Baiklah, aku kibarkan bendera putih. Itu di luar kendali ya.

Alhamdulillah, Shena paham.
Alhamdulillah, ada tetangga yang bisa dititipin sebentar.

So, gak mungkin lah aku jalan-jalan dan meninggalkan Shena yang sudah rela mengalah tak kujemput.

Me time ku ini simple aja kok.
Ngobrol sama teman yang bisa kuajak sharing soal politik, agama, sama kehidupan universal. Sekalian ngopi plus ngemil yang gak perlu bikin, gak perlu bayar, tapi lezat sekali dan bisa nambah hahaha 😄😄(ini sangat emak-emak).
Menulis sampe blogku penuh pilihan yang memuaskan pembaca 😆
Jalan-jalan oke, tapi opsi kesekian aja, karena makan duit banyak 😄😄

Akhirnya sih, aku nemu sebuah me time yang so originally cool and guilty-free.

Aku baca buku di angkot.
:):):)

Beberapa buku baru yang tebal udah ludes kubaca. Biasanya udah males, karena kalau baca di rumah suka dicolek-colek Shena biar memperhatikan dia. Udah craving buku baru, tapi duit belum ada 😯 Ya udah baca ulang aja buku lama yang masih keren. Sekarang lagi mengulang Trinity. Kapan hari lalu mengulang guyonan satire Maw Bouwer, pastor Belanda yang menulis soal Nasrani, liberal, plural, atheis dan semacamnya. Otakku udah ngik ngok, udah gak kuat baca seberat itu 😅. Mending baca novel aja biar bisa berlayar menuju dunia yang lebih ramah imajinasi.

Honestly, jaga anak sekolah sambil (hanya) ngobrol ngalor ngidul tanpa tujuan bisa bikin stress luar dalam. Obrolan gak penting sekitaran dapur dan kasur selalu jadi topik hangat 😴 Datangku selalu telat, mepet istirahat, ben ngobrolku lebih terarah. Honestly (lagi), aku lebih tertarik obrolan  bapak sebelah yang bicarain kenapa kebakaran hutan bisa terjadi, apakah Prabowo akan melakukan manuver tandingan, sanggupkah Jokowi mencapai lima tahun, mengapa Yahudi yang seuprit itu bisa menguasai dunia. Kayaknya asyik nih, tapi aku gak kenal, jadi gak enak, hehehe…

😴😴😴

Sehubungan dengan judul di atas, maka kutambahkan lagi, bahwa me time adalah berkah yang tercuri dengan halal di antara sejumlah keharaman moral untuk merasakan kenikmatan.

Weits, (sok) keren kan 😚😚

That’s my me time, what’s yours? 😉

Pinjam gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s