Violence To Violate

Sependek sejarah saya menjadi anak sekolah selama 12 tahun, hanya sekali mengalami masa kekerasan oleh guru. Waktu SD. Ibu guru itu, sebut saja ibu Marya, ditakuti sekaligus dicintai anak-anak nakal. Entah, kok bisa ya 😈. Kemampuan menghajarnya tak tertandingi, didukung oleh badannya yang cukup besar. Sayang itu tak didukung oleh kemampuan mengajarnya, standar saja, jauh di bawah kemampuan guru-guru lembut. Guru-guru lembut yang jika marah hanya bisa mengomel, menyindir, atau bahkan hanya diam ☺

Tangannya selalu siap bereaksi jika ada sedikit saja kesalahan dari muridnya. Semisal suatu hari, saya dan beberapa teman lupa bawa LKS. Kami disuruh berbaris ke kelas sebelah, untuk pinjam.

image

Lha kok ndilalah, guru kelas sebelah menolak permintaan pinjaman kami 😨. Kembalilah kami semua ke kelas dengan tangan hampa. Kami disuruh berbaris di depan kelas, lalu dicuwowo satu per satu. Itu belum termasuk omelan betapa teledornya kami hari itu. Ckckck…

Udah itu aja?
Jangan kuatir, masih ada 😆
Di suatu Rabu, hari piket saya, bu Marya menilai bahwa kerja piket kelas hari itu kurang sempurna. Tampillah saya dan sekitar 5-6 orang teman ke panggung, eh depan kelas, untuk diomeli, lalu dicuwowo satu per satu di depan teman-teman. Cuwowo itu dicubit pipi, cubit besar dan keras 😣
“Ini semua, contoh petugas piket yang tak becus,” tegasnya.
Saat seorang teman protes karena dia merasa sudah maksimal mengerjakan tugasnya, eh dia dapat cuwowo tambahan.
Saat seorang teman menangis kesakitan sekaligus sakit hati, dia juga dapat cuwowo tambahan.
Wik, horor beud. Malu sudah lewat, dan tak ada juga yang bakalan mengejek, karena masing-masing anak tinggal tunggu giliran. Bahkan anak yang paling rajin dan pandai sekalipun tetep dapat cuwowo, pas dia teledor 😐

Di rumah, Mamak dan Bapa tak pernah sekalipun menggunakan kekerasan fisik demi menertibkan keempat anaknya. Mamak pernah menyatakan bahwa sebenarnya beliau tak setuju dengan tindakan guru yang seperti itu. Tapi Mamak juga bukan orang yang dikit-dikit minta keadilan demi anaknya, seperti yang lagi in di jaman kini ☺ 

Kata sakti Mamak,
“Bagaimanapun kamu masih membutuhkan (gurumu).” 😴

Sebenarnya saya bisa merasa jengkel banget, andaikata dihajar sendirian. Berhubung seringnya dihajar bersamaan, yah enjoy ajaa, pringas pringis kesakitan gitu deh 😆

Beberapa kali, saya sempat melihat beberapa anak laki yang lari dari tamparan, jambakan, atau cuwowoan, yang dikejar dengan lemparan sebaskom air. Tak ada orang tua yang protes, tiap anak bertahan dengan caranya masing-masing. Tak ada juga anak yang super nakal, cepat atau lambat dia akan berhadapan dengan sang ibu guru. Sebenarnya kepala sekolah sempat memperingatkan bu Marya agar tak berlebihan, tapi bu guru ini selalu memiliki alasan handal ☺

Namun bu Marya memiliki sisi berbeda, dia tak melulu marah-marah tanpa alasan, semuanya demi kebaikan murid-murid. Barangkali bagian inilah yang membuatnya dicintai, dan saya ikut merasakan sebagiannya 😉

Suatu siang saya jalan kaki sendirian pulang sekolah. Sudah naik kelas, sudah tak diajar bu Marya lagi. Tak disangka, saya harus berjalan bersama si ibu ketika kebetulan kami berpapasan. Saya sungkan menghindar.
“Gimana, piketmu sudah bener?” tanyanya. Oh, si ibu perhatian juga ya…
Saya meringis, menjajari langkahnya dengan menjawab pendek ya tidak, sembari berdoa supaya tak dapat cuwowo di tengah jalan 😆
“Rumahmu mana?”
“Di jalan Bromo, bu.”
“Jauh ya. Gak naik kijang (angkot masa itu)?”
Saya meringis lagi. Uang saku selalu mepet, hanya cukup untuk satu kue dan satu kali angkot. Berhubung masih ingin jajan, saya pilih jalan kaki, uang angkot untuk jajan 😆
Si ibu merogoh sakunya, mengambil sepeser uang 50 rupiah.
“Ini, cukup buat naik kijang?”
“Iya bu, cukup.”
Hehehe, mana bisa basa basi, ntar salah lagi 😁
“Tuh ada yang lewat, naik gih,” katanya setelah memberikan uangnya.
“Terima kasih, bu.”
Wajahnya datar, hanya mengangguk, tak ada senyum. Wik, masih horor. Tapi lumayan lah, naik angkot gratis 😄

image
Pernah naik ini waktu sekolah?

