Masjid dan Anak-anak

Saat sholat di rumah, Moldy dan Shena selalu menunggu saat aku sujud, lalu mereka bergantian naik ke punggungku sambil cekikikan. Begitu rukunnya mereka gantian naik, atau bahkan naik bersama. Saat aku duduk tasyahud akhir, mereka juga sudah bersiap di samping atau depanku, lalu menyerbu untuk duduk di pangkuanku. Piye mau diajak ke masjid???

😂😂😂

Awal tahun 2014, di usia yang belum genap 5 tahun, Moldy berhasil anteng mengikuti sholat hingga 4 rakaat. Aku mulai menyusun rencana untuk mengenalkannya rutinitas ke masjid. Moldy yang masih lari ke sana kemari, mengganggu ke sana sini. Jemi yang masih sungkan, kalau nanti Moldy malah mengganggu orang lain πŸ˜‰

“Kalau ada anak-anak pendiam dan manut, itu namanya orang dewasa,” kataku berkilah.

“Kalau ada yang marah, suruh marah sama aku,” aku masih ngeyel.

“Memangnya dulu kita waktu kecil gak lari-lari pas di masjid. Oh iya, kita bahkan gak tahu apa itu masjid,” serangku terus.

Pokoknya sejuta alasan agar Moldy harus ikut ke masjid 😄

image
Wisata ke masjid Al Akbar

Akhirnya, Moldy hanya ikut jika aku ikut. Aku deg-degan juga sebenarnya. Tapi ada bekal kisah Rasulullah bersama cucunya itu, bikin aku bertekad bulat. Rasulullah pernah sholat dengan posisi cucunya lagi bermain di punggung beliau. Beliau bukannya marah, malah melamakan sujudnya sampai mereka selesai bermain.

Aku istighfar aja saat beberapa bapak memandangiku, seolah mau ngomong sesuatu tentang Moldy. Deg-degan euy. Menunggu waktu yang tepat kah? Sesungguhnya akupun menunggu anda, pak, tak akan membela diri duluan 😆

Keberangkatan Moldy dan Shena ke masjid, ternyata diikuti oleh teman-temannya. Jadilah taman bermain pindah ke saat sholat berjamaah maghrib dan isya 😁

“Anak-anak rt 8 ini berisik amat ya, mana sih ibunya?”
Beberapa ibu mulai saling berbisik, merasa terganggu sholatnya.

Emmm…

“Mbak, gantian nemani anak-anak sholat ya, kita udah jadi bahan pembicaraan orang,” ajak tetanggaku.

“Mereka tak pernah jadi anak-anak? Langsung gede trus bisa sholat gitu?”
Aku ngeyel.

“Tapi gak enak sama yang lain, ganggu yang solat,” katanya lagi.

“Ah biarin, ntar juga berhenti sendiri,” candaku, agak jengkel, tapi tetap menemani anak-anak sholat, njagani kalau ada apa-apa 😆

Sampai kemudian terjadilah insiden, kok ya pas kebetulan aku gak ikut jamaah 😄 Masjid gempar, kasak-kusuk sana sini tiap pertemuan, sampai kabarnya mau digelar rapat untuk membahas keabsahan anak-anak (balita) mengunjungi masjid. Ada anak kecil yang dibentak seorang bapak lain, sampai menangis ketakutan.

“Bu, anaknya ustadz kan juga dibawa dari dulu, lari dan rame ke sana sini. Kenapa yang dibentak anak lain?” tanyaku penasaran.
Anaknya memang pak ustadz udah dilepas ikut bapaknya ke mana pun sejak dia bisa jalan. Usianya di bawah usia Moldy, jadi masih suka lari-lari dan rame juga. Anak-anak gitu lho 😆

Aku merasa ‘kebakaran’ juga ya. Seolah giliran anakku tinggal nunggu waktu, kalau tak segera diluruskan. Selain itu, si anak yang dibentak juga anak wilayahku juga. Hehehe, pas sudah ya pembelaan primordialnya 😆

“Ini kan sampai berlari di antara barisan jamaah sholat mengganggu. Dia (anak ustadz) kan enggak,” kilahnya berapi-api.

Hah, siapa bilang? Mana ada anak kecil anteng. Jaraaang 😯 Yang lain ikut nambahin, bahwa mereka termasuk najiz. Pakai diapers yang bawa pipis ke mana-mana. Lha ini, aku belum tahu juga gimana hukumnya.

Btw, si anak ustadz itu pernah ambil gawai si jamaah dengan cueknya. Iyalah cuek, baru juga 2 tahun. Sholat itu butuh berapa lama sih, sampai tak bisa pisah dari gawai. Ckckck…

“Mbak, aku gak bisa bayangin sampean dulu kayak gimana ya (membiasakan Moldy ke masjid),” curhat si ibu, yang anaknya dibentak.

image
Menara masjid An Nur, Batu

Mbuh ya, aku kok lupa. Aku bakal keukeuh kalau merasa tujuanku jelas, hehehe… Kuat-kuatan siapa, kuat terus memprotes atau kuat terus menjalani. Itu aja πŸ™‚

Pas ibu-ibu ngecuwis barengan, aku duduk di belakang mereka dengan manis, menunggu apakah aku akan ditegur. Tak ada teguran kan, jadi aku tetap terus membawa Moldy ke masjid, hehe… Seringnya bersama gerombolan anak TK yang super ramai itu 😄😄

“Harusnya memang gak boleh anak ke masjid, paling tidak sama ibunya. Nanti mengganggu kekhusyuan sholat,” kata Jemi.

