Apakah Doamu Dikabulkan?

Buat saya, YA ☺

Kriteria utamanya adalah permintaan ringan dan bermanfaat. Karena saya pernah meminta sesuatu yang konyol, selama bertahun-tahun, dan tak pernah terkabul 😆 Alhamdulillah…

Soal yang berat kayak jodoh, karir, anak, kekayaan, keyakinan, keselamatan, dan sebagainya?

Hmmm…
Ada yang bisa bantu jawab?
😉

image

Sejumlah tawanan perang yang mendapat siksaan kejam bertubi-tubi, hingga hampir memutuskan atau bahkan sudah, menjadi atheis. Menurut mereka, tuhan tak ada dan membiarkan semua huru hara terjadi.

Hmm, berat juga ya. Kondisi menderita itu memang persimpangan yang jelas. Kalau bisa melewati dengan keyakinan, naik derajat. Kalau langsung menyerah, ya tergantung hak prerogatif yang berlaku ;). Bisa aja dikasi jalan lain supaya kembali beriman, bisa juga dibiarin sampai tersesat. Ukurannya? Hanya Allah yang tahu ☺

Pernah dengar kisah obrolan si tukang cukur dengan pelanggannya?
Menurut si tukang cukur, tuhan itu tak ada, buktinya masih ada kelaparan, pembunuhan, peperangan, penindasan, bencana alam, huru hara, dan sebagainya. Si pelanggan diam sejenak, lalu memandang keluar, kebetulan banyak orang berambut gondrong tak terawat, lalu lalang.
“Di dunia ini juga tak ada tukang cukur. Itu buktinya masih ada orang gondrong, rambutnya berantakan,” kata si pelanggan.
“Lha kan mereka tak datang untuk minta dicukur?”
“Ya itulah, apakah mereka juga datang pada tuhan untuk minta itu semua dihentikan?”

Doa itu bisikan rahasia dan terkabulnya adalah masalah keyakinan, kenyataan yang seringkali dilupakan.

Saya berdoa juga buat kebaikan Moldy, tapi bingung minta apa. Terus terang, saya tak terpikirkan supaya dia bisa dengar. Menurut saya itu udah jatah, marilah berdamai dan beradaptasi dengannya 😆. Meski keyakinan itu dipatahkan oleh seorang guru SLB,
“Bukan tak mungkin lho bu, pendengaran seorang anak tuna rungu bisa normal.”
Tapi tetep, saya susah mikir ke arah sana, hehehe… Inshaallah berusaha beradaptasi dengan kenyataan itu, karena ada prioritas harapan lain.  Tantrumnya Moldy kan parah banget, susah beradaptasi dengan lingkungan keluarga, bandel, tak mau diatur, udah dengar tapi jahil, bisa ngomong satu dua kata tapi tak mau disuruh atau diulang. Saya minta aja dikasi kekuatan menghadapi ini semua aja, bingung juga banyak yang diingini, jadi tak fokus kan. Kalau minta kekuatan itu kan sekaligus dimampukan atas segala macam reward 🙂

image

Sekitar seminggu kemudian, saya merasa kok tak punya daya untuk marah-marah sama tantrumnya ya, kok jadi lebih tenang, kok pengen ketawa melihat tingkah polahnya, kok juga kadang merasa kasihan padanya karena belum sanggup mengungkapkan, dan juga banyak hal lain. Huhuhu, saya baru sadar, bahwa selama ini saya kurang memahaminya, dengan usia kehidupan yang baru sekian tahun, masa harus mengerti semua 😥

“Kamu gak takut dia pergi jauh?” tanya seorang teman, dengan panik, tahu sendiri waktu Moldy lari menjauh karena marah.

“Ya takut sih, tapi kan dia tak bisa dikejar. Makin kita emosi, makin dia menggoda lari menjauh. Kasi dia waktu sendiri dulu, sambil dipantau dari jauh. Lha wong dia belum tahu kemauan dia sendiri kok.”

“Kalau dia menghilang diambil orang?”

“Ya aku berdoa lah. Percaya sama kekuatan yang punya segala. Ibu kan punya kekuatan segala, digunakan untuk yang positif aja,” tukas saya sambil tersenyum.

Tapi bener kan, kedudukan manusia paling keren di muka bumi ini adalah menjadi ibu. Menjalani kodrat aja udah punya derajat tinggi, apalagi kalau disempurnakan dengan menjaga lisan 😇. Sementara bapak kan mesti cari nafkah dulu, jadi pemimpin dulu, kasi wejangan dulu, tanggungjawab dulu karena dia nanti bakalan ditanya soal para wanita yang menjadi tanggungannya. Fiuuh…

Kembali ke soal doa yang inshaallah dikabulkan sesuai dengan porsinya.

Saptuari menasehatkan, berdoalah, terus memohon kepada Allah seperti anak kecil yang merengek kepada orang tuanya. Kalau kata ustad YM, Allah dulu, Allah lagi, Allah terus. Lalu biarkan yang maha lembut mengatur dunia untukmu, sesuai maumu.

“Aku sudah berdoa tapi kok belum juga terkabul,” keluh seseorang.

Apakah kita sudah memantaskan diri dalam memohon, sudah menjalani syariat dengan sebenar-benarnya, sudah berbuat baik dengan sebanyak-banyaknya, supaya doa itu dipercepat.

Seringnya kita ini minta, tapi terlalu manja untuk berusaha. Bukankah semua pasti dikabulkan? Lha iya, kalian mintanya disegerakan apa sembarang? Niat minta atau asal berdoa?
Ibarat orang pengen naik haji, tapi uangnya buat beli mobil dulu, buat beli rumah dulu, tapi merengek minta bisa segera haji.

‘Aku sebaik prasangka hambaKu.’

Jadinya, prasangka kalian sama Allah kayak gimana?

Kadang mbatin aja malah keturutan. Pernah mengalami kan? 😉
Kalau udah terbiasa malah sering, tapi hati-hati jangan sampai tergelincir pada kesombongan ya ☺

Berdoa dengan khusyu.
Merendahkan diri di hadapanNya.
Berusaha memantaskan diri.
Berprasangka baik.

Inshaallah.
Allahuma…
Amin.

☺☺☺

Gambar pertama dari sini

Gambar kedua dari sini

–>

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s