Kekuranganmu Adalah…

“Kekuranganmu adalah…” koreksi si ibu pelatih kepada anak didiknya yang baru saja bersusah payah berdeklamasi, di sebuah pojok di sekitar Taman Flora.

Saya buru-buru mlipir menjauh, ketidaksengajaan nguping yang tak mau saya lanjutkan. Emoh, ikut kasihan si mbak yang sudah berusaha keras tapi masih dicari salahnya juga. Huh, kapan majunya kalau dikoreksi terus, bukannya dipuji biar semangat. Mahal amat yah, pujiannya… 😯

Sesekali coba anda nonton America’s Got Talent lalu disambung dengan Indonesia’s Got Talent. Bedanya jelas. Juri di AGT berusaha melihat sisi positif dari tiap peserta, ekspresif saat menyatakan kekaguman, minta maaf saat peserta tak bisa lolos lalu menyarankan peruntungan di tempat lain. Juri di IGT dan acara talenta lain, seneng banget yak, kalau suruh menelanjangi bobroknya orang. Memangnya kalau dikasi tahu kurangnya, dia bakal berusaha lebih baik, gak ngedrop? ๐Ÿ˜•

Ini video yang di share seorang teman yang bener banget. Tentang bagaimana kebanyakan dari kita selalu melihat bagian negatif dari semua hal ๐Ÿ˜ฅ

Kalau anda masih suka mengoreksi kekurangan anak dan berharap dia sempurna sesuai standar anda atau umum, tentunya kita tak bakal sepakat.

โ˜บโ˜บ

Semisal soal ujiannya sepuluh, ternyata anak dapat nilai 30, dianjurkan untuk melihat bahwa dia sanggup mengerjakan sampai tiga. Yeaayy, hebaaat kamu, bisa mengerjakan sampai tiga 👍👍

Anda gimana?

“Bu, anak ibu (Moldy) itu sayangnya tak bisa dikasi tahu, masih semaunya sendiri. Coba dia manut, pasti sudah bisa ikut turnamen,” kata si bapak pelatih menyayangkan. 

Hihihi, saya meringis maklum, kan saya sudah woro-woro dari awal. Ya pak, itu juga masalah saya, tapi sudah mulai berdamai, alhamdulillah..

“Dia sudah bisa aja, sudah bagus pak. Wes ndak apa kalau belum bisa sekarang, pelan-pelan semampunya dia,” tukas saya.

Hampir tiap kali les berenang, si bapak mengungkapkan perkara yang sama dan saya selalu menjawab sama. Lha piye, kasihan anak-anak kalau dipaksakan menuruti ambisi orang tuanya. Dia mampu menuruti, alhamdulillah. Dia tak mampu menuruti, astaghfirullah, semoga tak sampai sakit hati atau trauma ya…

Dibilang tak punya harapan, bukan begitu dong ๐Ÿ™‚ Semua ibu pasti berharap yang terbaik buat anaknya, caranya aja yang berbeda. Selama saya mengajar beberapa waktu lalu dengan berusaha ‘tutup mata pada kekurangan dan fokus pada kelebihan’, ternyata malah memiliki hasil positif pada anak-anak. Mereka merasa lebih berharga dan merasa bahagia โ˜บ Sebagian malah berwujud nyata berupa prestasi (nilai) meningkat dan semangat belajar yang membaik. 

Kita semua kan ingin anak-anak lebih baik? Harus dikoreksi dong kalau salah. Emm, saya kok kurang sepakat dengan pendapat itu. Alasannya begini:

🎀 Standar antara ibu dan anak, ibu dan pelatih, guru dan tentor, mana ada yang sama persis. Gimana cara menyamakan, sementara latar belakang pendidikan, karakter, serta pengalaman; tak ada yang sama persis? Daripada pusing memenuhi standar sana-sini yang tak ketemuan, bukannya lebih baik memantapkan karakter anak, sehingga dia tahu bagaimana cara menghadapi masalah dan beradaptasi dengan berbagai kondisi, yang tak didasarkan pada hafalan pelajaran semata ๐Ÿ˜‰

