Bully Yang Termaafkan

Bully itu semacam resiko yang agak besar, yang mau tak mau ‘harus’ diterima oleh Moldy. Bubun yang jadi berasa agak sesak πŸ˜₯ Anak normal yang lemah aja bisa ditindas, apalagi anak yang berkebutuhan khusus, huaaa…

Waktu Moldy belum sibuk sekolah dulu, saya beberapa kali dapat laporan, bahwa dia dikeroyok oleh anak-anak kelas 1 SD, dipelorotin celananya, didorong-dorong bersamaan. Seorang ibu tetangga membantu membubarkan bully lalu bercerita kepada saya dengan hati-hati 😯

Sebelnya, mereka yang membully itu Esteban dan teman-temannya. Esteban, yang sering main ke rumah, minta jajan dan minum, minta diceritain dongeng dari A sampai Z, buka tutup kulkas, lompat-lompat di kasur. Saat Moldy yang tak sengaja bikin anak lain terluka, dia juga yang paling antusias melapor pada saya. Astaghfirullah nak, semoga jalanmu segera membenar ☺

Sepulang dari ‘acara pengeroyokan’ itu, dia menyerahkan alat yang terlepas dari telinganya pada saya. Sepertinya habis jatuh atau ditarik-tarik anak lain. Wajahnya memohon-mohon supaya saya tidak marah. Sungguh, saat itu saya tak tahu harus marah kepada siapa πŸ˜•

Di hari lain, ada laporan lain, kalau Bima suka mukulin Moldy saat tak ada siapa-siapa. Ini sudah lama dan sering sih, saya pernah tahu sendiri juga. Tapi, Bima yang selalu lapor bahwa Moldy yang bikin gara-gara. Moldy cuek aja. Kalau bisa, bales. Kalau tak bisa, marah-marah, hehehe…

“Siapa yang mukul duluan?” tanya saya, berusaha adil.

“Aku,” jawab si Bima polos 😈

Hihihi, agak lucu juga sih. Sebel-sebel gimanaa gitu ya. Kalau anak tak dibelain, kasihan dia belum bisa ngomong, belum bisa teriak atau melapor kalau dibully. Tapi kalau belain dia terus, jadinya kolokan, tak mau repot berusaha sendiri.

Pengen sih, berbaik sangka, bahwa semua anak-anak melewati masa perploncoan natural kayak gitu, tapi susah amat yak 😴

“Ngapain Yayah ga teriak atau peringatin Bima baik-baik?” protesku, waktu Jemi lapor bahwa dia tahu sendiri Moldy dipukulin. Yeee, lu kata pria nyelesaiin masalah kayak wanita.

“Biarin, kita kurangi aja intensitas mainnya sama Bima,” tukasnya berusaha menahan diri.

“Ga boleh main bareng gitu?” tanya saya agak bingung.

Kalau dipikir-pikir, anak-anak berperilaku buruk, antara lain suka membully, bisa jadi karena faktor keluarga atau karena mereka sedang berproses menuju lebih baik. (Coba) Berbaik sangkalah pada anak-anak πŸ˜‰

Sikap dan perilaku anak-anak, terutama di bawah tujuh tahun, masih suka berubah-ubah. Lalu seperti apa orang tua yang membimbingnya? Seperti apa efek dan peran serta lingkungan dalam tumbuh kembangnya? Seperti apa model pendidikan persekolahan yang mengikat kesehariannya?

Sungguh mengenaskan, jika kita cuma bisa sakit hati soal anak sendiri yang terluka, tanpa berusaha mencari pokok pangkal permasalahannya. Tak selalu anak sendiri yang paling benar, siapa tahu dia mendapat tindakan balasan dan kita hanya tahu hasil akhirnya. Huh, menempuh dan mendalami ilmu mendengar itu memang amat susah 😴

Gambar dari sini

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s