Ala Tukang Sayur

Berangkat Pagi
Tukang sayur itu berangkat jam 12 malam, untuk kulakan. Menurut mereka, berangkat jam 3 pagi itu udah termasuk kesiangan 😮 Habis subuh, mereka udah datang ke rumah pelanggan atau ke pasar. Ada tukang sayur yang mogok ke kompleks rumah saat subuh. Dia udah teriak-teriak, eh masih banyak yang terlelap dan tutup pintu 😄. Ada sih jamaah subuh, tapi kan fokus ibadah bukan belanja…

Harga Murah dan Bersaing
Tukang sayur yang lewat memang sedikit lebih mahal daripada beli ke pasar, ya itu kan ongkos dia keliling. Tapi tetap jauh lebih murah dan tentu lebih segar daripada beli di mall dan swalayan. Harganya diimbuhi kebaikan, serta jauh dari praktek tilep menilep seperti di rata-rata mini dan supermarket 😠.
Tilep menilep ini sudah rahasia umum, sudah banyak yang menulis di media sosial, tapi tetap berlangsung. Lha iya, masyarakat kebanyakan males rame. Eh, saya juga males rame sih, kemudian memutuskan untuk sesedikit mungkin ke minimarket dan ngeyel jika harga tak sesuai bandrol :). Itu hak konsumen lho ya.

image

Di tukang sayur, praktek penilepan hampir tak ada. Paling ikan yang tak segar, dia tak mau ganti. Ada juga yang mau ganti utuh, tapi saya yang tak tega. Kembalian beberapa ratus aja, dia masih sempat nawarin lombok, vetsin, atau yang lain. Kalau di minimarket,
“Kembaliannya boleh disumbangkan, ibu?”
Jiaah, menyumbang itu butuh rasa ikhlas dan sukarela, wahai mbak minimarket 😑 Ini kan sama dengan penodongan halus. Saya sering bilang tidak, dan ada mbaknya yang suka sewot. Biarin ah, menyumbang itu tak butuh woro-woro dan pemaksaan ya.
Eh maap, ini topiknya tukang sayur kok malah melenceng jadi ke mbak minimarket 😆
Kalau sayurnya udah jelek kena panas, biasanya dapat diskon, malah bisa gratis sama langganan. Ini kesukaan emak-emak irit ngibrit macam saya ini 😄😄. Biasanya jam 10an, saya ditawari beberapa renteng ikan dengan harga murah.
“Ayolah mbak, ben keranjangku enteng.”
Hehehe, bahagia dong ya dapat murah meriah…

Bisa Utang Jangka Pendek 😆
Kadang kita bisa utang lho, hehehe, tapi jangan kebablasan ya. Eling makanannya udah dimakan, masa belum dibayar. Eling dia juga butuh makan dari pembayaran kita, masa mau diulur-ulur.
“Sori ya aku lupa. Tagihen ta.”
Si tukang sayur meringis aja.
“Gini ada yang gak bayar?” tanya saya kepo 😆
“Biasa, mbak. Ada yang kalau ditagih, janji terus. Ada yang terus belanja, tapi yang kemarin-kemarin gak dibayar. Sok lugu ngono,” ceritanya.
😦😦😦 Tega amat yak.
“Kenapa gak dikejar?”
“Yo ben, gimana lagi,” jawabnya tanpa bernada keluhan.

“Rugi dong,” tukas saya bersimpati. “Alhamdulillah. Rejeki selalu ada, selalu cukup.”

☺☺☺

Menawar, Sepakat, atau Menolak
Saya baru aja beli kentang seharga 4 ribu. Begitu si tukang sayur pergi,
“Harusnya kamu tawar mbak, pasti bisa dapat 3 ribu,” kata seorang ibu menyesalkan.
Hambok ya ben, ikhlas kok beda seribu aja ;). Saya ang males dengan rumitnya menawar, sering dikasi harga lebih murah sama bonus kecil-kecil, tanpa minta lho.
Kadang saya juga menawar kok, basa basi aja. Formalitas emak-emak 😆. Dapat alhamdulillah, tak dapat ya sudahlah.
Ada si tukang sayur yang suka ngasi harga berbeda sama orang berbeda. Sama orang yang menawarnya gila-gilaan pakai acara bully verbal, dia naikkan harga setingginya, biar ditawar di harga yang seharusnya. Hahaha, sip sip, jadinya dia tetep tak rugi 😀

Tahan Banting
Sebaiknya tukang sayur itu memang laki-laki, supaya tahan banting menghadapi intimidasi emak-emak yang siap perang demi harga murah 😂
Kasihan lho, saat mereka diejek kayak binatang atau dibentak karena salah hitung. Ejekan atau amarah itu bisa jadi tanda keakraban, tapi kalau berlebihan ya terlalu. Mereka jualan dengan halal lho, tidak mengemis, tidak mencuri, tidak berbohong, juga memberi bonus tanpa syarat.
Repot amat yak, harga mahal ditawar, dikasi murah masih tak mau juga 😯. Coba deh, sesekali ke pasar bandingin harga, atau ke supermarket sekalian. Untung mereka tak banyak kok, ongkos mereka wira wiri, kita udah tak perlu repot belanja jauh-jauh. Fair enough, kan? Sayangnya, banyak yang mikir mau enaknya sendiri, tak berkenan mikir betapa kita udah sangat dimudahkan dengan tukang sayur keliling. Empati, ibu, bukan antipati demi harga mati kadar sendiri ☺

Gambar dari sini

Advertisements

One thought on “Ala Tukang Sayur

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s