Tak ada dendam mengendap, meski saya ingat dengan baik masa itu. Pelajaran penting. Bagaimanapun saya tak ingin mengulangnya pada anak atau murid. Cukup. Penguatan dari Mamak dan Bapa menjadi bekal dasar bahwa kekerasan bukanlah solusi jangka panjang. Padahal Bapa sendiri juga dibesarkan dengan disiplin kekerasan, tapi sekalipun tak pernah dicontohkan kepada anak-anaknya. Kekerasan adalah solusi jangka pendek, yang mengarah bukan pada pokok persoalan tapi menimbulkan masalah baru di kemudian hari. Duplikasi perilaku, dendam, …

Seorang guru terapi menyatakan,
“Kita tak pernah menggunakan kekerasan fisik, bu (dalam mendisiplinkan anak spesial), tapi kalau boleh jujur, itu jadi satu kunci untuk menaklukkan mereka.”

“Maksudnya?”

“Saya pernah punya kakak yang agak terbelakang (retarded). Dia selalu semaunya, tak ada yang bisa menaklukkannya. Saya sampai bentak supaya dia paham, tapi saya sayang. Kalau dia tak menurut, saya cubit sedikit lengan dalamnya sampai dia minta ampun. Tidak bisa bu, kalau kita tidak menggunakan kekerasan sama sekali,” jelasnya.

Hmmm…
😐😐😐

Iseng, saya survei ibu-ibu yang begitu ringannya mencubit atau memukul anaknya sendiri, di muka umum.
“Wes gapapa aku di rumah aja (tidak bekerja), sambil kucubiti sendiri anakku kalau mereka nakal,” katanya sambil tertawa.
Haduuuh…
“Tak bakal tertib kalau tak dipukul.”
“Anakku tak bakal nurut kalau tak pakai kekerasan.”
“Wes, aku gak sabaran kalau anakku bertingkah macem-macem, kucubit aja udah.”

Tak semua, meski ada juga yang menyesali perbuatannya, ingat bahwa anak-anak masih kecil, belum banyak paham apa-apa.
“Habis marah-marah, anakku kuciumi, aku menyesaal. Maafkan ibu yang kurang sabar ya nak.”
“Kalau ortu aja udah main kekerasan, kemana lagi anak bisa mencari kenyamanan dan perlindungan.”
“Itu senjata terakhir, kalau sudah keterlaluan, tapi hampir tak pernah kulakukan.”

Kalimat terakhir itu hampir identik dengan Mamak. Jika anaknya tak menurut, Mamak berhitung sambil sedikit mengancam,
“Kuhitung sampai tiga, nanti ku…”
Tak pernah diisi apa-apa, karena saya tahu pasti Mamak tidak tega ☺
Dasar penasaran, suatu hari saya tidak menurut dengan dalih ingin tahu apa sih yang bakal dilakukan Mamak setelah angka tiga 😄
Mamak meminta kakak mengambil kemoceng, lalu memukulkan gagangnya ke betis saya, lembuuut sekali. Oh begini rasanya, udah cukup, nanti saya menurut lagi kok, hehehe…

Berita kekerasan ortu dan guru, silakan di search sendiri ya, banyaaak 😭. Saya tak mau gegabah menilai, itu karena pengaruh media, ketidakmatangan emosional, pola asuh yang kurang tepat, pendidikan yang salah kaprah, atau karakter. Entah yang mana 😟

I wonder, kita mau sampai kapan seperti ini terus? Satu sama lain saling balas membalas, tanpa berkenan memahami dan mendudah pokok persoalannya 😑

Saya pikir memang ada something unfinished dalam proses kita menjadi orang tua (termasuk guru). Seperti kata para ahli, bahwa pernikahan itu harusnya dipersiapkan dengan sebaik-baiknya, bukan sekadar memenuhi tradisi dan kriteria usia. Bahwa pernikahan itu akan menimbulkan konsekuensi memiliki anak. Bahwa anak bukanlah seseorang yang langsung tahu bagaimana menjadi manusia yang mandiri. Bahwa kekerasan fisik dan verbal bukanlah aspek utama yang menjadikan anak lebih baik. Tegas dan keras adalah dua konsep yang berbeda ya 😉

Parenting bukan lagi hanyalah kesadaran dan kesepakatan ortu saja, tapi kewajiban yang disematkan oleh negara kepada ortu, semacam wajib belajar 9 tahun. Menyesuaikan dengan Pancasila kan, Kemanusiaan yang adil dan beradab 🙂

IMHO, as a learning mom ☺

Gambar dari sini

Gambar angkot dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s