Molitik Embuh

Waktu masih SMU dulu, Bapa selalu meminta saya membacakan berita politik di koran yang tulisan cetaknya terlalu kecil buat beliau. Setelah saya kuliah di fakultas politik dan bekerja di beberapa bidang yang berhubungan dengan banyak orang, kami makin sering bertukar opini politik.

Bapa seorang nasionalis sejati, sempat mencak-mencak waktu saya pernah bilang mau meneliti soal komunis. 

“Komunis itu anti tuhan, tidak beragama,” sergah Bapa.

“Lalu apa bedanya dengan atheis?” Tanya saya.

Bapa tidak menjawab, lalu saya cari sendiri jawaban itu kemudian. Saat saya bisa bebas berkelana dengan pilihan ideologi ke kanan atau ke kiri, saya tak lagi mendiskusikannya dengan Bapa. Pilihan yang sangat individual dan saya belum punya cukup bahan untuk menjelaskan pada beliau. Kini, sesudah punya bahan cukup banyak untuk diskusi, saya malah njiper, dengan kecenderungan kita dalam memaksakan kebenaran pandangannya. Kalaupun saya koreksi pendapat dan mengakui kesalahan, itu tetap cacat, tetap akan dihujat. Hahaha, repot sekali bukan 😕

Rumah saya jadi semakin ‘rusuh’ ketika Pilpres diperkaya sumber daring, yang memudahkan orang melemparkan isu apapun demi memperkuat calon yang didukungnya. Itu bikin eneg sekali. Seeneg membaca linimasa twitter yang isinya buzzer, jualan melulu 😩

Bapa memperkirakan, saya mendukung si capres itu, dari melihat cara saya berdiskusi dengan beliau. Waktu itu kali pertama saya nyoblos, sebelumnya selalu mangkir, meski sering diingatkan bahwa satu suara sangat berguna. Halah, tidak memilih kan juga hak saya. Berhubung saya jengkel (terpengaruh sekali dengan linimasa yang begitu emosional) tur bingung, saya nyoblos sambil merem. Lalu yaaah, keputusan reaktif itu saya sesali. Lebih nyaman jadi golput 😆

Jadi bisa ditebak kan, kalau lagi nggosipin Pilkada Jakarta, siapa yang bakal dicoblos Bapa seandainya beliau orang Jakarta 😁 Bahkan Bapa memperkuat opininya dengan menceritakan sejarah perubahan Piagam Djakarta yang menjadi cikal bakal Pancasila. Bahwa para ulama sepakat untuk menghilangkan ‘…syariat Islam’ yang menjadikan Pancasila makin nasionalis.

Sesekali kami hampir berdebat demi mempertahankan pihak masing-masing, dan saya yang berinisiatif berhenti.

“Kali ini kita tak sejalan, Pa. Jangan dipaksakan daripada gelud,” karena sudah hampir saya tersulut emosi berbunyi ‘yang bener bukan kayak gituuu…’ 😄

Bapa masih nggerundel sebenarnya, saya juga, tapi saya emoh berkurang kewarasan hanya karena pandangan politik yang berbeda. Saya pilih meninggalkan arena atau mengalihkan pembicaraan.

Untunglah Bapa hanya sedikit tahu soal berita yang bertebaran di internet, masih suka menyimak TVRI untuk semua jenis berita 😉 Saat pulang ke rumah untuk bertukar cerita seperti biasa, berita yang saya ambil pun sudah terseleksi secara personal. Saya menjaga profesionalisme seorang golput, halah, dengan menyampaikan berita dari kedua belah pihak. Jangan sampai kelihatan terlalu ke kanan atau terlalu ke kiri. Sementara Bapa tetap berapi-api menyampaikan pilihan dan opininya, pun berusaha mencari pembenaran saat saya sampaikan survei beberapa lembaga independen tentang pilkada, misalnya ☺

Saya pengen ya, kita gontok-gontokan tentang pilihan politik masing-masing, paparan kebenaran yang paling akurat, opini menusuk yang paling dahsyat, tapi habis itu udah. Di luar urusan politik, tetap berteman baik seperti biasa, seolah tak terjadi apa-apa. Hahaha, taruhan ini tak bakalan bisa. Udah bagus kondisi mencapai skor 1-1. Coba kalau 2-0, siap-siap yuk bikin ruang bawah tanah 😄

Dalam agama sendiri, perbedaan itu sunatullah, tak semuanya harus dipaksakan sama dalam koridor Islam. Rasulullah sudah meramalkan bahwa ada 70an golongan dalam Islam dan masing-masing darinya adalah saling melengkapi ☺ Nyatanya, semua yang berbeda dengan suatu golongan memiliki potensi mendapat sematan kafir. Ini PR pendidikan ya, bagaimana kita bisa menghargai pilihan orang lain (apapun) tanpa harus mengorbankan hubungan baik dengan yang bersangkutan.

Mengutip sedikit dari Cak Nun di buku Markesot Bertutur, ‘Kapan kita move on dari urusan perut dan selang******?’ 😕 Ayah Edy yang suka menyindir dari berbagi pose tentang betapa buruknya sistem pendidikan kita, pernah menuliskan hal yang sama. Saat bencana alam, yang dibingungkan murid dari Thailand dan Vietnam adalah mereka tak bisa sekolah. Sementara murid dari Indonesia bingung tentang tak bisa makan. Ini kan ironis sekali, dengan bumi Indonesia yang gemah ripah loh jinawi, sampai dijajah berkali-kali, tetap tegak berdiri dengan kekayaan yang cukup banyak untuk bisa dikorup, eh…

Urusan politik kita masih sulit dewasa jika kita tak membenahi urusan dasar tadi. Rakyat yang makmur akan menjadi iklim yang sehat. Berhubung aparatnya masih banyak yang korup, ya itu masih mustahil dalam beberapa tahun nanti. Inggris sendiri memberantas korupsi butuh waktu ratusan tahun. China melakukan kebijakan ekstrim dengan memberikan hukuman mati kepada para koruptor. Di sini, awak KPK sering jadi target para begejil yang rencana korupnya terhalangi atau akan terbongkar. Kebijakan hukuman mati bagi pengedar narkoba, diprotes banyak kalangan. Tak ada keputusan yang bisa menyenangkan semua pihak. Tinggal ditimbang aja, mudharat dan manfaat jangka panjangnya, banyak mana. 

Aduh embuh, jadi ikutan mumet aja ngomongin beginian. Saya tak muluk-muluk buat target pribadi, benahi keluarga dulu aja, itu kan pertanggungjawaban dunia akhirat. Molitik memang enggak asyik karena belum sepenuhnya sehat, seringkali melibatkan hal di luar struktur demi pemenangan. Yah gitulah, molitik embuh aja…

Gambar manusia kayu

Gambar demo

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s