Menolong Ibu

Seorang wanita muda yang baru saja menikah, mengadu kepada ibunya perihal rumah tangganya, seraya terisak. Dia berharap sang ibu akan membelanya. Alih-alih memberikan persetujuan dan menghibur si anak, ibunya terdiam lalu beranjak pergi sejenak. Tak lama kemudian, si ibu menaruh di depan anaknya: telur, wortel, dan kopi ke dalam tiga mangkuk yang berbeda. Lalu si ibu menuangkan air mendidih ke dalam tiga mangkuk tadi.

“Ibaratkan masalahmu adalah air mendidih ini. Kamu tinggal memilih untuk menjadi keras kaku seperti telur, melunak lembek seperti wortel, atau menyatu harmonis hingga wangi semerbak seperti kopi.”

☺☺

Ibunya wow deh, padahal kalau Mamak saya, udah siap-siap singsingkan lengan baju membela anaknya 😁 Begitulah, harusnya disadari bersama bahwa curhat kepada ortu terutama ibu memang harus tarik ulur, mesti memilih mana yang perlu dan tak perlu. Sebagian besar ibu di Indonesia masih menganggap bahwa anak adalah kewajiban seumur hidupnya, meski sudah berumah tangga sekalipun. Sementara menurut agama, anak yang sudah akil baligh, sudah layak menanggung dosa dan kehidupannya sendiri.

Tak jauh beda dengan kisah awal, Eleanor Roosevelt, mengatakan bahwa wanita itu seperti kantong teh celup. Kita baru tahu seperti apakah dia, saat dituangi dengan air panas. Hiyaaa, kenapa air mendidih semua yak. Semacam penegasan bahwa wanita memang melewati masa sakit dan menderita lebih banyak daripada pria 😐

Wanita bisa menjadi rapuh dan begitu patuh, dengan sejumlah sayatan dan lebam di sekujur tubuh akibat ringan-tangannya si suami. Pun, wanita bisa menjadi makhluk yang begitu kejam tak kenal ampun jika sakit hati. Berat ringannya penderitaan itu relatif, karena tergantung pada sikap masing-masing ya. Seperti pesan Haruki Murakami, pain is inevitable, suffering is optional. Merasakan itu pilihan kok, tak sama rasanya buat semua orang.

Saat seorang wanita tertahbis menjadi ibu, dimulailah salah satu titik kulminasi perjuangan wanita. Sejuta jenis perasaan campur aduk di sana, pilihan sekaligus kewajiban untuk berbagi dengan selain dirinya tapi juga bagian dari dirinya. Ada yang berjuang dari baby blues ringan sampai depresi yang bisa berakhir dengan bunuh diri atau membunuh bayinya. Itu masih belum usai, jika kemudian dia mendapati realita bahwa anaknya berkebutuhan khusus 😐

Bukan berarti tidak mudah, bukan berarti harus dikasihani, bukan berarti harus dibiarkan meski wanita (tertakdir) kuat. Tapi harus dipahami oleh sesama wanita dan lingkungan, antara lain karena dari rahim ibulah, semesta ini menitipkan estafet generasi.

Salim A. Fillah mengatakan, wanita yang perasaannya bahagia, bisa mengerjakan beban pekerjaan 70 kali lebih berat daripada pria (mohon dicek kembali jika saya salah angka.) Seorang tukang tatoo juga mengakui bahwa wanita lebih kuat menahan sakit sekitar 6x lipat pertahanan pria. Pernah ada kan, beberapa pria mencoba bagaimana sakitnya kontraksi, dan ternyata mereka tak sanggup. Bayangkan jika wanita itu beranak 10 bahkan belasan atau puluhan, hehehe… Tak hanya pria, wanita masa kini pun sudah jarang yang memiliki anak sebanyak itu. Saya aja tak pernah mengejan, tapi mringis-mringis setelah merasakan sakitnya robekan ‘gergaji’ di perut yang bertahan nyeri hingga bertahun lamanya 😕

Logikanya seringkali terbolak balik ya. Saat seorang (calon) ibu mengalami fase baru dalam hidupnya, dia mengalami tekanan internal dan sosial yang cukup berat. Internal berkaitan dengan hormon, emosinya jadi tak stabil. Sosial berkaitan dengan lingkungan. Tahulah anda, rese-nya orang soal kenapa kok gak ASI, kenapa kok gak lairan normal, anak kok bisa kebutuhan khusus kamu dulu merawatnya gimana sih, suami selingkuh kamu kurang perawatan (diri), kurang perhatian, bla bla bla 😥 Sedihnya, yang rese itu bukan para bapak, eh malah para ibu yang kurang lebih menjalani hal yang sama. Naluri wanita ya, bersaing 😉

