Bukan Ujian, Bukan Malapetaka

Terkadang, masih terngiang di telinga, sematan pada kami, tentang kok bisa kami mendapat Moldy yang tuna rungu. Sebenarnya kasak kusuk itu wajar ya, karena negara kita masih erat mistis. Semua-mua dikaitkan dengan sebab akibat, terutama sikap orang tua yang begini begitu sehingga menghasilkan anak yang ini itu.

Saat itu, iya, saya emosional, apalagi mencari dalil yang berkesesuaian juga tak ketemu. Di Alquran dikatakan soal bisu tuli itu dalan konotasi yang begitu buruk, meski keburukan itu ternyata berhubungan dengan iman dan taat kepada Allah dan rasul. Saya merasa tak adil, karena orang yang jauh lebih jahat (menurut saya), masih lebih banyak. Yang menipu, membunuh, suka mengumpat, dan macam macam banyak sekali dan anak mereka baik-baik saja 😯
Fa inna ma’al ushri yushro.

Di balik kesulitan ada kemudahan.

Setelah sekian lama, alhamdulillah ada kelindan jawaban yang bisa saya maklumi dengan hati yang tenang. Inshaallah ☺

Pada gempa Aceh beberapa waktu lalu, Tompi diwawancarai dan mengatakan bahwa, “Agama kami percaya bahwa tak ada kebetulan di muka bumi ini.”

Andre Wongso, seorang motivator non muslim, pun mengatakan demikian, “Tak ada kebetulan. Semua terjadi karena doa dan kerja keras kita.”

Suatu saat, seorang teman mengirimkan link berita tentang Dewi Yull. Penyanyi yang bersuara merdu, memiliki dua anak tuna rungu dari tiga anaknya.

“Saya penyanyi dan sudah berkeliling ke seluruh Indonesia dan orang mengakui keindahan suara saya. Tapi anak saya sendiri tak pernah tahu seperti apa suara saya. Itu pelajaran bahwa saya tak boleh sombong.”

Ada sebuah ayat yang menyatakan bahwa ada orang yang mempunyai kenyamanan dan kenikmatan di dunia, dibiarkan begitu tanpa cela. Tapi ada pula yang memang diberikan cobaan.

Saya melihat lagi, bahwa di Al Baqarah 286, cobaan disesuaikan dengan kemampuan. 

Dengan legowo, saya (kami) pun merasa ada sesuatu dari saya yang perlu dikoreksi dan Allah segera memberikan kesempatan untuk mengoreksinya. Saya tak pernah tahu di mana salah saya, tapi setidaknya saya punya banyak kesempatan untuk menebusnya saat ini. 

Semua kejadian selalu memiliki dua sisi mata uang, baik dan buruk. Kita mau fokus pada yang mana. Anggaplah sekarang kita kelas 6 SD. Supaya bisa menjalani SMP, kita harus mengerjakan ujian nasional. Caranya belajar dan berdoa. 

Moldy sibuk ‘membaca’

Ujian ini mengharuskan saya belajar, namun lebih banyak yang harus saya pelajari daripada orang tua dengan anak normal. Saya harus belajar memahami emosinya yang kurang stabil, cara komunikasinya, menghargai setiap inchi ide dan kemajuannya, beradaptasi dengan ejekan dan pengucilan, tantangan untuk menonjolkan kelebihan dan meminimalisir kekurangan, hingga menerima paket bahwa ada bagian ‘paten’ dari Allah yang tidak bisa saya ubah ☺
Jika saya menganggapnya malapetaka, maka saya akan menyembunyikannya dari peradaban dan keramaian, memarahinya karena berbeda dan membuat saya tidak keren. Ah sudah, saya malas menuliskannya. Sungguh, saya merasa cukup keren memiliki anak spesial, hehehe…

Memiliki anak spesial, buat saya, bukan lagi ujian atau malapetaka, tapi sebuah jalan terjal dan mendaki menuju pemandangan yang indah. Ibu tahu kan, bahwa kata-kata adalah doa. Doa ibu yang selalu diijabah. Tak ada mimpi yang tak mungkin saat seorang ibu mengangkat tangannya lalu mendoakan anak-anak setulus hatinya ☺

Alhamdulillah, telah dipilih untuk menjadi pembelajar kehidupan di bagian kebutuhan khusus. Semoga bisa dijalani dengan sebaik dan semaksimal mungkin. Amin.

✊✊✊

Gambar dari sini

Quote dari gracemelia

–>

Advertisements

One thought on “Bukan Ujian, Bukan Malapetaka

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s