2016: Menuju Akhir Rabat

Bagian yang paling membuat saya tak nyaman saat Ramadhan adalah sepuluh hari terakhir ๐Ÿ˜ฅ

Ada sebuah harapan ingin maksimal. Maunya memohon ini dan itu, ibadah ini dan itu, berbuat baik ini dan itu. Tapi hawanya itu, semacam berhadapan dengan kerangkeng yang mulai berasap oleh setan yang siap melesak maju. Beraaat… ๐Ÿ˜ญ

image

Masjid mulai lengang, perkampungan mulai riuh dengan sibuknya permudikan, hidangan lebaran makin semarak, sementara kalkulasi ibadah mulai juga dilupakan. Padahal program rabatnya udah mau habis, berjuang untuk lebih baik mulai ngos-ngosan lagi, fiuuuh… ๐Ÿ˜ด

Bukannya Ramadhan itu area pembelajaran bagaimana bertahan mengekang hawa napsu, bagaimana ikut berempati dengan yang tak makan minum ajeg seperti kita, bagaimana kita memenuhi pundi-pundi amal segemuk-gemuknya dalam waktu yang begitu singkat demi hakekat hayat yang entah sampai kapan dikandung badan?

Mengkis-mengkis menunggu pembagian THR, yang nantinya hanya demi sehari saja. Baju baru, icip-icip masakan dan makanan, menebar uang baru, saling bermaafan, silaturahim ke sanak nan jauh di mata. Hmmm, apakah tidak afdol jika di hari lain?ย Bukannya pahala terbesar malah udah lewat saat hari raya itu tiba…

Padahal saya juga ada di sekitarnya: baju, icip, uang, bermaafan, dan silaturahim ๐Ÿ˜‚
Uzurnya sih, menghormati tradisi, selama tak melanggar syariat.
Sebenarnya itu semua bisa dilakukan di semua waktu. Seperti saat protes Valentine Day, kan kasih sayang bisa setiap hari. Seringnya membenarkan yang biasa, bukan membiasakan yang benar. Sebenarnya kan cukup sholat Ied dengan sandang yang bersih dan wangi, makan minum seperlunya (bukan malah balas dendam), saling mengunjungi sanak saudara dan tetangga, dan esoknya ibadah sunnah sebagai rabat tambahan, udah menunggu. Puasa sunnah atau malah diterusin makan sana sini? ๐Ÿ˜ˆ Saya, lagi-lagi, seringnya, yang terakhir ๐Ÿ˜‘

Budaya paguyuban yang tersisa dari masyarakat yang merangkak menuju patembayan total adalah budaya kebersamaan pesta. Indahnya keramaian, yang kemudian dibingkai dengan halal bihalal, ibadah silaturahim, bagaikan bayi suci. Wow, setahu saya sih, yang merasa ibadahnya mau ditotalkan malah merasa kehilangan dengan perginya Ramadhan. Udah habis masa rabat, udah habis masa pengisian bahan bakar jiwa. Saatnya kembali ‘berperang’ hingga sebelas bulan ke depan, dari sebuah stasiun pengisian yang hanya memberikan masa selama satu bulan ๐Ÿ˜ฅ Yakin, udah cukup?

Di lima hari terakhir sekitar rumah.
Nasi kotak di masjid menumpuk masih banyak, dengan jamaah yang mulai bisa dihitung jari. Tak seramai belasan hari pertama. Sedih ya, semoga habis dan tidak mubadzir. Adakah orang yang masih kelaparan di luar sana? Apakah yang bertarung dengan dentuman bom, masih bisa menyesap rasa manis asin, ataukah hanya ada pahitnya rasa kehidupan? ๐Ÿ˜ญ

Mau tak mau, harus ada kerelaan perginya program rabat tahunan ini. Barangkali, rentetan kejadian dan perasaan akan berulang di tahun depan, siapa tahu? Tentu, dengan catatan, masih terdengar detak nadi ๐Ÿ˜‰ Ouch… Inshaallah.

Selamat melanjutkan puasa.
Yuk, bikin maksimal sampai titik penghabisan…

โ˜บโ˜บโ˜บ

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s