“Wanita kan gak wajib sholat ke masjid. Trus cara membiasakan mereka sholat dan mengenal masjid gimana?”

“Emm…”

“Harusnya ada takmir atau sekalian taman bermain buat anak anak. Takmir tugasnya menertibkan, taman bisa buat peralihan dengan anak tetap mengenal masjid,” usulku.

“Gak bisa ikut jamaah dong si takmir,” kata Jemi menanggapi.

“Lha emang itu tugas takmir. Dulu di Batu, takmir itu kayak hansip yang jalan-jalan menertibkan jamaah.”

“Gak bisa dapat pahala sholat berjamaah dong,” tukasnya lagi.

😴😴😴

Bah, jengkel aku dengan pandangan kayak gini. Kebaikan dan kebenaran memang tak selalu sejalan. Tapi mbuh lah, pengetahuan soal itu semua masih sama-sama minim 😐

Anak-anak mulai ‘berguguran’,  sebagian karena terlalu kecil, sebagian juga karena tak didampingi ibunya. Sungkan juga kalau aku mengingatkan dan mengajak ibunya, karena wanita kan tidak wajib dan entah mereka sedang sibuk apa. Sementara excitement anak-anak juga tak boleh dikekang.

Krik…krik…krik…

image
Yuk terbang!

Entah ya, orang-orang itu sebenarnya lupa atau gak mau tahu, bahwa anak-anak itu bukan orang dewasa yang bisa cepat konsentrasi. Kita aja gak tahu apakah sholat kita beneran khusyu dan tumakninah. Ngaku deh, kalau lagi sholat, pasti tiba-tiba ingat apa kita udah matiin kompor, di mana menaruh dompet, ingat janjian sama teman, kapan mau menyelesaikan deadline, dan apa aja deh yang tiba-tiba dapat mind delivery dari devil courier.

😄😄😄

Silakan baca di sini sebagai referensi tambahan kita soal hukum khusyunya sholat ☺

Pernah baca kan kisah si Ali tentang khusyunya sholat? Ali minta diambilkan anah musuh yang tertancap di tubuhnya, waktu sholat, biar tak merasakan, karena fokus beneran demi Allah. Kalau anak-anak lari dan ramai, kita sakit di mananya sih? Kita yang gak sanggup fokus, kenapa mesti menyalahkan anak-anak yang memang belum tahu πŸ˜•

Tiba-tiba udah hampir setahun berlalu, sejak silang sengkarut yang hampir menginisiasi raker demi kemaslahatan umat itu, hahaha… Berlalu dengan sejumlah kegiatan, lalu terlupa.

Beberapa bapak, ibu, dan anak-anak mulai sering menyapa Moldy karena sering ke masjid. Anak-anak juga tambah banyak yang sholat jamaah, bahkan pernah ada bayi ikutan, tapi hanya sehari dua hari kayaknya. Gapapa, good start anyway πŸ™‚

Aku mulai bisa membagi waktu dengan tugas rumah, anak-anak kulepas di pagar dan mereka sudah berangkat sendiri ke masjid. Alhamdulillah πŸ™‚ Soal jumlah, sedang berusaha memenuhi lima waktu. Masih bolong-bolong sih, tapi so far, jauuuh lebih baik daripada waktu aku seumuran mereka πŸ™‚

Moldy dan Shena masiiih aja ngajak ngobrol kalau aku lagi sholat di rumah, kadang mengganggu, tapi udah beda jauh sama dulu. Moldy bahkan udah beneran marah kalau dia berusaha konsentrasi sholat dan temannya mengganggunya. Hehehe…
Jemi udah berkenan sholat bersama Moldy, bahkan mengajaknya ikut pengajian sampai malam πŸ™‚

Masjid juga mulai membaik.
Ada juga kok, bapak yang tetep ngeyel mengajak anak balitanya ke masjid. Si anak udah hafal banyak surat pendek lho, tapi kerjaannya berlarian terus ke sana kemari, gak mau ikut sholat 😄
Beberapa waktu lalu, para pengurus masjid mengadakan lomba gerak jalan habis sholat subuh berjamaah, dengan sejumlah doorprize menarik. Tiap sabtu minggu ada pembagian uang saku buat anak-anak yang ikutan sholat subuh berjamaah. Ada juga sholawatan rutin, mengundang pembicara lokal untuk pengajian, khataman, dll.

Ayolah, ramaikan masjid dengan anak-anak. Bisa diusulkan agar ada takmir atau ibu sementara ngalahi menemani anaknya. Soal taman bermain, aku gak muluk sih, belum pernah tahu percontohan semacam itu. Tapi harusnya diwacanakan juga ya, karena itu juga punya tujuan dan kepentingan didaktif kan. Bukannya sebagian masjid sekarang udah bertransformasi menjadi ruang resepsi pasca ijab qabul? Lalu kenapa tidak, jika untuk tujuan pendidikan religi sejak awal?

Ayolah, kita banyakin baca-baca lagi yuk, biar makin banyak panduannya.

☺☺☺

Advertisements

One thought on “Masjid dan Anak-anak

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s