Kepo Dulu, Masih Kepokah Kini?

Ini adalah sejumlah pertanyaan Shena (5 yo) yang sempat kuingat.
Kenapa kita punya hidung? Apakah supaya kita bisa ngupil?
Kenapa tante itu mau pergi?
Kenapa tante itu cape?
Kenapa kita harus sungkem?
Kenapa kita harus minta maaf?
Kenapa Bubun tersenyum padanya?
Kenapa kita harus menyapa tetangga?
Kenapa dia gemuk?
Kenapa dia tak mau makan?
Kenapa dia tak bisa mendengar?
Kenapa si ibu tidak buka toko hari ini?
Kenapa aku sakit?
Kenapa Allah tak segera menyembuhkan aku?
Yayah beli hape ini di mana? Siapa nama penjualnya? Laki atau perempuan?
Siapakah namaku nanti jika aku naik ke TK B?
Kenapa namaku tidak ikut ganti, bukankah aku sudah naik kelas?
Di mana rumah kita jika aku SD nanti?
Dengan siapakah aku nanti akan menikah?
Apakah aku akan memiliki anak?
Apa itu pacaran? Nanti aku pacaran dengan siapa?

image
Gambar dari Shena di agendaku

Jawabannya adalah….

Tergantung 🙂

Jika mudah akan kujawab segera.

Jika susah, akan kujanjikan jawaban lain waktu yang kemudian dia lupakan. Kebanyakan kayak ini nih. Anak-anak tuh asal nanya, memuaskan curositynya, tapi tak terlalu butuh jawaban ndakik. Sayang kita sebagai orang dewasa yang udah pernah tahu macam-macam hal (padahal cuma tahu, bukan paham 😒), jadi berimajinasi tingkat tinggi, suka sok dihubungkan kemana-mana 😂. Varian lainnya, baru mikir harus dijawab apa, eh dia sudah nanya lagi. Waaa, bener kan, mereka tak butuh jawaban ndakik…

Jika konyol, aku akan tertawa lepas lalu dia marah atau malah bertanya lain lagi, mengapa aku ketawa 😀

Jika aku sedang ingin bergaya sebagai penjelas ulung penuh angan demi manfaat pemahamannya kelak, aku akan bicara panjang lebar. Semisal pertanyaan ini…

“Bubun, apa itu rugi?”

Aku tarik napas panjang, bersiap memuaskan dahaganya akan pengetahuan ☺

“Semisal Shena punya uang sepuluh ribu, buat beli pisang. Trus dibikin pisang goreng. Lalu dijual. Tapi cuma laku delapan ribu. Bla…bla…bla…”

Aku menjelaskan pelan-pelan, memastikan dia memahami tiap kalimat pendek yang kusampaikan. Dia selalu menjawab ya. Di akhir penjelasan, aku kroscek.

“Gimana, udah paham?”

image
Kenapa sapinya coklat?

“Enggak,” jawabnya dengan tegas dan polos.

Aku tak kuat menahan tawa sampai harus menghentikan motor, supaya tak terjatuh.
😄😄😄

Aku yang sok menjelaskan. Sadar dong kalau dia belum paham penambahan dan pengurangan, bagaimana mungkin kuberikan pengertian soal untung rugi. Hehehe, ini mah nekaaat…

Terus terang, kadang aku cape, jenuh, dengan pertanyaan yang sama atau pertanyaan yang sebenarnya tak memerlukan jawaban. Lalu aku ingat lagi, otaknya sedang berkembang, akalnya sedang berpola. Dia sedang penasaran tentang banyak hal. Aku harus segera memakluminya. Nanti kan ada juga saat dia berusaha mencari jawabannya sendiri dan menahan pertanyaan yang tak perlu. Bukankah kita yang udah dewasa ini, (harusnya) tak lagi bertanya seperti itu 😉

Eh, benarkah? 😒

Sekarang ngepot dikit ke cerita lain 🙂

Pernah tahu kan, para bapak yang keranjingan games, yang melupakan keluarganya hingga berjam-jam demi mahligai kerajaan fiktif? Konon, itu karena mereka tak diberikan games apapun waktu kecil 😯

Pernah tahu juga kan terapi yang namanya play therapy? Terapi bermain, bermain tanah dan air, bagi anak (normal) yang kebanyakan dikurung dan tak boleh ini dan itu, sampai mereka tak tahu betapa bergunanya elemen kehidupan itu bagi perkembangan motoriknya ☺

Belakangan, aku kok jadi curiga, jangan-jangan…

image

Jika (kini) kita masih sibuk bertanya soal sepele seperti anak-anak itu, kepo urusan lain yang tak ada hubungannya dengan kita, mungkin kita memang tak pernah puas bertanya di masa kecil. Mungkin dibentak, mungkin dicuekin sepenuh hati, mungkin diejek atau disepelekan, entah yang mana 😐

Ada juga nih ‘jangan-jangan’ versi agak ilmiahnya, yang kudapat waktu seminar bersama ahli AVT (audio verbal therapy) yang namanya Cheryl Dickson.

Saat mengajarkan kosakata kepada anak, menurut Cheryl, jangan banyak bertanya. Kebanyakan anak gak suka dites 😮 Nyatanya, dalam keseharian kita:
Lihat adek, bunga warna kuning itu namanya apa hayo?
Mana sih ayah? *lalu si anak menunjuk ayah*
Ini namanya apa ya? *ibu menunjuk kursi*
…..
Cara mengetahui pemahaman anak antara lain dengan cara membuat kalimat tak lengkap dan meminta anak melanjutkan. Ingat, bukan menanyakan lho yaaa… Contoh penerapannya, ntar kubahas di judul lain, biar tidak terlalu melebar ☺

Ingat juga, almost our whole life as an Indonesian human adalah menerima pertanyaan setiap saat.
Udah sekolah ya? Di mana?
Kapan lulus?
Kapan kerja? Kerja dimana? Gaji berapa?
Kapan menikah?
Kapan punya anak?
Anaknya udah bisa bicara?
….
Silakan ditambahkan sendiri sesuai dengan pengalaman pribadi masing-masing 😄
Bisa jadi kita ikutan kepo karena kebiasaan ditanyai, jadi diterusin aja 😆

Bisa jadi kita kepo karena konsep ‘keakuan’ kita masih minim. Hahaha, jadi panjang begini yak, padahal cuma mau cerita pertanyaannya Shena.

What do you think? 😉

Gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s