Why Me Lord (2): Parents Support

Kata Prie GS, hidup ini keras, maka gebuklah. Kata Andrie Wongso, keraslah pada hidup maka hidup akan melunak padamu. Tanpa mengabaikan fakta, mengambil intisari dari Opa Dono, bahwa sejumlah orang memiliki ‘tembok’, yang bisa me-mendhal-kan inspirasi atau motivasi jenis apapun 😐

image

Moldy dapat diagnosa resmi bahwa dia tuna rungu, saat usianya dua tahun lebih sedikit. Dari awal, aku tak pernah menanyakan kenapa harus aku, itu pertanyaan yang menurutku kufur dan pesimis 😈 Semua manusia adalah para pejuang, bayi yang dihasilkan dari satu sel sperma aja, di antara ribuan sel yang menyerbu ovum. Bayangkan!

Aku bilang sama Moldy, sekaligus mensugesti diri, bahwa Allah pinjam telingamu, karena Allah sedang menyimpan sebuah harta karun besar sebagai ganti sesuatu yang Dia pinjam ☺ Kami harus bersama mencarinya, dengan cara apapun. Meski tetep ya, sepulang dari rumah sakit, aku mewek-mewek. Banjur aku kudu piyeee? 😭

Harus segera melangkah ya, meski sambil lanjut mewek-mewek, gapapa. Aku browsing sana sini, beli buku-buku juga. Aku temukan kisah Ellen dan Shafa, yang berhasil menempuh pendidikan di jalur umum berkat kerjasama dan kerja keras orang tuanya. Keduanya mendengar dan berbicara, melalui intervensi alat bantu dengar, bukan implant πŸ˜‡ Wow kan… Apakah aku langsung tergerak?

Tentu tidak, hehehe…
Meski menjalani terapi, konsultasi, banyak browsing sekaligus baca beberapa buku, aku belum memegang inti dari anugerah ini. Berjalan dengan hampa, masa adaptasi yang lumayan menguras emosi. Ya begitulah, masih limbung dalam 1-2 tahun pertama πŸ˜•

Pelajaran utama buatku, jangan terlalu mengandalkan akal sebagai kusir. No matter how hard I tried to survive, hati cuma bisa dikendalikan sama yang punya, yang membutuhkan serapan banyak pengetahuan sampai kemudian tatag melakoni jatahku. Makanya aku tak heran kalau banyak orang mendhal dikasi tahu dengan sejuta pengetahuan dan logika ini itu, karena hatinya belum tersentuh.

Siapa sih, yang bisa langsung handal menjadi ibu?
Siapa juga sih, yang bisa langsung siap menjadi ibu dari anak spesial?
Dampak pertama bisa tertekan,Β  menyalahkan pasangan dengan turunan yang salah, menyesal gak jaga diri waktu hamil, menyesal gak ke dukun demi menghilangkan guna-guna ini itu (eh…), dan lain sebagainya. Yet, we have the porridge served ☺. Enjoy…

Kalau tak segera ditangani, resikonya si ibu bisa depresi bahkan hingga bunuh diri, mengucilkan diri atau anaknya, tidak mau mengakui anaknya, cerai, menyerahkan anaknya kepada semesta, sakit jiwa, berobat pada ahli abal-abal yang malah bikin anak tambah parah, dan sebagainya πŸ˜₯

image

Sebaiknya sih, sebelum ortu diberikan serangkaian arahan dan petunjuk untuk menangani anak spesial, mental ortu yang diberi arahan dan petunjuk dulu. Ibaratkan seperti pekerjaan babysitting, ada pendidikan khususnya kan. Memang hampir semua ortu punya kekayaan naluri dan kasih sayang tak terbatas untuk anak-anaknya, tapi untuk mendapat anugerah menangani anak spesial, tak semua ortu langsung siap 😐

