Why Me Lord

“Kenapa aku yang dipilih, di antara semua tetangga, saudara, dan banyak orang lain di dunia. Kenapa harus aku?”

“Jika memang kebutuhan khusus itu karena virus, kenapa dari dua anak kembar, satu bisa tuna rungu dan yang lain tidak? Kenapa tidak menyerang semuanya?”

“Kenapa anak kedua, yang sudah diberi jarak lahir, tetap saja tuna rungu?”

image

Itu adalah sejumlah pertanyaan yang pernah kudengar, yang entah apa jawaban masuk akalnya, saat bertukar kisah dengan para orang tua dari anak spesial.

Aku merasa beruntung atas kebodohanku, tidak mengetahui bahwa Moldy tuna rungu saat aku hamil Shena. Pada sebuah skala unik, ketidaktahuan adalah anugerah yang tak terhingga nikmatnya. Seharusnya, jika mengikuti kaidah medis, aku terapi dulu supaya anak kedua tidak terjangkit virus yang sama. Tapi aku tidak tahu ☺

“Aku ini sudah menelisik silsilah keluarga kami. Tak ada satu pun yang tuna rungu, lalu ada apa dengan kami?”

“Belum ada adik bu?”

“Belum berani, takut kalau (tuna rungu) lagi.”

Kita tuh, seringnya mikir dari sudut pandang ortu.
Kenapa harus aku?
Kenapa harus kami?
Kenapa bukan mereka saja, yang (sepertinya) sangat sabar dan mampu secara materi?
Kenapa bukan mereka saja, yang banyak berbuat dosa, biar segera bertobat?
Kenapa?

πŸ˜‘πŸ˜‘πŸ˜‘

Baiklah, supaya adil, bagaimana jika (seandainya sanggup), anak bertanya dari posisi mereka?

Kenapa harus kami yang menyandang kebutuhan khusus?
Kenapa harus anda yang menjadi ortu kami? Bolehkah kami memilih ortu lain?
Kenapa kami tak bisa bicara seperti mereka? Apa itu arti normal?
Apa arti tawa itu? Apa arti gerakan bibir itu? Apa arti mimik muka itu?
Kenapa anda menyalahkan nasib ini pada kami, seolah kamilah yang memilih anda menjadi ortu kami dengan kondisi kami seperti ini?
Jika anda menyalahkan nasib yang diberikan Allah, bolehkah kami juga melakukan hal yang sama?
Kenapa kami harus dikurung, padahal kami adalah makhluk sosial yang membutuhkan pergaulan dengan sesama (manusia)?
Kenapa kami dikucilkan? Apa salah kami?

“Kamu tak tahunya kan rasanya punya anak kebutuhan khusus?”

Andaikata aku sanggup, aku juga akan mempertanyakan hal yang sama. Tapi, ada sejumlah nasib yang terpilihkan, bukan kupilih sendiri.
Jika aku bertanya seperti itu, aku kok kasihan ya pada anakku, juga anak spesial lain (yang ortunya nanya-nanya begitu). Dia yang belum tahu apa-apa waktu lahir ke dunia, harus menanggung beban derita dan kesalahan yang dituduhkan orang (tua) padanya.

Saat ibu-ibu saling mengeluh betapa repotnya punya anak spesial, mending diam aja atau pergi sekalian. Saat ibu-ibu beranak normal menyatakan betapa beruntungnya aku punya anak yang lumayan mandiri dan mulai menurut, oh helooo, keberuntungan itu kerja keras, saudari. Keberuntungan itu bukan doorprize dari langit yang bisa dimenangkan kombinasi angka di kupon porkas atau sdsb.

Apakah penyesalan dan keluhan akan mengubah anak menjadi normal?
Apakah anak langsung paham bahwa dia berkebutuhan khusus, sementara ortu lahir jauh lebih dulu daripada anak? Siapa yang mengetahui dunia lebih awal?
Baiklah, kita semua ingin anak normal dan terbaik, apakah kita sudah memohon seperti itu? Apakah kita sudah berusaha yang terbaik juga?
Apakah kita juga memperhatikan hak-hak mereka dalam memiliki selera, pendapat, dan juga karakter pribadi?
Jika sudah dan ternyata hasilnya melenceng, apakah kita akan menyalahkan Allah?
Apakah dengan menyalahkan akan mengubah keadaan?

Banyak retorika yak :mrgreen:

Udah ya, silakan dijawab sendiri sesuai dengan kepentingan masing-masing πŸ˜‰
Just ask, don’t bother answering…

Gambar dari sini

Advertisements

3 thoughts on “Why Me Lord

  1. kalau aku salut dengan ortu yang sabar punya anak berkebutuhan khusus, mungkin kalau aku bisa stres deh. Apalagi ortu yang bisa membawa anak berkebutuhan khusus sukses , wah aku salut banget, betapa perjuanagannya hebat banget

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s