Berkah

“Jangan cari banyak, carilah berkah.”

Begitulah pesan banyak pihak, dalam berdagang. Sebenarnya saya masih bingung tepatnya kayak gimana, lalu saya utak atik sampai menemui dan mengalami sendiri πŸ™‚

image

Pendapatan yang pernah saya hasilkan sekitar 12 tahun lalu, di sebuah perusahaan berjangka…

adalah hampir sama dengan gaji suami sekitar 2-3 tahun lalu.
😆😆😆
Saat memutuskan resign dari situ, saya juga masih ragu, puaskah ‘napsu ini’ dari mengandalkan jualan baju yang ‘hanya’ untung beberapa puluh ribu saja 😆

Ternyata kenikmatan dan kebersyukuran masih dalam area pingpong, saya belum ketemuan dengan yang namanya berkah.
Kembali deh bekerja, kali ini di perusahaan seluler terbesar, dengan gaji dan bonus lumayan. Bonus hari raya saja, bisa untuk perayaan prestise seorang keponakan dan hari itu selalu diingat oleh beberapa bude, betapa saya ini pemurah nian πŸ˜‰
Itu belum termasuk margin keuntungan sebagai bakul yang berjualan di antara break siaran. Sampai pernah lho, saya dipanggil supervisor, demi terlalu aktifnya jualan, hehehe…

Kerjaan selanjutnya, barulah awal berkah merekah. Saya manut pada Jemi, yang tak membolehkan meniti karir di Jakarta. Padahal planning udah matang. Saya tekuni dunia mengajar, lalu mengejar sejumlah persyaratan supaya bisa dapat pensiun. Kerjaan asik, dapat pensiun pula πŸ™‚

Keputusan tidak jadi ke Jakarta itu sempat disayangkan oleh guru senior dan juga orang tua. Saya manut aja pada suami, selama alasannya tepat ☺. Siapa sangka, setelah itu saya malah dapat berkah berlipat. Dapat kerjaan mengajar yang minim konflik batin dan tempat kerjanya dekat dengan rumah. Hubungan saya dengan para guru termasuk teman, adalah hubungan kerjaan terbaik dan terlama sepanjang sejarah pekerjaan 😍 Saya resign sejak melahirkan Shena di tahun 2011, tapi kami semua masih berhubungan baik dan cukup intens hingga hari ini. Fyi, saya juga masih wira wiri ke sana untuk jualan πŸ™‚

Jadi, sebenarnya berkah itu apa sih?
Baca di sini versi seriusnya ☺

image

Berkah adalah saat kita menjadikan Allah sebagai tolok ukur utama 😇

Saya resign dari perusahaan berjangka, karena tak mau syubhat atas halal haramnya. Mamak bahkan ikut mendoakan supaya saya segera keluar. Saya resign dari perusahaan seluler, ya karena maunya segera fokus pada sebuah karir pasti hingga akhir hayat. Teringat janji dengan seorang teman soal usia 35. Kind of achieving, berkah salah satunya ☺
Ternyata saya resign juga dari pekerjaan yang saya cintai, hehehe… Saya memilih mengasuh anak-anak, lebih mencintai mereka daripada mengejar karir. Wait, jangan salah paham ya. Ini bukan menuduh ibu yang bekerja tidak mencintai anaknya lho ya. Itu pilihan pribadi saya, orang lain pun punya prioritas dan alasan lain ☺

Salah satu kenikmatan berjualan adalah, kita benar-benar menyerahkan arus pergerakan rejeki pada ‘the invisible hand’, yang melakukan tarik ulur sesuai dengan permintaan dan kebutuhan kita.

Pernah ya, beberapa kali malah, waktunya bayar tagihan, padahal duit udah super cekak. Alhamdulillah ketutup juga, entah lupa tepatnya gimana. Kayaknya tiap berniat baik untuk melunasi tagihan tepat waktu atau ingin berbagi sedikit keuntungan (yang bahkan belum saya terima), adaaa aja cara uang datang demi memenuhi niat ini πŸ˜‰

Sedikit saja saya sombong, banyak sekali tamparan. Iya bener 😯 Pernah suatu saat, saya sudah mengkalkulasi bakalan untung banyak dengan bawa baju ini itu, lalu membayangkan orang akan memborongnya habis-habisan. Wusss, cuma laku 2 helai, yang murah-murah pula 😂. Ternyata kisah yang hampir sama juga dialami penjual lain. Saat kita terlalu ngoyo kalkulasi demi keuntungan kita sendiri, semuanya meleset begitu saja. Bandingkan ya, dengan cerita sebelumnya, saat berniat demi kepentingan pihak lain ☺

image

Saya sih lebih seneng dengan diingatkan seperti ini, jadi lebih santai jualan, tak membawa ambisi berlebih harus begini begitu. Mengalir aja, utamakan silaturahim dan hormati keputusan serta waktu konsumen. Saat tiba rejeki yang tak mau ditolak, mereka sendirilah yang memohon hingga mengetuk pintu demi menyerahkan sejumlah uang atas pertukaran dengan sejumlah barang πŸ™‚

Soal mereka yang berhutang (pada kita) lalu susah bayar atau malah mamgkir, sesama penjual yang baik pasti akan saling mengingatkan, bahwa Allah akan menggantinya dengan yang lebih baik. Itu pasti, kita aja kadang yang tak sadar, memakai ukuran kita sendiri yang terbatas. Ar Rahman mengingatkan, nikmat manakah yang kamu dustakan. Artinya, kita selalu dapat nikmat kok, tinggal mau mengakui apa tidak πŸ˜‰

Tak sanggup menulis detail soal berkah, karena banyaaak sekali πŸ™‚ Harus banyak disaring karena sebagian besar berkah jualan bisa terdeteksi riya dan ujub, hehehe…

Singkat kata, berkah jualan antara lain:
– Meningkatkan jalinan silaturahim
– Melatih kesabaran menunggu rejeki dari barang dan piutang yang sudah kita tawarkan atau titipkan
– Melatih kepasrahan dengan semua rencana yang sudah kita plot, berhadapan dengan sang maha rencana, yang malah, memberikan jauh berlipat, di waktu yang tak terduga
– Melatih keikhlasan atas sejumlah harapan yang ternyata tak sesuai rencana. Urusan hati tak bisa dibeli dengan uang berapapun, karena dia tertempa dari banyak pengalaman dan hidayah.
– Keuntungan sedikit dan halal adalah indah, saat kita memutuskan untuk mensyukurinya. Keuntungan banyak adalah cobaan, karena banyak setan siap menggerayanginya, hehehe…
– Berkah apapun bisa berbeda dengan pengalaman yang berbeda, karena aku adalah ‘kepada siapa aku menyerahkan pikiran’ πŸ˜‰

Demikian penyampaian saya perihal berkah dalam jualan, semoga bermanfaat ya ☺

Gambar dari sini

Gambar kedua dari sini

Gambar ketiga dari sini

Advertisements

3 thoughts on “Berkah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s