🎀 Anak bukan kertas kosong yang manut apapun yang dimaui orang tuanya. Mereka kan juga memiliki karakter unik dan kelebihan yang layak dikembangkan, yang bisa jadi malah bukan bidang ortunya sama sekali. Semisal, empat anak yang dididik oleh orang tua yang sama, apakah akan menghasilkan anak yang sama dalam segala hal? โ˜บ

🎀 Penghargaan terhadap pencapaian akan menciptakan kebahagiaan. Kebahagiaan bisa menciptakan prestasi. Kalau pun prestasi tak dicapai, paling tidak kita sudah cukup bahagia melakukan apa yang kita sukai. Menyukai adalah mengekspresikan perasaan, dan itu bisa berimbas pada kesehatan mental โ˜บ

Beberapa waktu lalu Shena baru aja menang juara pertama lomba sholat subuh. Dengan bacaan sholat saya yang perlu dibenahi, hafalan kayak sepur tanpa paham arti, saya tak berharap banyak. Tapi dia pengen banget bisa menang. Saya dan Jemi mengingatkan terus, bahwa menang tak menang tak masalah. Ini semua supaya sholatnya lebih baik. Itu aja โ˜บ

Meski, teteep dong, dalam hati saya berharap, dapat peringkat ketiga aja gapapa lah. Hehehe, tapi saya tak mengucapkannya, takut dia terbebani. Lha kok juara pertama, alhamdulillah, nambah koleksi piala di rumah yang baru seumur balita, hihihi… 😁

Tugas orang tua mengarahkan dan memberinya semangat, bukan mengcopas ambisi pribadi kepada anak. Dengan latar belakang pribadi serta lingkungan yang cenderung berkomentar negatif, tak mudah ya bersikap memaklumi apa adanya kondisi anak masing-masing. Selalu ada bayangan kegagalan dan cemooh orang, yang memang tak pernah henti. Hahaha, masa menuruti semua kemauan orang. Belum tentu jadi bagus, serba salah dan kebingungan sudah pasti ๐Ÿ˜• 

Yang dewasa aja, yang berusaha mengubah sikap, supaya inshaallah anak juga bisa lebih baik sesuai sikap dan teladan orang tua โ˜บ

Saatnya berhenti menghakimi, berhenti mencari kesalahan.

Saatnya memaklumi keunikan dan menghargai setiap detail pencapaian. 

Ya? :):)

Gambar kacamata

Gambar pria

Advertisements

5 thoughts on “Kekuranganmu Adalah…

  1. Wallahualam sih, tapi saya pernah gitu ngobrol dengan teman…dan pelatihnya. Jadi kalau dalam konsep si pelatih, selama masih masa latihan, pasti dicariiii mulu kesalahannya. Pokoknya gimana caranya ada kesalahan yang harus dikoreksi.

    Tapi begitu selesai lomba, apapun hasilnya, gimanapun tadi performance nya, pasti dipuji; bagus! Sudah menampilkan yang terbaik.

    Saya lihat baiknya dari sikap si pelatih aja sih. Ya semoga ada relevansi dengan tulisan di atas heheh. Saya juga setuju, kalau baik banget kalau mendulukan hal positif, kemudian pelan-pelan diberitahu kekurangannya.

    Atau mungkin kalau dalam konsep lomba2 gitu beda ya hehe.

    Cheers!

    Like

    1. Wow, pelatihnya keren kalo bisa gitu, mbak โ˜บ
      Pada akhirnya tergantung kekuatan mental masing2 sih ya. Saya melihat secara umum sikap anak yg banyak dicari salahnya dgn anak yg terus disemangati kelebihannya. Yg dicari salahnya terus, bisa melakukan yg sama pada orang lain dan dirinya sendiri, drop.

      Kebetulan, saya udah pernah melakukan uji coba ini ke murid2 saya dan juga anak2 sendiri. Hasilnya ada perubahan positif.

      Soal kompetisi, nah itu, kan berhubungan target juga.

      Makasih kunjungan dan komentarnya yaaa ๐Ÿ˜‰

      Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s