“Kok Bisa Jadi Tuna Rungu?”

Entah ini pertanyaan keberapa puluh/ratus yang saya terima sepanjang tahun saya menemani Moldy bermain, terapi, hingga sekolah. Tanggapan orang berbeda-beda dan saya sudah mulai terbiasa. Ada yang punya penilaian nggregetno, tapi biarlah, sanggupnya dia berpikir cuma di situ-situ aja, kurang piknik, hahaha… Lebih banyak sih yang paham, meski tak ikut memiliki anak kebutuhan khusus, akan bersama menyimpulkan, bahwa ini adalah JATAH ☺. Semua orang akan dapat jatah cobaan sesuai dengan porsi kekuatan dan kesanggupan masing-masing.

Jangan sempatkan untuk bertanya,
‘Ya Allah, kenapa harus aku???’
Ganti dong, dengan optimisme,
‘Ok, aku terpilih, trus mesti ngapain ya?’

πŸ˜‡πŸ˜‡πŸ˜‡

image

Penyebab umumnya, tuna rungu bisa terjadi karena serangan virus rubella saat ibu hamil, kebanyakan konsumsi obat, keturunan, kebiasaan buruk yang kita lakukan pada telinga, juga kecelakaan.

Virus rubella ini bisa menyerang mata, telinga, atau jantung janin. Kadang salah satu, kadang kombinasi dari ketiga itu 😣. Dari melihat sekitar, mata kena katarak jadi harus operasi, jantung bocor atau mengalami kelainan harus operasi juga, dan telinga menjadi tuna rungu pun bisa operasi implan kalau berharap ‘normal’. Semua operasi dilakukan saat mereka masih kecil, hiks, kebayang kan rasanya jadi orang tuanya. Itu belum termasuk yang orang tuanya gak mau tahu, pergi, cerai; sehingga harus diasuh kakek nenek atau kerabat terdekat yang berkenan πŸ˜₯
Saluuut, pada mereka yang bersedia ngopeni atas nama kemanusiaan, padahal ‘hanya’ kerabat jauh πŸ‘πŸ‘

Saya sendiri, tak tahu apakah waktu hamil kena kena rubella atau sebab lain. Dokter mewajibkan tes TORCH, saat ada flek di bulan keempat, hasilnya negatif semua. Insyaallah tak ada masalah dengan mata dan jantung Moldy. Seharusnya sih, saya terapi dulu, sampai bersih baru rencana hamil lagi biar tak mengalami resiko yang sama. Alhamdulillah, ketidaktahuan saat itu malah membuat saya lebih cuek, kehamilan hingga kelahiran anak kedua dalam kondisi lancar dan baik-baik saja πŸ˜‰

Beberapa ibu yang baru memiliki anak satu dan tuna rungu, belum berani memiliki anak lagi. Urusan nasib, siapa yang bisa tahu yaa. Tapi itu pilihan sih, untuk pasrah atau takut, semua mengandung resiko. Pasrah, belum tentu anak kedua tuna rungu juga. Takut, belum tentu juga dengan hanya satu anak orang tua bisa lebih fokus ngopeni.
Ada seorang ibu yang punya anak tuna rungu, lalu dia kasi jeda kehamilan selama beberapa belas tahun. Ternyata dia mendapat anugerah sama untuk anak kedua. Well, mau pasrah atau takut, nasib sudah digariskan ya…

Soal keturunan, sejauh mata memandang silsilah dan mulut bertanya sejarah, saya dan Jemi tak memiliki keturunan tuna rungu. Pernah terbersit saling menuduh, kemudian kami belajar bahwa terusΒ  mencari penyebab tak akan menyelesaikan masalah. Tetangga desa saya keduanya tuna rungu, tapi kok anaknya normal. Ada juga yang keduanya tuna rungu, sekaligus anaknya yang pertama, tapi anak selanjutnya normal. Ada juga yang orang tuanya campuran, dan anaknya normal. Nah, siapa yang bisa menghitung matematika keturunan?