Ibu yang baru punya anak dan ibu yang baru mendapat anak spesial, adalah dua jenis ibu yang urgent mendapat pertolongan pertama pada kewarasan ☺

Konon, bayi yang baru lahir, dalam kondisi normal sebenarnya bisa bertahan tidak makan sampai tiga hari, menunggu saat si ibu pulih dan siap memberikan asupan nutrisi. Sejumlah dokter menegaskan bahwa dukungan suami dan ibu mertua bisa memperlancar ASI dan mengurangi ancaman depresi. Hmm, sesama wanita dengan hak kepemilikan atas seorang lelaki pada derajat yang berbeda, memiliki kecenderungan untuk cakar-cakaran 😀 ASI itu sifatnya lebih psikologis. Padahal kalau melihat karakter wanita, intinya bukan sekadar dukungan, tapi lebih pada perasaan wanita yang harus diperhatikan, supaya dia bisa memaksimalkan semua potensi yang dimilikinya.

Saat anak dikatakan kebutuhan khusus, lalu ibu menolak, itu wajar sekali. Siapa sih yang berharap demikian? Bukankah kita tahu bahwa anak adalah fitrah Allah, yang masih suci dan belum paham apa-apa, sementara ibu yang masih harus menata hati yang tak sesuai kenyataan. Di sini belum ada konseling khusus bagi ibu dengan anak spesial. Bukannya ibu dipuk puk biar tenang dulu lalu siap menghadapi kenyataan, eh malah ditawarin alat bantu yang harganya mencekik atau disalahkan atas pola asuh atau pola hidup yang kurang tepat. Saya yakin kok, menjadi ibu itu sudah sepaket naluri dan kasih sayangnya, jadi tak perlu banyak dikasi tau harus ngapain aja ☺

Wanita yang perasaannya bahagia bisa mengerjakan pekerjaan lebih banyak daripada yang bisa diukur oleh akal 😉 Padahal kalau dipikir masih gadis dulu, susah amat yak untuk bisa bangun malam kasi ASI, ganti popok, lalu agak gedean kita nemenin main, antar sekolah, begadang kalau anak sakit, menggendong seharian, belum termasuk kerjaan rumah yang siap antri tanpa henti jika kita tak punya khadimat 😯

Memang sih, ada sebagian kecil wanita yang tak peka urusan itu. Saya sendiri, sempat shocked, biasa kerja lalu di dalam rumah terus bau ompol dan bawang putih, siap mengusir drakula, hahaha… Bagaimanapun, naluri seorang ibu bekerja sesuai kesiapan dan kebutuhan.

Mikirnya juga baru sekarang, bahwa pernikahan itu butuh training juga, wanita harus banyak membaca dan mesti tahu banyak hal selain sinetron manakah yang bagus antara Venezuela, Indonesia, Turki, atau India 😄

Wanita harus saling menyemangati dan memahami, bahwa fase masing-masing berbeda. Seperti halnya kita mengenal kopi arabica, kopi gayo, kopi vietnam,… Juga teh hijau, teh putih, teh hitam,… Tak ada yang sama persis kan cita rasa dan seni cara penyeduhannya 😉

Bentuk solidaritas itu adalah saling mendengar dan berhenti menghakimi. Beruntung kalau suaminya mau menjadi pendengar yang setia dan pemanja yang baik, jadi ibu bisa sehat lahir batin. Jika suaminya kayak bapak-bapak kebanyakan yang sibuk fokus mencari nafkah untuk keluarga, segeralah cari teman terpercaya atau konsultasi pada ahlinya jika anda memiliki cukup dana ☺

Yuk…

Duhai ibu, semangat yaa…

💪💪💪

Gambar menolong

Advertisements

8 thoughts on “Menolong Ibu

  1. Ah bersyukur ditakdirkan menjadi seorang wanita dan akan jadi ibu. Sebentar lagi akan merasakan kontraksi, harus kuat. Kata orang…suami jg bisa ikut merasakan sakitnya mau melahirkan. Tapi kasihan ya…hihi. geli bayanginnya

    Like

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s