2015: ‘Ya Allah, Mana Balasan Sedekahku?’

Meminjam sebagian judul dari sini

image

Sedekah yang disembunyikan maupun ditampakkan, sama-sama mendapatkan pahala. Siapa yang menghitung, pasti bukan saya ya… Siapa yang menghakimi, insyaallah bukan saya juga. Melihat punggung sendiri tanpa pakai kaca, diriku ini tiada sanggup, masa mau menghitung sebab akibat sedekah orang lain. Aih… 😈😈😈

Ada beberapa ustadz yang menganjurkan agar kita menyedekahkan sebagian besar harta kita, supaya dapat kembalian lebih. Semacam ‘berbisnis’ dengan Allah. Tapi sayang, jarang yang mengingatkan bahwa sedekah itu juga butuh ‘modal’.

Ceritanya, bahwa seorang pengusaha bangkrut karena menuruti nasehat pak ustadz. Uang usahanya ludes untuk sedekah, namun tak kembali sesuai dengan penghitungan dan harapan. Ditambahkan si penulis, sedekah harusnya ikhlas tanpa berharap apa-apa 😑😑😑

Hohoho, ikhlas itu proses yang tak sekali jadi ya. Naik turun tak stabil, butuh penempaan bermacam pengalaman, dan hanya Allah yang bisa menilai, bukan manusia.
As near as I went through, tak ada sedekah yang bikin orang merugi.
Sedekah tidak akan mengurangi harta.
Manusia itu kan tempatnya salah dan lupa, kalau udah kesrimpet hawa napsu berupa amarah atau kufur jadi suka gak sadar, tak ada yang sempurna. Betul? 😂😂😂

Terlepas dari cerita ini mengada-ada atau benar, ayolah kita pahami dengan kepala dingin ☺

Meminjam ulasan dari sebuah majalah amal, bahwa beribadah (termasuk sedekah) itu ada tiga jenis.
Pertama, ibadah jenis prajurit. Ibadah dilakukan karena takut dengan ancaman neraka jahanam 😟😟

Kedua, ibadah jenis pedagang. Ibadah dilakukan demi mengharap balasan dari Allah. Kayak si pengusaha tadi, sebagian besar dari kita, saya juga. It’s ok, mengharap pada yang memiliki dunia dan isinya. Wajar, bisa tak terbatas selama yakin :):)

Ketiga, ibadah jenis makrifat. Ibadah yang hanya mengharap ridho Allah semata. Ini yang paling sublim, paling tinggi. Susah mencapainya, selalu naik turun, seperti halnya keimanan ☺☺

Tak ada sih yang murni salah satu, selalu campuran dua atau tiganya. Mana yang lebih kuat, jelas tak bisa dinilai sama orang. Kalau ada yang bisa menilai takaran ibadah seseorang, percayalah dia sedang omong kosong. Kalau ada yang suka menghujat keyakinan orang, percayalah dia sedang krisis keyakinannya sendiri ;);) Iya lah, kalau merasa sudah yakin dengan keyakinan kita sendiri, kenapa mesti rese’ dengan keyakinannya orang. Lakum dinukum waliyadin. Udah cukup jelas kan…
Di Alquran sudah dituliskan, bahwa tak usahlah kalian hujat keyakinan (agama) orang lain karena mereka akan membalas sama atau lebih kejam. Ujung-ujungnya, kita juga yang sakit hati karena agama kita diejek balik. Iya kan…

Kembali tentang sedekah yang belum balik modal tadi ya. Perkiraan yang bisa kita ambil:
Pertama, apakah pemahaman antara kita dengan Allah itu sama dan sebanding, soal balasan sedekah. Bukankah Allah memberikan apa yang kita butuhkan, bukan inginkan 😉

Kedua, apakah balasan sedekah itu harus selalu berupa harta benda? Bukankah kesehatan, karir yang baik, keselamatan dari marabahaya, anak yang soleh/solehah, ketenangan jiwa, sembuh dari sakit, tidak mudah sakit, dll, juga termasuk balasan yang bahkan susah dikonversi dalam bentuk mata uang apapun ☺
“Sedekahkan hartamu serta jangan kamu menghitung-hitungnya…” (HR Bukhari dan Muslim)

Ketiga, apakah sedekah yang kita berikan itu kondisinya bersih dan suci? Alias bukan hasil korupsi, perampasan, riba, dsb. Kata seorang kyai, sedekah dengan barang haram itu sama dengan mencuci baju dengan air kencing atau air comberan. Mana bisa bersih. Allah meminta yang halal dari yang kita sedekahkan, bukan sebagai persembahan atau sesajen, tapi untuk kebaikan kita sendiri kok ☺
“…Allah tidak akan menerima kecuali dari yang halal.” (HR Bukhari dan Muslim)

Keempat, apakah kondisi kita saat bersedekah itu sudah bersih dan suci (tanpa dosa), sehingga siap menerima balasan sesuai hak dan harapan? Kadang Allah masih menguji, yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin miskin.
Di surat Adz Zukruf dikatakan, bahwa kita dijadikan kaya untuk berbagi kepada yang kurang. Bagi yang kurang, jadikan sabar dan sholat sebagai penolongmu. Salinglah memahami kelebihan dan kekurangan, tapi jauhi menjadi sombong bagi yang mampu dan jauhi menjadi peminta-minta bagi yang kurang mampu. Mintalah kepada yang punya bumi ini.

Kelima, Allah sebaik dan seburuk prasangka hambaNya. Kita ini mengira Allah kayak gimana sih, ya itu yang akan terjadi. Tauhid itu landasan mutlak, diwajibkan, sekaligus mempercayai adanya Dzat. Nah, apakah kita sudah tawadhu memohon kepadaNya?

Sedekah itu bagian dari ibadah.
Soal jumlah, itu urusan anda dengan amil zakat. Soal niat, itu urusan anda dengan Allah. Soal kesediaan, itu urusan anda dengan sesama. Soal pengembalian, hmm, silakan diresapi sendiri ya, karena semua orang tak menerima pengembalian yang sama 😉

Gak percaya?
As usual, coba dulu ya, kasi tenggat waktu dong biar tahu apa hasilnya 😉
Semua hasil butuh proses kan…

Gambar dari sini

Advertisements

4 thoughts on “2015: ‘Ya Allah, Mana Balasan Sedekahku?’

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s