Reunion, At The Age of 50

Hanya iseng berhitung dari sekarang, yang kebetulan seperti halnya Cinta menunggu Rangga. Selama 14 tahun. Kok ya mau-maunya sih digombali dengan ketidakmungkinan kayak gitu 😂. Fyi, aku tak pernah nonton AADC lho, edisi gratis sekalipun. Kayaknya sekalian aja kugenapin sampai aku jadi nenek nanti, hehehe… Aku tak perlu mengaku dan kalian tentunya sudah tahu kan berapa umurku. Kecuali kalian sering tak masuk waktu pelajaran matematika bagian penambahan dan pengurangan 😄

image

Menjelang Ramadhan dan Lebaran, biasanya udah banyak yang merancang untuk reuni. Aku udah melewatkan beberapa belas reuni, dari latar belakang yang berbeda. Sering diajak tapi hanya beberapa yang sempat kudatangi. Alasan normatif, well, sibuk dengan keluarga batih. Itu udah jelas alasan yang keterlaluan, lha masa kita tak punya waktu barang beberapa jam aja untuk bengong 😂 Made-up reasons, hmm, tak siap dengan gigitan realitas 😄😄 Ouch…

Di posisi seorang marketing, reuni itu bisa berarti membuka pasar baru. Terutama yang berjiwa hidup mati bersama MLM ya, tiba-tiba bisa sok dekat yang berujung mengajak gabung ke chart. Modus batu di dalam pisang 😄😄 klethak…

Di posisi seorang jomblo, reuni itu membuka peluang untuk perjodohan menata masa depan yang hakiki 😆

Di posisi seorang yang bangga dengan karir dan pencapaiannya, reuni itu sebagai ajang untuk unjuk diri, apalagi jika dia punya sejarah pernah jadi underdog di masa lalu πŸ˜‰

Di posisi seorang istri/suami yang bermasalah, reuni adalah sebuah tempat pelarian. Alarming 😟, saling jagalah diri masing-masing.

Di posisi seorang caleg, reuni adalah ajang untuk kampanye dan menggalang massa. Hati-hati ya, teman sendiri itu lebih apa adanya, kalau tak didukung ya jangan emosi jiwa 😄. Bagus dong, dia tidak basa-basi.

Di posisi seorang yang tak pede dengan pencapaiannya hari ini, reuni adalah sebuah rencana malapetaka yang harus dihindari. Bisa aja teman-temannya tak mikir aneh-aneh, tapi kalau udah ada mental block, susah juga ya πŸ˜•

image
Sindrom ‘aku mah apa’

Di posisi umumnya, reuni itu membuka kenangan lama yang punya banyak rasa. Refreshing sesaat dari kenyataan yang rutin dan menjemukan. Selalu ada kemungkinan positif seperti perkembangan relasi bisnis, sosial, dan relasi cinta ;). Soal relasi cinta yang halal, ya tergantung juga berapa usia kita saat reuni diadakan.

Maunya sih, aku tak akan datang reuni sampai usia 50 tahun. Bukan memutus silaturahim. Bukaaan… Tapi sebentar, emang bakal ada reuni saat usiaku 50 nanti? Hihihi, kege-eran yak. Maunya aku aja yang berinisiatif jika cukup dana. Namanya rencana ya, usaha manusia dengan keputusan Allah.

Tapi sebentar lagi, reuni dengan teman di tahap mana? 😯😯
SD, SMP, SMU, kuliah, atau teman bekerja? Paling (diperkirakan) minim konflik situasisasi hati aku, yang mana? 😦
Yakin udah siap pasang muka tembok, berdamai dengan borok penuh nanah 😳 di masa lalu? *kabooor*

Udah ada reuni kecil via media sosial, betapa banyak teman bukanlah mereka yang dulu lagi. Jaman berubah, wooii, jangan-jangan cuma aku aja yang kelewat retro, masih menggemari rok polka asimetris ala Wilma Flinstone? 😗

Si A membela partai yang udah curi start kampanye lintas agama dan isu sosial itu, si B mencanangkan bendera kemerdekaan demi sebuah sistem kenegaraan yang menurutnya terbaik, si C suka terbawa isu hoax dan menganggapnya real, si D sibuk mengkritik apapun di media sosial tapi melempem dalam kenyataan, si E jadi pengusaha sukses yang super sibuk, lalu si F biasa aja, trus nulis betapa mindernya dia ketemuan dengan semua temannya yang udah beda 😈. Cari deh tulisan macam orang F ini di Kompasiana. Eh, masih ada si G yang suka curhat di media soal rumah tangganya yang di ujung tanduk.

Siapa mereka itu? Bukan orang yang kukenal, kebetulan bayangan fiktif, gara-gara kebanyakan ‘tenggelam’ di media sosial πŸ™‚

Kemungkinan sih, reuni di usia 50 akan lebih meminimalisir konflik, kecuali ranah politik dan ekonomi ya, itu kan tak terbatas usia πŸ˜‰
Siapa yang tahu seperti apa teknologi dalam 14 tahun mendatang? Benarkah teknologi akan musnah, lalu dunia akan lebih banyak mengandalkan pada perenang, penunggang kuda, dan pemanah? πŸ˜‰

Atau jangan-jangan, ada nenek Cinta yang sudah mengkalkulasi ribuan purnama demi kakek Rangga.

Please deh…

:):):)

Gambar dari sini

Gambar lagi dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s