Paham Dulu, Hafal Kemudian

Beberapa waktu lalu, seorang teman mengajukan diskusi mengenai ajakan menghafal Alquran di usia dini yang sedang in. Saya juga ingin dong, buat anak-anak saya. Apalagi manfaat Alquran sudah saya rasakan sendiri, dengan bergabung di ODOJ selama hampir tiga tahunan ini. Padahal hanya tilawah dan sedikit terjemah, bukan menghafal. Tapi saya juga sadar, ilmu yang cekak dan teladan diri yang amburadul, bikin maju mundur demi mencanangkan target buat anak-anak :mrgreen:

Qadarullah, teman lain memberitahukan tentang seminar tentang hafalan Alquran, pas dekat rumah. Alhamdulillah, bisa jadi tambahan visi dan misi ;).

Seperti biasa, seminar saya tuliskan berupa Q dan A, untuk memudahkan pemahaman dan mengurangi distraksi opini saya sendiri ya…

Siapa sajakah narasumbernya?

Achmad Fawwaz, lahir tahun 2006, kelas 4 SDIT Sari Bumi Sidoarjo, hafal 30 juz. Siti Masyita, tunanetra, lahir tahun 2008, kelas 3 SLB di Makassar, hafal 13 juz. Amir Faisol Fath, dosen, juri Hafidz Indonesia, penulis buku. 

Bagaimanakah cara mengajarkan anak hafal Alquran?

Aspek utama adalah perhatian orang tua. Orang tua membuat jadwal khusus yang rutin dalam kegiatan keseharian anak, namun jangan sampai dipaksakan. Tetap bisa sekolah dan bermain. 

Ibunya Fawwaz adalah dosen yang resign dari pekerjaannya, supaya bisa fokus pada pendidikan dan pengasuhan anak. Fawwaz mulai hafalan saat PG/TK, beberapa surat dihafalkan dari sekolah, baru kemudian dijadwalkan rutin oleh ibunya di rumah. 

Keluarganya Masyita, saat itu didampingi ayahnya, memulai hafalan Alquran sejak usia 5 tahun. Karena dia seorang tunanetra, orang tua membiasakannya dengan memperdengarkan murotal setiap hari, sehingga Masyita hafal dengan sendirinya. 

Pak Amir Faisol Fath menambahkan, bahwa Alquran bisa dikenalkan sambil bermain, mengerjakan pekerjaan rumah tangga, dan rutinitas biasa lainnya, sehingga anak paham tanpa merasa sedang belajar.

Apakah kunci sukses memelihara hafalan dan memaknai Alquran dalam kehidupan sehari-hari?

1. At tilawah: membacanya dengan benar, bisa dengan gerakan tangan demi memudahkan bacaan dan pemahaman.

2. Al hibdu: menghafalnya dengan hati, yaitu memahaminya artinya juga, bukan asal hafal.

3. Al fakur: menghafal dengan pikiran.

4. Al amal: mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari.

5. Ad dakwah: mengajak orang pada kebaikan, sesuai kandungan dan tafsir surat yang dipahami.  

Sejak kapan sebaiknya memulai hafalan Alquran?

Bahkan sejak sebelum menikah, direncanakan siapa pasangan yang sevisi misi. Diceritakan seorang wanita tak mau menikah dengan siapapun, kecuali dengan pria yang bercita-cita mengembalikan Baitul Maqdis untuk kaum muslimin. Sampai kemudian, mereka yang sevisi ini dipertemukan dan memiliki anak yang kelak menjadi ksatria yang memimpin perebutan Baitul Maqdis dalam Perang Salib, yaitu Shalahuddin Al Ayyubi. 

Bagi ibu hamil, bisa dengan tilawah rutin. Seorang ibu rutin mengulangi tilawah per juz sampai 5 kali, bukan menghafal ya. Ketika anaknya lahir, bisa hafal Alquran di usia 4.5 tahun.

Hafalan memang lebih baik dimulai saat masih anak, sesuai dengan kemampuan mereka yang menyerap pengetahuan seperti spons dan juga karena belum terbebaninya pikiran mereka dengan banyak masalah yang bisa menyebabkan hafalan terhambat. 

Apakah hafalan bisa hilang?

Ya. Lihat kembali urutan hafalan Alquran, bahwa menghafal dengan hati lebih didahulukan daripada pikiran. Jika sudah hafal, maka harus diamalkan dan disyiarkan supaya ilmu tidak hilang dan malah makin bertambah. 

Tantangan di masa kini lebih banyak ya, tak seperti jaman imam-imam di masa lampau. Tak ada tv, gawai, taman hiburan, dan sebagainya. Bahkan seorang anak yang telah hafal 30 juz, terdistraksi games di gawai, bisa kehilangan hafalan. 

Di masa lampau, seorang tabi’in mujahid bernama Abdah bin Abdurrahman murtad demi cintanya kepada wanita Romawi, yang mengakibatkan semua hafalannya hilang.

Bagaimanakah hafalan Alquran di Indonesia secara umum?

Alhamdulillah, mulai tumbuh banyak penghafal Alquran. Orang tua juga saling berlomba mengusahakan anak-anaknya agar hafal 30 juz, dengan banyak cara. Sayangnya, tujuannya belum ilahiah :?Beberapa universitas negeri menyediakan kursi bagi para mahasiswa penghafal Alquran, tanpa ujian saringan. Itulah yang menjadi motivasi besar orang tua yang menginginkan anaknya menjadi hafidz atau hafidzah. 

Kesimpulannya: ketahui, pahami dengan baik, baru kemudian hafalan akan mengikuti. Saya kira itu bisa berlaku untuk semua hal ☺. Ya?

Seminar Generasi Penghafal Alquran, Sidoarjo, 21 Mei 2017

Gambar hafidz

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

w

Connecting to %s