Memandiri Moldy

Aku ini termasuk emak yang tak sabaran dengan kemandirian anak-anak. Kok ya kebetulan Moldy juga tak sabaran kalo pengen bisa apa-apa. Like mother like son, quote ini bukan pro gender kayaknya 😄

image
Yes I can do it :p

Transportasi
Moldy belajar sepeda roda dua sendiri, gak mau diajarin. Pede banget cuma bisa menuntun sepeda, sementara temannya sudah mahir mengayuh 😄. Begitu mulai banyak temannya yang bisa roda dua, dia belajar sendiri seharian. Besoknya, dia nyungsep dengan bibir berdarah, di depan pagar rumah tetangga. Tak berselang lama, sepeda udah kayak kaki ketiga empatnya :mrgreen:
Dia udah bisa menyeberang jalan kecil. Kadang berusaha sok bisa di jalan raya yang ramai dengan pengendara yang ugal-ugalan, tapi aku belum berani. Tangan mungilnya ikutan dadah-dadah saat kami menyeberang 😀

image
Sok gaya dengan sepeda orang

Households
Moldy juga pernah bantuin aku menjemur. Saking semangatnya, dia pernah salah naruh baju kering. Eh, yang udah kering dia balikin ke bak air 😭 Aku gak bisa marah, maunya ketawa meski jengkel karena yang dia basahin itu clodinya Shena, yang keringnya butuh matahari terik super.
Moldy pernah gandrung sesaat dengan celana hitam karet yang dipakainya dengan telanjang dada, lalu bergaya grrrh meniru Hulk. Ih, kamu kan kerempeng dan tidak hijau, nak… 😄. Celana itu dicucinya di dalam gayung kamar mandi, trus dijemur. Pulang sekolah diangkat dari jemuran trus disetrika. Udah gak bisa kubohongin, dia tahu kalau setrika bisa panas ditunjukkan dari lampu indikator yang menyala merah. Dia marah kalau steker gak ditancapin ke sambungan listrik. Walah, terpaksa, dengan bismillah dan pengawasan penuh, aku kasi volume yang keciiil banget. Tinggi badannya kan belum sampai ke meja setrika, tetep ngeyel menyeterika, dengan naik galon 😄
Moldy membantuku mengganti sarung bantal, menyapu dan mengepel lantai jika makannya tercecer. Belum sempurna dan belum rutin, tentu saja. Tapi inisiatifnya membersihkan layak diapresiasi 🙂

image

Homework and School
Moldy menyiapkan buku tugas dan tas sekolahnya, tapi dia belum peduli pada bekal 😁. Dia mengerjakan tugas sekolahnya sambil kutemani. Kadang dia agak stres sambil nangis-nangis, karena aku tak mau menyelesaikan. Hehehe, siapaaa yang sekolah… Tak selesai, aku tak mau jaim dengan menyelesaikannya 😈 Aku ini sebenarnya bukan pendukung calistung usia dini. Kalau anak bisa, ya monggo dilanjut. Kalau gak bisa, sabar aja nunggu dia bisa. Berhubung kurikulum TKnya Moldy udah kayak gitu, aku tak bisa melangkah lebih jauh, selain memaklumi. Moldy bisa, tapi kalau dia udah bosen, aku tak mau maksa.
Banyak orang terkejut sekaligus senang, melihat perkembangannya bisa menulis dan berhitung :mrgreen: Alhamdulillah, tapi itu bukan sesuatu yang butuh tembakan confetti. Aku lebih excited jika dia bisa membongkar lego dan menyusunnya kembali, instingnya akan jadwal sholat tepat waktu, juga perhatiannya pada anak kecil dan orang sepuh :). Itu kan tidak diajarkan di sekolah, bisa naluri, bisa juga pembiasaan. Entah mana yang lebih dominan.

image

Peer-group
“Moldy gak bisa ngomong, wek…” ejek si Matias, usianya setahun di atas Moldy.

Biasaaa, anak-anak 😂
Moldy sih gak tahu, aku diam, tapi tetanggaku yang biasanya membesarkan hati kami.

“Kamu bisa makan sendiri kayak Moldy? Masih disuapin kan?”

“Iya sih,” jawab si Matias polos 😄

Aku sering (berusaha) cuek kalau dilaporin Moldy tentang anak yang menganggunya. Biar dia belajar menyelesaikan konfliknya sendiri selama tak berlebihan. Alhamdulillah, masih diketemukan dengan banyak anak baik yang bersedia berteman dengannya, apa adanya, tanpa intervensiku sama sekali 🙂

Religion
Moldy juga belajar puasa, sholat, tapi belum ngaji. Tak ada alasan dia tuna rungu terus dianggap susah bisa atau gak dikenalin. Sholat, kebetulan dekat masjid, terbantu banget, alhamdulillah.
Puasa, aku kabarin malam sebelumnya kalau besok dia tidak makan tidak minum sampai pukul sepuluh, dengan geal geol anggota tubuh, lalu menunjuk jam.
Sahur yang tahun lalu blas tak bangun, sekarang udah lumayan. Aku bangunin trus dia minum susu kupegangin sambil merem. Sementara soal ngaji, berhubungan dengan akademis, agak susah juga memulainya 😆

Target dan Patokan
Moldy kan tuna rungu, jadi aku sebagai emaknya yang harus berlari mempersiapkannya, biar gak ketinggalan banget untuk seusianya. Kalaupun ketinggalan, at least dia masih punya nilai lebih untuk bisa survive di lingkungan pergaulan.
Tahun ini dia mau 7 tahun dan masih TK B. Antara sedih dan pasrah, masih bolak balik mengigatkan diri bahwa fase tiap anak tak sama 😑 Sesekali aku menantang diri, melihat (membandingkan) perkembangan seorang anak normal di usianya. Kadang keder, kok agak jauh yak 😆. Hehehe, udah tahu spesial kok, malah mencari patokan yang biasa.
Aku agak abai soal akademis dan kemampuan verbal, itu kan udah kumaklumi dari awal. Berhubung aku ini orang endonesa yang masih riweuh dengan tanggungjawab pada ortu dan mertua, aku mesti menyampaikan beberapa pencapaian positif dari berbagai segi, selain dua hal itu. Maksudku, supaya para beliau itu bisa memandang dari sudut lain tentang kemampuan Moldy. Meski, ujung-ujungnya, teteeep, dua hal itu yang mereka tanyakan 😴😴😴

Closing
Bisa jadi, anak lain lebih baik daripada Moldy ataupun lebih buruk. Seperti halnya hakekat bersyukur, melihatlah ke bawah supaya bisa membuat kita merasa lebih baik 🙂
Ini catatan pribadiku ya, sebagai hiburan, histori, dan estimasi target. Jangan dibandingkan dengan anak kalian sendiri, tentu masing-masing punya perbedaan dan kelebihan mendasar. Fokuslah pada kemampuan anak, bukan pada kekurangannya. Seorang anak seharusnya hanya boleh dibandingkan dengan dirinya sendiri ☺

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s