Di beberapa negara, seperti AS, Inggris, dan Australia; ada semacam parents support bagi ortu yang anaknya spesial. Semacam penguatan gitu ya, bahkan sampai anak spesial dipelihara oleh negara. Kalau si ortu gak mau nyekolahin, bakal dikejar sama dinas sosial. Baca dari buku ini, varian kebutuhan khusus di sana bisa jauh lebih macam-macam karena segera ditangani, sehingga bisa diteliti dan diketahui, jika ada sesuatu hal baru. Mungkin di Indonesia juga sebanyak itu (variannya), tapi sayang masih tumpang tindih dengan kepercayaan mistis dan tradisi. Pengetahuan dan hasil penelitian dipakai belakangan. Kalau tak percaya,Β  baca iklan di Liberty atau Posmo, baca iklan baris di koran, iklan tempelan di tiang listrik, atau simak saja rahasia kesuksesan beberapa artis dan pejabat. Tak jauh dari asap dupa dan ritual abrakadabra kan πŸ˜‰

Tapi gimana lagi, this is our Indonesia, my dear ☺ Biarpun rasanya nano nano, inilah negara kita, tempat kita numpang lahir dan menjalani hidup.
Jika inginkan perubahan, mari kita usahakan, jangan cuma nyinyir aja ya..

Jangan menutup diri, please, kita ini makhluk sosial. Pun jangan kurung anak spesial, dengan alasan apapun. Tentu ada masalah awal penyesuaian dengan sekitar, seperti diejek, dihina, dikucilkan. Tapi, coba anda ingat, ada gak sih, orang yang bertahan mengejek anda terus tanpa kenal lelah? Di kasusnya Moldy, banyak orang yang dulunya mengejek berubah jadi lebih baik, mendukung penuh. Bukan soal aku atau Moldy yang punya kekuatan dewa πŸ˜† Tapi karena kami terus melangkah, punya tujuan yang ingin diraih. Orang mengejek tujuan utamanya apa?

Segera cari bantuan. Teman, saudara, tetangga, siapapun; inilah saat pembuktian siapa yang benar-benar ada kapanpun untuk paket hidup kita, dan siapa yang cuma mau baiknya kita aja.
Sedih ya, kalau keluarga menolak :'(. Tapi itu bukan dead-end. Inshaallah masih banyak stok orang baik kok, selama kita berusaha mencarinya ;). Helen Keller itu dibantu Anne Sullivan, yang notabene orang lain, karena ortunya udah putus asa mesti gimana. Ada beberapa anak spesial juga yang malah dibantu sama saudara jauhnya, aktivis LSM, bahkan oleh orang yang bukan siapa-siapanya, karena nurani mereka tergerak untuk membantu total.

Belajar terbuka mengenai kespesialan Moldy pada semua orang yang kutemui, yang kepo kok bisa dan bagaimana; ya ragu-ragu juga sih 😳 Wajahku sering pias dengan senyum was-was, saat bercerita. Takut diturunin dari angkot, takut dihindari karena dianggap menular, takut diejek karena dianggap tak bisa mendidik dan mengasuh anak 😭
Time flies, even when you don’t make any step at all.
Ternyata, jumlah orang baik jauh lebih banyak daripada orang yang nggregetno ;). Ketakutanku tadi mungkin ada dan bisa terjadi, tapi dengan sering bertemu orang baru, membuat kami tahu bagaimana bersikap, menyesuaikan lawan bicara.

Bergabunglah di komunitas dengan kespesialan yang sama, biar ada yang mengingatkan, menyemangati. Bukan perut aja yang butuh makan, otak juga butuh asupan gizi yak πŸ˜‰ Jangan remehkan pertemuan rutin yang kadang isinya ulangan dari pertemuan beberapa bulan lalu. Seperti begini, apakah cukup mengenyangkan, nasi yang kita makan sebulan lalu untuk stok nutrisi hari ini? πŸ˜‰

Berhentilah menyangkal, berharap anak baik-baik saja tanpa intervensi apapun. Kasihan anak kalau tidak diterima paketnya yang unik. Semisal nekat menyekolahkan anak ke sekolah umum, padahal anak belum nyaman dan belum sanggup. Tak mudah memang, mengakui dan mengatakan pada semua orang, ‘iya anakku sekolah di SLB’ πŸ˜•
Tak bisa kan menyamakan persepsi semua orang, tapi ingat lagi apa tujuan anda. Demi kebaikan anak atau kebaikan ortu?
Sebenarnya anda berhak menyangkal kok, asalkan ada indikator yang jelas dan dasar referensi yang berimbang.
Moldy sempat dikira ADHD juga, jadi tuna ganda begitu. Aku segera cari tahu apa ciri-cirinya, apakah sesuai, sekaligus tindakan apa yang harus diambil.

