Pergi

“Bu…” sapa pak dokter sambil tersenyum simpati.

“Sudah tidak ada janinnya,” lanjutnya.

Saya linglung sejenak, bertanya standar, lalu terpaku melihat tulisan obat yang diresepkan. Pak dokter masih tersenyum dengan ekspresi sama.

“Saya belum resepkan pembersih rahim. Minum vitamin aja, tunggu sampai 40 hari, baru boleh hamil lagi,” pesannya.

😭😭😭

Menuju dua bulan, calon anak ketiga pamit, belum diridhoi untuk membersamai kami. Sedih, iya, lebih karena ingat pada ekspresi Moldy dan Shena yang sangat menunggu kehadiran seseorang baru yang akan meramaikan rumah kami 😥

Entah bagaimana perasaan Jemi. Mungkin sedih, mungkin lega. Dia awalnya tak mau ada bayi lagi, repooot. Jemi kan bapak siaga, jadi dia ikutan mikir semua muanya sampai juga memutuskan tak ada anak lagi. Tapi karena kami bertiga ngeyel terus, terjadilah mediasi natural. Kedua kubu keinginan terpenuhi.

“Aku tak mau punya adik lagi,” protes Shena begitu tahu kabar buruk ini.

“Kenapa?”

“Nanti ada trus pergi lagi, gak usah lagi kalau gitu.”

:'(:'(:'(

***

Saya benci keguguran, pengguguran, atau apalah itu yang berhubungan dengan ketidaklangsungan hidup bayi. Selalu ikut terbawa tangis melihat atau mendengar cerita bayi mati karena aborsi, tak tega melihatnya. Saya bukan Allah yang bisa menghidupkan dan mematikan begitu saja dengan kun fayakun. Pun tak tahu alasan apa di balik semua itu, sampai kemudian saya mengalaminya sendiri 😑
Andaikata rahim bisa dipinjamkan, saya akan membolehkannya diisi bayi yang tak dimaui orang tuanya. Tentunya aneh dan mustahil, semua kejadian sudah memiliki wilayah kodratnya masing-masing ☺ Pertemuan sperma dan ovum, meski belum sepenuhnya menjadi janin, sudah memiliki hak hidup. Kaidah agama dan kedokteran menyepakatinya. Seandainya pun harus digugurkan, harus ada sejumlah alasan penguat kenapa hak hidupnya dirampas. Itupun sudah diatur secara medis, silakan digoogling sendiri atau ditanyakan pada dokter kandungan 😉

Melihat ibu yang hamil besar, ibu menyusui bayi yang baru berusia beberapa hari, ibu yang membawa anak mungil dan lugu kesana kemari; hiks, seneng ya… Betapa bahagianya punya bayi 😍 Rindu sekali akan masa-masa carut marut itu. Kepayahan yang menostalgiakan, menorehkan bayangan rasa yang semarak. Menjadi ibu adalah pekerjaan yang melibatkan seluruh sendi tubuh, sepanjang saat kita menginginkannya.


Dua kali sudah, saya menjalani masa itu, sebagian waktu dihabiskan dengan ‘tidak sadar’, tidak paham dengan apa yang harus dilakukan, semuanya alamiah, anugerah naluri yang bahkan tak diajarkan di perguruan tinggi manapun. Ingin mengulanginya sekali lagi, dengan penuh pemahaman, impian, dan juga persiapan untuk menikmati momen-momen kebersyukuran dan kodrat yang nikmat ☺

Buku Hypnobirthing karya Marie F. Mongan baru akan saya baca ulang dan itu sudah cukup membuat saya melayang ke dalam atmosfir rileks yang begitu nyaman. Malamnya saya bermimpi, seorang bayi laki-laki yang lincah dan sehat sudah keluar begitu saja dari lubang peranakan, tak ada sakit sama sekali. Bunga tidur begitu indah yang malah berarti sebaliknya 😕

Ternyata saya, kami, belum sepenuhnya mampu, sehingga belum dipercaya untuk memilikinya lagi. Sebab apapun berupa kelelahan, ketidakstabilan hormon, stress, penyakit, obat, ketidaksepakatan pasangan, dan sebagainya; hanyalah penari latar. Mereka menyajikan atraksi yang sanggup dimaknai, demi memberikan persepsi dan asumsi logis mengenai kenapa si janin bermasalah atau belum mau menempel pada sang ibu. Namun, Allah yang lebih tahu kemampuan dan kelayakan yang akan dititipi makhlukNya. 

Manusia berusaha, Allah yang menentukan 😥

***

Moldy mengelus perut saya, rutinitasnya dalam beberapa bulan ini, lalu mengandaikan bahwa sebentar lagi perut itu akan sebesar ibu hamil yang ada di gambar-gambar Aduh, agak nyesek… 😥

Sebentar kemudian, kami melewatkan sore itu dengan ‘baku hantam’, yang kesekian kalinya, karena dia melanggar aturan nonton TV 😅 Pasti susah sekali membawa perut dan bersabar diri demi menertibkan Moldy. Hmm, bisa jadi bagian ini ya, Allah memberi saya kesempatan lebih banyak untuk bisa mengasuh Moldy sebaik-baiknya.

Seperti yang diingatkan oleh Al Baqarah, bahwa manusia akan diberikan cobaan sesuai kemampuannya. Apa yang nampaknya buruk bisa jadi yang terbaik buat kita, hanya waktulah yang menyanggupkan kita memaknainya. Rahasia langit tak menggunakan bahasa manusia ☺

Kata orang-orang, calon anak yang belum jadi adalah tabungan orang tua di surga. Semoga, amin, inshaallah…

Gambar bayi tidur

–>

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s