Jika karena kebanyakan obat, saya hanya minum obat gatal (selain vitamin kandungan) tak sampai satu strip saat hamil, itu pun dengan pengawasan penuh dari dokter. Saya juga minum obat batuk untuk ibu hamil, karena batuk yang parah selama itu yang baru berhenti sampai anak lahir. Kira-kira ada salah satu penyebabnya? Mungkin juga, saya sudah berusaha mengatasinya namun tak bisa menghalangi efek sampingnya 😐
Kebanyakan konsumsi obat memang bisa mengurangi fungsi pendengaran dan beresiko tuna rungu. Semisal musisi Beethoven menyandang tuna rungu di usia 26 tahun, antara lain karena konsumsi obat berlebih. Yang bikin heran, menurut para pakar, karya-karya terbesarnya justru dihasilkan saat dia menyandang gangguan pendengaran ☺

Tuna rungu dan juga kebutuhan khusus lain tak selalu dari lahir, bisa juga karena kecelakaan, kebiasaan buruk, juga sebab tak terduga lain. Sooo, semua orang memiliki potensi itu, tapi kan terserah Allah mau milih siapa 😐
Angkie Yudistia, pendiri Yayasan Thisable Enterprise, mengalami kecelakaan di usia 10 tahun dan menjadikannya tuna rungu.

Gimana, udah cukup jelas? Ada pertanyaan?

Ah ya, sekarang kita bahas yang penyebab lain di luar nalar.

Ada juga penyebab khusus pada kami, atas nama tudingan orang yang harus dimaafkan kependekan pola pikirnya ☺ Konon, saya dan Jemi saling cuek dan tidak menurut, ada kesalahan yang kami lakukan di masa lampau, hingga tudingan bahwa kami tidak memohon yang baik demi anak saat dia masih dalam kandungan. Oh…

Ada lho, suami istri yang bertengkar sepanjang hari, sampai saling melempar barang pecah belah, berteriak sumpah serapah memanggil semua penghuni kebun binatang.
Ada lho, anak yang lahir di sel penjara, anak koruptor, anak pengedar narkoba, anak perampok.
Ada lho, anak yang ditinggal minggat oleh ibu atau ayahnya, karena belum siap menikah.
Normal tuh, anak-anaknya πŸ˜…
Itu-itu yang lain banyak juga. Rumus matematika nasib yang pasti tahu cuma Allah, sayangnya banyak juga yang merasa jadi tuhan kecil lalu mematok nasib pada orang lain 😯

Soal memohon, saya bingung juga, selengkap apa sih permohonan kita saat hamil demi ‘kesempurnaannya’. Biasanya begitu bayi lahir langsung dilihat jumlah jari tangan dan kaki, mata, telinga, dan semua kelengkapan fisik lainnya. Nyatanya, hidup tak selalu bisa kita kendalikan begitu saja kan. Selalu ada porsi pembelajaran Yang Maha Kuasa.

Saat hamil Moldy, saya cuma sempat baca surat Yusuf dan surat Maryam. Agama masih di situ-situ aja, sholat bolong-bolong, belum banyak belajar seperti sekarang. Aduh malu 😟

Muntah mual sampai usia kehamilan tujuh bulan, sulit kemasukan makanan apapun. Susaaah sekali berat badan ini bisa menggeser angka timbangan ke arah kanan. Berat badan harus terus digenjot menuju hari persalinan, biar pantas, hehehe… Total cuma naik 9 kilo 😭. Saya juga sakit batuk, pilek, gatal, demam, mbuh cape sakit. Semuanya simsalabim hilang saat Moldy oek oek.

Pulang ke rumah, Moldy tak kaget waktu pintu dibanting, petir menggelegar, orang berteriak. Kami cuma menyangka dia cuek. Sepertinya saya dan Jemi yang terlalu cuek dan bloon, hingga lahirlah Shena saat Moldy baru aja belajar jalan πŸ˜‚πŸ˜‚ Saatnya emak bapaknya ‘digebug’ urip, biar tak santai mulu. Sinau, sinau, sinau…

Sebenarnya, kami mulai curiga dengan kelambatan perkembangan bicara Moldy. Tapi karena saya lagi hamil, harus ada pengorbanan ya. Kami berusaha sedikit saja membahasnya. Lebih fokus mengurusi kehamilan kedua, sampai lahir, mendoakan indikator normalnya, baru kemudian mempersiapkan diri menerima vonis tentang Moldy.

Saat orang-orang dari pihak luar dan keluarga aktif mengikuti perkembangan Moldy dari hari ke hari, ada juga yang bertanya,
“Gimana hasil terapinya? Kapan dia bisa mendengar?”

Silakan baca jawabannya pada tulisanΒ Bisakah Mereka Mendengar dan Berbicara

Gambar bahasa isyarat dari sini

Gambar anak-anak dariΒ sini

Advertisements

6 thoughts on ““Kok Bisa Jadi Tuna Rungu?”

  1. Super sekali ulasannya. Saya jd makin semangat membimbing Syifa 3,9 bln yg alami kurang prndengaran, 70-80 db. Makasih suport dan masukannya….

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s