Percayalah Allah itu ada dan mendengar semua permohonan dan keluhan, lalu mencukupkan langkahNya sesuai dengan kebutuhan kita. Ada sebuah koneksi yang tak bisa diterjemahkan dengan bahasa apapun, selain dengan bahasa kalbu antara anda dan Dia. Tempat kita merayu tanpa harus merasa malu ☺

Beberapa ortu mengakui bahwa memiliki anak spesial adalah sebuah tamparan pada mereka, mengingatkan supaya tak terlalu sombong. Cobaan jangan selalu dilihat dari sisi musibah, tapi itulah cara Allah memanggil dan menyayangi kita, yang (mungkin) selama ini menjauh ☺

Bersyukurlah pada setiap perubahan dan kemajuan kecil, lalu pasang target baru lagi. Percayalah, target yang pernah kusematkan dalam hati, malah dinaikkan sama Allah ☺. Jangan ragu pasang target tinggi, usahakan, serta selalu dampingi dengan syukur dan doa.

So, dear special parents, been ready for the next challenge?

☺☺☺

Gambar dari sini
Gambar kedua dari sini

Advertisements

4 thoughts on “Why Me Lord (2): Parents Support

  1. Tulisannya bagus Mbak. πŸ˜ƒ Bagi saya menyentuh dan usaha Mbak untuk menyampaikan perasaan tahun awal mengetahui Mondy gangguan pendengaran dapat saya maknai.

    Huun Mbak, yang belum ada memang parenting support untuk tiap-tiap Kota/Kabupaten. Saya absen terus parenting support area Semarang. (Maaf ya teman-teman, hari Minggu toko saya sedang ramai). Pun datang, saya memang hanya bagian pendengar setia. Hehe…

    Untuk bagian campaign, saya sudah coba juga. Sekarang menjadi lebih terbuka dengan orang. Yang tidak tahu, atau tidak ingin tahu ya saya biarkan; yang kepo saya kasih penjelasan; yang ngasihani saya tolak baik-baik. Sudah rejeki, harus maju.

    Alhamdulillah dari keluarga besar keluarga saya dan istri, semua mendukung penuh segala keputusan kami dalam pendidikan Alkhalify. Beliau-Beliau, Mas-Mbak semua tidak ada yang mundur, kami maju bersama mendukung perkembangan si kecil.

    Btw, sudut pandang Mbak dan saya agak berbeda dengan how to express what new-special-parents needs to do first. Tulisan saya lebih kaya semacam guideline. Mungkin karena gender saya dan Mbak berbeda ya? Kaum lelaki lebih suka menerjemahkan itu langkah demi langkah, silakan bisa mampir ke blog saya: https://mokhammadsyarifuddin.wordpress.com/2017/08/14/pertanyaan-orangtua-tentang-anak-gangguan-dengar/

    Terimakasih tulisannya. Salam hangat dari adik Alkha, Kudus, Jateng.

    Like

    1. Terima kasih kembali atas kunjungan dan komentarnya, pak ☺
      Mengenai how to express yang berbeda, saya memang sengaja menulis yg sekiranya jarang ditulis orang. Soal gender kurleb begitulah, ayahnya Moldy pun mikirnya dulu itu juga simpel, ya udah pake alat bantu aja, ngapain pake kamu panik segala. Hehehe…
      Apapun perbedaan itu, tapi tugas kita sama, memberikan dan memperjuangkan hak anak supaya setara sebagai manusia dan warga negara Indonesia.
      Salam semangat buat adek Alkha.

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s